Picture: shutterstock

Yang Membuat Keduanya Bersabar

Ja’far bin Abu Thalib dan istrinya Asma’ binti Umais termasuk orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam. Keislamannya atas izin Allah melalui dakwah dan usaha Abu Bakar as-Shiddiq.

Sejak masuk Islam, Ja’far dan istrinya tidak luput dari gangguan dan siksaan kaum Quraisy. Ujian yang dialaminya melebihi batas yang tidak diketahui siapa pun selain Allah. Namun hal itu tidak membuat keduanya meninggalkan agama yang dibawa oleh Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Keduanya tetap sabar menghadapi segala macam gangguan dan ujian. Mereka tahu bahwa ujian adalah ketentuan yang pastinya akan dialami semua manusia, terlebih mereka yang memilih masuk Islam.

Jalan menuju Surga selalu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak diinginkan, hal-hal yang tentunya kadang terasa berat. Akan tetapi tatkala kita bersabar dalam menghadapinya, pasti Allah akan menggantikan seluruh ujian itu dengan balasan kenikmatan Surga-Nya. Tempat dimana tak satupun orang akan merasakan kesedihan.

“Salah seorang penghuni neraka yang dulu di dunia hidup paling senang didatangkan, lalu dicelupkan sesaat ke neraka, kemudian dikatakan, ‘Wahai anak Adam! Apakah kau pernah merasakan kebahagiaan?’ ‘Tidak, demi Allah, ya Rabb,’ jawabnya. Salah seorang penghuni Surga yang dulu hidup di dunia paling sengsara didatangkan, lalu dimasukkan ke Surga sesaat, kemudian dikatakan padanya, ‘Wahai anak Adam! Apakah kau pernah merasakan kesengsaraan?’ ‘Tidak, demi Allah. Aku tidak pernah merasakaan kesengsaraan dan kesedihan sedikit pun’.”

Itulah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang membuat keduanya semakin kuat dan sabar dalam menghadapi ujian yang mereka hadapi, sebelum akhirnya mereka hijrah ke Habasyah bersama sejumlah sahabat untuk menghindari fitnah dan melarikan diri menuju Allah demi menyelamatkan agama. []

 

Sumber: Ummul Qura, Shahabiyat Haula Ar-rasul, Biografi 35 Shahabiyah Nabi. Syaikh Mahmud Al-Mishri., hal 535, 536.

About Dika Nugraha

Al-Qur'an & As-Sunnah

Check Also

Teruslah Maju, Wahai Rasulullah

Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

you're currently offline