Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Tatkala Rasulullah SAW Mendapat Tamparan Keras

0

Saat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam muda ikut bergotong-royong bersama kaumnya untuk membangun kembali Ka’bah yang sempat roboh. Beliau membantu mengusung batu-batu yang akan ditata, tetapi jubah bagian bawahnya tidak dibuka seperti orang-orang lain.

Melihat hal itu, pamannya, Ibnu Abbas, menyuruhnya melepas jubah untuk ditaruh di bahu agar tidak lecet bila memanggul batu. Beliau pun mengikuti saran pamannya. Namun, baru saja menirukan adat Jahiliyah itu, tiba-tiba beliau jatuh pingsan. Sejak saat itu, beliau tak pernah lagi terlihat telanjang.

Pernah terjadi pada suatu ketika asyik bermain dengan teman sebayanya dari anak-anak Quraisy, Muhammad kecil ikut mengusung batu-batu kecil untuk sebuah permainan. Ia melepas jubahnya lalu membawa bebatuan itu dengan menggantungkannya di leher sehingga terbuka auratnya.

Namun, baru saja melakukan hal itu, tiba-tiba ia merasakan sebuah tamparan keras dari seseorang yang tak dikenal.

Orang itu menampar seraya berkata keras, “Kenakan jubahmu!”

Spontan ia pun mengenakan kembali jubahnya sebagaimana mestinya. Anehnya, tamparan dan peringatan itu tidak dialami oleh teman-temannya yang lain.

Sebuah riwayat menuturkan bahwa pada saat Muhammad berusia remaja, Allah memeliharanya agar tidak ikut begadang dan mengobrol hingga larut malam bersama teman-teman sebayanya. Beberapa ulama berbeda pendapat dalam menanggapi kebenaran riwayat ini. Al-Hakim, adz-Dzahabi, dan beberapa ulama menganggap riwayat ini sahih. Sementara itu, Ibnu Katsir dan Syaikh al-Albani menilainya sebagai riwayat yang dhaif dengan mengajukan sejumlah alasan dan bukti.

Disebutkan pula bahwa beliau sangat menentang salah satu adat Jahiliyah di kalangan kaum Quraisy yang disebut al-himsu. Terbukti beliau tetap melakukan wukuf di Arafah, kemudian bertolak menuju Muzdalifah. Ini jelas bertentangan dengan adat al-himsu yang justru mengharuskan sebaliknya bertolak dari Muzdalifah ke Arafah.

Alkisah, Zubair ibn Muth’im sempat merasa heran dan terkejut dengan sikap Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam tersebut. Namun, justru karena keheranan itulah ia mendapatkan hidayah dan petunjuk Allah, demikian diakuinya setelah masuk Islam.

Tercatat, setelah Islam datang, al-himsu dan beberapa adat Jahiliyah yang berlaku di masyarakat mulai dihilangkan dan dilarang oleh Islam dengan tegas. Terkait dengan al-Himsu misalnya, Allah dengan tegas mensyariatkan, “Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah).” (QS. Al-Baqarah: 199)

Al-Baihaqi menuturkan, Zaid ibn Haritsah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam sama sekali tidak pemah menyembah berhala. Saat hidup pada masa Jahiliyah pun beliau sudah sangat menjauhi berhala-berhala. Terbukti, beliau tidak pernah mau mengusap berhala Isaf dan Na’ilah pada saat melakukan thawaf di Ka’bah. Padahal masyarakat Jahiliyah pada waktu itu selalu mewajibkan diri mereka melakukan hal itu. []

Sumber: Biografi Rasulullah, Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-sumber yang Otentik/Penulis: DR. Mahdi Rizqullah Ahmad/Penerbit: Qisthi Press,2005

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline