Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Bagaimana Abu Bakar Membentuk Keluarganya untuk Dakwah

0

Tidak seorang Muslim pun yang meragukan keimanan, perjuangan, pengorbanan, dakwah dan jihad Abu Bakar Ash-Shiddiq, semoga Allah meridoinya. Beliau termasuk pada sepuluh orang yang dijamin masuk sorga. Akan tetapi keutamaan sahabat Nabi yang berhati lembut namun tegas ini tidak terletak hanya pada kesalehan individulanya. Ia justeru mampu mengarahkan seluruh anggota keluarganya untuk kepentingan dakwah dan jihad.

Lakon yang diperankannya pada peristiwa hijrah Rasulullah saw. ke Madinah adalah salah satu bukti penting dari apa yang saya sebutkan di atas. Beliau adalah orang yang dipercaya dan dipilih Rasulullah saw. sebagai teman dalam perjalanan hijrah menuju Madinah. Perjalanan yang akan ia lalui bersama Rasulullah saw. bukanlah perjalanan biasa melainkan perjalanan beresiko maut. Ini karena kaum Quraisy mencari dan mengejar mereka. Bahkan mereka telah menyediakan hadiah besar bagi yang dapat menangkap Rasulullah saw. dan Abu Bakar Ash-Shiddiq, hidup atau mati. Berbagai hal yang membahayakan dirinya dilakukan demi menyelamatkan Rasulullah saw.

Sekali lagi, bukan sekedar kesalehan individual –dalam bentuk misalnya keberanian menantang bahaya dalam rangka menjaga Rasulullah tercinta- yang menjadi kehebatan beliau. Lebih dari itu, ia telah melibatkan keluarganya dalam bahaya untuk mensukseskan misi hijrah Rasulullah saw. ke Madinah itu. Dan lebih hebat lagi, keluarganya itu mendukung dan terlibat penuh dalam misi yang teruhannya nyawa itu.

Di antara strategi Rasulullah saw. untuk mengelabui orang-orang Quraisy yang mengejar beliau setelah mereka tahu bahwa beliau lolos dari kepungan di rumahnya, adalah ‘mampir’ di Gua Tsaur, sebuah tempat yang justeru berlawanan arah dengan arah menuju Madinah. Di sinilah peran keluarga Abu Bakar Ash-Shiddiq secara begitu sempurna dijalankan.

Puteranya, Abdullah Bin Abi Bakar, bertugas melakukan deteksi tentang perkembangan informasi di kalangan orang-orang kafir Quraisy. Kemudian ia harus menyampaikannya kepada Rasulullah saw. dan ayahnya, yang tengah bersembunyi di Gua Tsaur itu. Informasi tidak boleh terputus bagi Rasulullah saw. dan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Di samping itu juga mereka memerlukan makanan dan minuman. Maka puterinyalah, Asma binti Abi Bakar, yang diamanahkan untuk itu. Padahal saat itu ia tengah hamil tua. Sampai-sampai ia harus rela membelah tali pengikat perutnya menjadi dua bagian. Satu digunakan untuk menahan perutnya semakin besar. Dan yang satunya lagi dipakai untuk mengikat makanan yang akan dibawanya ke Gua Tsaur.

Bukan itu saja, ternyata nilai-nilai dan semangat dakwah dan jihad itu juga ditularkan Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada pembantu rumah tangganya. ‘Amir Bin Fuhairah namanya. Ia ditugaskan untuk menggembalakan kambing ke sekitar mulu gua. Ini tentu saja bukan tanpa tujuan. Kaki-kaki kambing itu diharapkan menghapus jejak kaki Abdullah dan Asma. Rasulullah saw. memang tidak salah memilih kawan. Dan Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak salah mengarahkan, membina dan mendidik keluarganya. Akhirnya, misi hijrah sukses. Rasulullah saw. sampai di Madinah dalam keadaan selamat.

Begitulah, keluarga bagi da’i bisa menjadi orang yang memiliki daya dorong dan motivasi paling kuat; bisa menjadi prajurit paling depan dalam menebarkan misi dakwah; bisa menjadi benteng paling kokoh yang tidak mudah dirobohkan; dan bisa menjadi inspirasi paling berharga untuk membuat langkah-langkah dakwah mencapai sukses.

Maha Benar Allah yang telah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim / 66:6). []

Sumber: Majalah Saksi, Jakarta

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline