Foto: Vecteezy

Keutamaan Utsman bin Affan

Setelah Utsman bin Affan meninggal, Hasan duduk bersama orang-orang beriman, dan mereka terus membincangkan kebajikan Utsman. Hasan, merujuk pada ayahnya yaitu Ali bin Abi Thalib, berkata, “Pemimpin orang-orang beriman akan segera tiba.”

Ketika Ali tiba, dia mengumpulkan kembali pokok pembicaraan tentang Utsman, dan berkomentar: “Sesungguhnya , Utsman termasuk di antara orang-orang yang Allah berfirman: “Tidak berdosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan tentang apa yang telah mereka makan dahulu[29], apabila mereka bertakwa[30] dan beriman, serta mengerjakan kebajikan, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, selanjutnya mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [Al Qur’an (5:93)] [Hilyat-ul Awliya]

“Saya melihat Utsman bin Affan beristirahat di dalam masjid dan ia ditutupi selimut biasa, dia tidak dijaga oleh satu orang penjaga pribadi pun padahal dia adalah pemimpin orang-orang yang beriman. Ketika dia terbangun di pagi hari, bekas-bekas batu ada di sisi tubuhnya dan orang-orang mengatakan: ‘Ini adalah Amir ul-Mu’mineen’.” (Hassan bin Ali)

“Utsman mengalami kecemasan dengan kesabaran, dan dia melakukan perjalanan melalui kesengsaraan dengan rasa syukur kepada Tuhannya. Dia menyesap rasa pahit cobaan dan kesengsaraannya di dunia ini untuk menikmati kemanisan dan penghiburan yang abadi di akhirat.” (Imam Abu Na’im)

“Amirul Mukiminin Utsman ibn Affan ditanya, ‘Mana amal saleh yang terbaik yang terakhir?’ Dia menjawab, ‘La ilaha illallah, SubhanAllah, Al-HamduLillah, Allahu Akbar dan La hawla wa la quwwata illa billah hil-`Aliyil-`Azim.'”

Haani adalah budak yang dibebaskan oleh Utsman bin Affan (radiAllaahu anhu) berkata, “Kapan pun Utsman berhenti di sebuah kuburan, dia akan menangis sampai jenggotnya menjadi basah.”

Seseorang pernah bertanya padanya. “Engkau tidak menangis saat memikirkan Jannah dan Jahannam tapi menangis saat memikirkan makam?”

Dia menjawab, “Aku telah mendengar Rasulullah berkata, ‘Kuburan adalah tahap pertama dari banyak tahap akhirat (selanjutnya). Jika berhasil, tahap selanjutnya lebih mudah. Namun, jika tidak ada yang berhasil, tahap selanjutnya akan sangat sulit. Aku juga pernah mendengar Rasulullah bersabda bahwa dia tidak pernah melihat pemandangan yang lebih menakutkan daripada kuburan.”

Dalam riwayatnya, Haani menambahkan bahwa ia mendengar Utsman mengucapkan bait berikut ini tentang sebuah kuburan (yang berarti): “Jika engkau diselamatkan dari ini (hukuman di dalam kuburan), maka engkau diselamatkan dari sesuatu yang sangat besar

Jika tidak, maka aku tidak berpikir bahwa engkau akan diselamatkan (dari siksaan di masa depan).”

“Tidak ada yang menyembunyikan sesuatu di dalam hatinya, tapi Allah menyebabkannya terlihat di wajahnya atau tergelincir lidah.” – Utsman ibn Affan [Fara’id Al-Kalam li’l-Khulafa Al-Kiram (hlm. 269)]

Dikisahkan oleh Anas (raa): Utsman (radiAllaahu ‘anhu) memanggil Zaid bin Thabit (radiAllaahu’ anhu), Abdullah bin Az-Zubair (radiAllaahu ‘anhu), Said bin Al-‘As (radiAllaahu’ anhu) dan ‘AbdurRahman bin Al- Harith bin Hisham (radiAllaahu ‘anhu), dan kemudian mereka menulis manuskrip Al Qur’an dalam bentuk buku dalam beberapa eksemplar.

‘Utsman (radiAllaahu’ anhu) mengatakan kepada tiga orang Quraisy.

“Jika engkau berbeda dengan Zaid bin Thabit (radiAllaahu ‘anhu) pada setiap titik Quran, maka tulislah dalam bahasa Quraisy, seperti yang dinyatakan dalam bahasa Al Qur’an.”

Jadi mereka bertindak sesuai perintah itu. [Zaid bin Thabit (radiAllaahu ‘anhu) adalah seorang Ansari dan bukan dari Quraisy].

[Kebajikan dan Kemuliaan Nabi (sallAllaahu ‘alayhi wasallam) dan Sahabatnya – Sahih Bukhari: Jilid 4, Buku 56, Hadis no. 709]

“Tidak ada yang melakukan perbuatan baik tapi Allah akan menunjukkannya kepadanya.” – Utsman ibn Affan [Az-Zuhd oleh Imam Ahmad (hal. 185)

Ibnu Umar (radiallahu anhu) mengatakan tentang ayat tersebut: (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. 39:9)

Begitulah Utsman bin Affan.

Tafsir Ibnu Katsir (4/47).

 

About Admin 1

Check Also

Enam Pelajaran dari Dokter Hati

Karena saya termasuk makhluk bergerak, maka saya tidak peru menyibukkan hatiku dengan sesuatu yang telah dijamin oleh Dzat yang Maha Kuat dan Kokoh.

you're currently offline