Foto: Vecteezy

Nasihat-nasihat Bijak Umar bin Khattab

Umar bin Khaṭṭāb, lahir tahun 584 M  dan meninggal 3 November 644 M, adalah salah satu khalifah Muslim paling kuat dan berpengaruh dalam sejarah. Dia adalah sahabat Nabi Muhammad. Dia menggantikan Abu Bakar (632-634) sebagai khalifah kedua dalam jajarab Khulafaur Rashidin pada tanggal 23 Agustus 634.

Dia adalah seorang ahli hukum Muslim yang ahli yang dikenal karena sifatnya yang saleh dan adil, yang membuatnya mendapatkan julukan Al-Faruq (“orang yang membedakan (antara benar dan salah) “). Dia kadang-kadang disebut sebagai Umar I oleh sejarawan Islam tertentu, karena khalifah Umayyah kemudian, Umar II, juga memakai nama itu.

Berikut ini adalah kata-kata bijak dan nasihat dari Umar bin Khattab.

Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri menunjukkan kata-kata lemah lembut

Barangsiapa menempatkan dirinya di tempat yang menimbulkan persangkaan maka janganlah menyesal kalau orang menyangka buruk padanya

Hendaklah kalian menghisab diri kalian pada hari ini, karena hal itu akan meringankanmu di hari perhitungan. (Shifatush Shafwah, I/286)

Tidak ada artinya Islam tanpa jamaah dan tidak ada artinya jamaah tanpa pemimpin dan tidak ada artinya pemimpin tanpa ketaatan

Aku tidak pedulikan atas keadaan susah atau senangku kerana aku tidak tahu manakah diantara keduanya yang lebih baik dariku

Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar.

Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku.

Kalau sekiranya kesabaran dan syukur itu dua kendaraan, aku tak tahu mana yang harus aku kendarai. (Al Bayan wa At Tabyin III/ 126)

Kalau kita bermewah-mewah di dunia akan kurang ganjarannya di akhirat

Sesungguhnya kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka janganlah kita mencari kemuliaan dengan selainnya. (Ihya’ Ulumuddin 4/203)

Apabila engkau melihat orang yang berilmu mencintai dunia, maka curigailah ia mengenai agamanya, kerana orang yang mencintai sesuatu ia akan menyibukkan diri dengan apa yang dicintainya itu

Duduklah dengan orang-orang yang bertaubat, sesungguhnya mereka menjadikan segala sesuatu lebih berfaedah. (Tahfdzib Hilyatul Auliya I/71)

Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rizki yang lebih baik daripada sabar.

Barangsiapa takut kepada Allah SWT nescaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut pada Allah, tidak sia-sia apa yang dia kehendaki.

Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya. Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina. Orang yang mencintai akhirat, dunia pasti menyertainya.

Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.

Manusia yang berakal ialah manusia yang suka menerima dan meminta nasihat.

Didiklah anak-anakmu itu berlainan dengan keadaan kamu sekarang karena mereka telah dijadikan Tuhan untuk zaman yang bukan zaman engkau.

Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.

Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.

Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah Allah. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain Allah.

Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.

Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi ,dan penuh penyesalan.

Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya. []

About Admin 1

Check Also

Nabi Ibrahim Hanya Meninggikan Bangunan Kabah, Bukan Membuat Pondasi

Sebenarnya, yang dilakukan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS adalah meninggikan Ka'bah, karena fondasi Ka'bah telah ada sebelumnya.

you're currently offline