Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Hina di Bumi Terkenal di Langit

0 106

Dialah Uwais Al-Qarni, seorang pemuda yang sangat miskin dan menderita penyakit sopak hingga kulitnya belang-belang. Pakainnya kumal dan compang-camping, hingga tak jarang orang mengiranya pemuda tidak waras.
Uwais ini hidup bersama dengan ibunya yang sudah tua dan lumpuh.

Suatu hari ibunya berkata, “Anakku, hidup ibu mungkin tidak lama lagi akan diminta oleh Allah SWT, sebelum ibu meninggal, ibu ingin pergi berhaji.” Uwais tersentak. Ia tahu ibunya sudah lama memendam keinginannya itu.
Uwais terus berpikir bagaimana caranya bisa membawa ibunya berangkat haji. Sedangkan, ia bukan orang yang banyak harta, perlu unta untuk perbekalan sedangkan ia tak memiliki semua itu.

Uwais akhirnya memutuskan untuk membeli seekor anak sapi. Sapi tersebut memiliki bobot sekitar 20 Kg. Lalu ia membuat kandangnya di bukit. Orang-orang melihat Uwais dengan tatapan mengejek.

“Dasar Uwais gila, aneh sekali membuat kandang sapi di atas bukit!” kata mereka.

Mendengar cemoohan tersebut, Uwais hanya diam tak melawan atau membalas. Bahkan tidak ada rasa sakit hati sedikitpun. Cemoohan masyarakat semakin menjadi tatkala Uwais setiap pagi menggendong sapinya turun menuju lereng dan sore harinya menggendong sapinya menaiki bukit. Sungguh bukan perjalanan yang mudah bahkan ini merupakan perjalanan yang begitu berat.  Ketika ia harus melewati batu-batu terjal dengan harus menggendong sapi.

Berbulan-bulan kemudian anak sapi tersebut telah menjelma menjadi sapi yang besar. Tubuh Uwais pun jauh lebih kuat dari sebelumnya, tangannya kekar dan berotot.

Musim haji pun tiba Uwais sampaikan kepada ibunya, “Ibu, Mari kita berangkat ke Makkah!”

“Dengan apa kita kesana? Ibumu ini lumpuh dan kita tidak punya kendaraan,” ucap ibunya dengan sedih.

“Aku akan menggendong ibu,” jawab Uwais.

Maka pada hari itu Uwais pergi ke makkah dengan menggendong ibunya. Di punggungnya, Uwais menggantungkan perbekalan makanan berupa roti dan air minum. Orang-orang yang sebelumnya engejek Uwais kali ini mereka tertegun. Akhirnya mereka tahu maksud Uwais menggendong sapi naik turun bukit setiap hari tidak lain adalah untuk menggendong ibunya yang sudah lumpuh.

Uwais menggendong ibunya dari Yaman ke Makkah yang jaraknya ratusan kilometer. Berkat Uwais sang ibu berhasil melihat Baitullah dan dapat beribadah haji.

Setelah kembali ke Yaman, sang ibu bertanya, “Uwais, do’a apa yang engkau panjatkan di Makkah?”

Uwais menjawab, “Aku berdo’a agar Allah mengampuni dosa-dosa ibu.”

“Lalu bagaimana dengan dosa-dosamu sendiri?” tanya ibunya.

“Jika dosa ibu diampuni, ibu akan masuk surga. Jika ibu ridha terhadap saya maka saya juga akan masuk surga.”

“Berdoalah agar Allah menyembuhkan penyakitmu,” pinta sang ibu.

“Biarlah aku jalani apa yang sudah Allah tetapkan bu,” jawab Uwais yang sedikit keberatan dengan permintaan ibunya.

“Kalau ingin masuk surga maka taatilah ibumu.”

Akhirnya Uwais menaati ibunya dengan berdo’a untuk kesembuhan penyakitnya. Setelah berdo’a penyakit sopak uwais seketika hilang kecuali tanda yang ada di tengkuk. Tanda ini kelak akan dikenali oleh Umar bin Khathab untuk meyakinkan bahwa mereka bertemu dengan Uwais.

Uwais Al-Qarni meninggal pada 675 M. Ketika meninggal begitu bnayak peziarah yang datang untuk menyalatkan dan mengurus jenazahnya. Padahal dalam hidupnya Uwais tak banyak dikenal dan sering kali tak dihiraukan.[]

Sumber: 77 Cahaya Cinta di Madinah/ Penulis: Ummu Rumaisha/Penerbit: Al-Qudwah/ Februari, 2015

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Advertisements

you're currently offline