Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Penukaran Pahala Seratus Tahun dengan Segelas Air

0

Pembenaran-diri dan memuji-diri merupakan pertanda keangkuhan. Suatu hari, Nabi Musa As melintas sebuah bukit tandus. Ia melihat seorang saleh sedang sibuk beribadah didalam sebuah gua di bukit itu. Nabi Musa As merasa perlu untuk bertemu dan berbicara dengan orang itu, la pergi mendekat dan menemuinya.

Tanpa merasa terpengaruh, orang saleh itu bertanya, “Siapakah Anda?”

Nabi Musa menjawab, “Saya adalah Musa.”

Orang saleh bertanya, “Anda Nabi Musa?”

Nabi Musa menjawab, “Ya.”

Orang saleh berkata, “Memohonlah kepada Allah Swt agar mengabulkan permohonanku.”

Nabi Musa bertanya, “Apa yang Anda inginkan?”

Orang saleh menjawab, “Sejak seratus tahun yang lalu, saya duduk di sini untuk beribadah kepada Allah Swt, Saya tidak melakukan apa pun selain beribadah. Tanyalah kepada Allah Swt, apakah Dia akan menerima ibadahku?”

Nabi Musa As berkata,”Saya akan segera melakukannya.”

Nabi Musa segera mendaki bukit dan berseru dengan suara keras, “Ya Allah! Orang ini ingin mengetahui pahala atas ibadah-ibadahnya! Beritahukan kepadaku sesuatu yang bisa saya sampaikan kepadanya.”

Nabi Musa As mendengarkan suara, “Hai Musa! Katakan kepadanya, bahwa Kami akan memberitahu tentang pahala yang akan diberikan kepadanya besok.”

Nabi Musa as menyampaikan pesan dari Allah Swt kepadanya.

Orang shalaeh itu berkata, “Baiklah! Saya tunggu hingga besok.”

Orang shalaeh itu sudah biasa pergi ke tepi telaga setiap pagi, untuk mandi dan mengambil air untuk keperluannya. Oleh karena itu, pagi hari ia pergi ketepi telaga, tetapi ia tersesat ketempat lain. Larena panas terik matahari, ia menjadi sangat haus dan kelelahan.

Related Posts

Nabi Musa: Ya Allah, Jadikanlah Mereka Itu Umatku

Ia duduk di atas sebuah batu bundar sendirian dan mulai terlintas dalam benaknya pikiran tentang kematiannya. Pada waktu itu, ia melihat seseorang yang datang dan arah lain. la melambaikan tangan ke arah orang itu agar datang kepadanya. Ketika menghampirinya, orang saleh itu meminta tolong kepadanya agar diambilkan air.

Orang itu berkata, “Di mana ada air di tengh padang tandus ini? Air yang saya bawa pun hanya sedikit, hanya cukup uncuk saya sendiri.”

Orang saleh mulai menangis. Maka orang asing itu berkata, “Baiklah! Apa yang akan Anda berikan kepada saya, jika saya memberi Anda segelas air?”

Orang saleh itu berkata, “Saya tidak punya apa-apa. Saya selalau sibuk tiduran di gua untuk beribadah selama seratu tahun.”

Orang asing berkata, “Jika anda setuju untuk berikan pahala ibadah Anda selama seratus tahun itu pada saya, maka saya akan memberi Anda air?”

Orang saleh berpikir bahwa jika dia  panjang umur, ia bisa berdoa lagi untuk satu periode berikutnya untuk mendapatkan pahala dari Allah Swt.

Lalu, ia berkata, “Saya bersedia untuk memberikan pahala ibadahku selama seratus tahun itu kepada Anda.”

Orang asing itu memberikan segelas air dan orang saleh pun kembali ke guanya. Pagi-pagi esok harinya, Nabi Musa As mendapat wahyu yang mengabarkan bahwa orang saleh itu telah menukar pahala ibadahnya selama seratus tahun kepada orang lain dengan segelas air.

“Mintalah orang itu untuk menghitung berapa gelas air yang telah ia minum selama seratus tahun yang lalu!”

Maka Nabi Musa As pergi ke gua dan menyampaikan kepada orang saleh bahwa ia membawa sebuah pesan untuknya dari Allah Swt.

Orang saleh berkata, “Hai Nabi Musa, saya telah menjual penebusan dosaku selama ratusan tahun!”

Nabi Musa As berkata, “Ya, saya tahu. Tetapi Allah Swt telah berfirman bahwa ketika nilai ibadah seratus tahun adalah segelas air, maka ia harus menghitung nilai air yang telah ia minum selama seratus tahun terakhir.”

Ketika orang saleh mendengar hal ini, ia terkejut dan berteriak, “Hai Nabi Musa! Mohonlah kepada Allah Swt untuk mengampuni dosa-dosaku! Allah Swt adalah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang!”

Nabi Musa Musa As mendapat wahyu, “Katakan kepada orang saleh itu, ‘Penyesalanmu saat ini lebih Kusukai daripada ibadah-ibadahmu selama seratus tahun, dan Kami telah memberimu pahala ibadah selama seribu tahun!’.” []

Sumber: Manisnya Kopi Asin, Merajut Hati Meraih Kebahagiaan Hakiki/Penulis: Irwan Kurniawan/Penerbit: Majlis Ta’lim Ibadurrahman,2011

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline