Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Lima Narasi soal Kegagahan Nabi

0

Tidak ada deskripsi manapun yang bisa menggambarkan Nabi. Dia adalah seorang pria yang gagah. Salah satu sahabatnya, Hassaan bin Tsaabit (semoga Allah meridhoinya) menggambarkannya dengan bait berikut:

Mataku tidak pernah melihat orang yang lebih sempurna daripadamu
Tidak ada wanita yang melahirkan siapa pun yang lebih tampan daripadamu
Engkau telah diciptakan bebas dari semua cacat
Seolah Anda diciptakan sesuai keinginan

Berikut adalah lima riwayat dari sahabat Nabi yang menggambarkan keelokan rupanya:

1. Seolah dilahirkan dengan warna perak

Abu Hurairah bersabda: “Rasulullah saw sangat bersih, jernih, gagah dan tampan, seolah tubuhnya tertutup dan dicetak dengan perak. Rambutnya sedikit ikal.”

2. Lebih indah daripada bulan purnama

Diriwayatkan oleh Jabir: “Aku pernah melihat utusan Allah pada malam bulan purnama. Pada malam itu dia mengenakan pakaian merah (bergaris). Pada saat itu, aku melihat bulan purnama dan terkadang pada diri Nabi. Akhirnya aku sampai pada kesimpulan bahwa utusan Allah lebih tampan, gagah dan lebih bercahaya daripada bulan purnama. ”

Related Posts

3. Sempurna dalam segala hal

Anas bin Malik bersabda: “Rasulullah (saw) tidak tinggi dan juga tidak pendek. Dalam kulitnya, dia tidak putih seperti kapur, atau sangat gelap, atau coklat yang berakibat pada kegelapan (dia tampak lebih bercahaya daripada bulan purnama pada malam ke-14).”

4. “Aku tidak pernah melihat orang lebih tampan daripada dia”

Baraa bin Aazib ra menceritakan: “Utusan Allah (saw) adalah seorang pria yang sedang tegap, (sedikit tinggi); Dia memiliki bahu yang lebar; Rambutnya tebal dan sampai ke telinganya; Dia mengenakan pakaian bergaris merah dan selendang. Aku tidak pernah melihat orang atau sesuatu yang lebih tampan daripada dia ”

5. ‘Seolah-olah Matahari bersinar dari wajahnya’

Abu Hurairah mengatakan, “Aku tidak pernah melihat ada orang yang lebih tampan seperti utusan Allah (saw). Seolah-olah kecerahan matahari bersinar dari wajahnya yang indah. Aku tidak melihat ada yang berjalan lebih cepat daripada dia, seolah bumi dilipat untuknya. Beberapa saat yang lalu dia akan berada di sini, dan kemudian di sana. Kami sulit untuk mengimbangi saat kami berjalan bersamanya, dan dia berjalan dengan kecepatan normal.”

Narasi di atas telah disebutkan dalam Syama’il Imam Tirmidzi. []

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline