Foto: anunt-gratis

Ya Rabb, Apakah Engkau Hendak Memperolokku?

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya penghuni surga yang paling rendah tingkatannya adalah seorang laki-laki yang Allah palingkan wajahnya dari neraka dan dihadapkan ke surga, lalu digambarkan baginya sebuah pohon yang amat rindang.

Maka dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, majukanlah aku hingga ke pohon ini sehingga aku dapat berteduh di bawahnya.’

Allah menjawab, ‘Barangkali engkau nanti akan meminta yang lain kepada-Ku?’

BACA JUGA: Kisah di Balik Aroma Surga dekat Gunung Uhud

Dia jawab, ‘Tidak, demi keagungan-Mu!’

Maka Allah pun memajukannya hingga ke pohon tersebut. Lalu, digambarkan pula kepadanya sebuah pohon yang amat rindang nan berbuah.

Maka dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, majukanlah aku hingga ke pohon ini sehingga aku dapat berteduh di bawahnya dan memakan buahnya.’

Allah menjawab, ‘Barangkali jika Kuberikan itu kepadamu, kau nanti akan meminta yang lain kepada-Ku?’

Dia jawab, ‘Tidak, demi keagungan-Mu!’

Maka Allah pun memajukannya hingga ke pohon tersebut. Lalu, digambarkan lagi kepadanya sebuah pohon lain yang amat rindang, berbuah, dan terdapat air di bawahnya.

Maka dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, majukanlah aku hingga ke pohon ini sehingga aku dapat berteduh di bawahnya, memakan buahnya, dan meminum airnya.’

Allah menjawab, ‘Barangkali jika Kukabulkan, kau nanti akan meminta yang lain kepada-Ku?’

Dia jawab, ‘Tidak, demi keagungan-Mu! Aku takkan meminta kepada-Mu selain itu.’

Maka Allah pun memajukannya hingga ke pohon tersebut. Lalu, ditampakkanlah pintu surga kepadanya, maka dia pun berkata, ‘Wahai Rabb-ku, majukanlah aku hingga ke pintu surga, sehingga aku berada di bawah bangunan-bangunan surga, agar aku dapat melihat penghuninya.’

BACA JUGA: Ibrahim bin Adham, Mencari Tuhan di Istana (Bagian 1)

Maka Allah pun memajukannya ke surga hingga ia melihat surga dan isinya.

Maka ia pun berkata, ‘Wahai Rabb-ku, masukkanlah aku ke surga.’

Lalu ia pun dimasukkan ke surga. Jika ia telah masuk ke dalamnya, ia bertanya, ‘Apakah ini untukku?’

Allah menjawab, ‘Berangan-anganlah!’

Lalu ia pun berangan-angan, dan Allah mengingat-kannya, ‘Mintalah ini, mintalah itu.’

Hingga di saat angan-angannya telah habis, Allah berkata, ‘Itu semua untukmu dan sepuluh kali lipatnya.’

Lalu Allah memasukkannya ke surga, lalu dua bidadari sebagai istrinya masuk menjumpainya dan berkata, ‘Segala puji hanyalah bagi Allah yang telah menghidupkan engkau untuk kami dan menghidupkan kami untukmu.’

Ia pun berujar, ‘Sungguh, tiada seorang pun yang diberi sesuatu melebihi nikmatku ini.’

Dalam riwayat ‘Abdullah ibn Mas’ud r.a. disebutkan bahwa laki-laki itu terus meminta, dan Allah terus mengabulkannya sehingga ia terdiam karena rasa malu akan agungnya kemuliaan Allah. Kemudian Allah berfirman, ‘Kenapa kalian tidak meminta kepada-Ku?’

Mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, kami telah meminta kepada-Mu sampai kami merasa malu.’

Maka dikatakan kepada mereka, ‘Tidakkah kalian ridha jika Aku beri kalian seperti dunia dari semenjak Aku menciptakannya sampai hari Aku melenyapkannya, sekaligus sepuluh lipat sepertinya.’

Ia berkata, ‘Ya Rabb, apakah Engkau hendak memperolokku, padahal Engkau adalah Tuhan Yang Mahaagung?’ Mendengar ucapan itu, Allah pun tersenyum.”

‘Abdullah ibn Mas’ud, jika telah sampai pada bagian ini, ia selalu tertawa.

Kemudian seseorang bertanya, “Mengapa engkau tertawa, wahai Abu Abdirrahman? Aku telah sering mendengarmu meriwayatkan hadis ini, dan setiap kali engkau nnelewati bagian ini, engkau selalu tertawa.”

Abdullah ibn Mas’ud menjawab, “Aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan hadis ini berkali-kali, tidaklah beliau sampai pada kisah ini dalam hadis, kecuali ia tertawa sampai tampak gigi serinya.”

Kemudian Ibn Mas’ud melanjutkan hadis ini: “Allah berfirman, ‘Tidak, akan tetapi Aku Mahakuasa untuk melakukan hal itu.’

Maka ia berkata, ‘Wahai Rabb, ikutkan kami dengan orang-orang penghuni surga lainnya.’

Allah berfirman, ‘Ikutlah engkau bersama yang lain.’

Maka, ia kemudian beranjak dan berlari kecil dalam surga sampai kemudian mendekati para penghuni surga, lalu tampak baginya istana dari permata. Maka ia pun tersungkur sujud. Lalu dikatakan kepadanya, Angkatlah kepalamu!’

Maka dia mengangkat kepalanya. Lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya ini adalah rumah dari rumah-rumahmu.’

Kemudian ia berjalan mendekati seseorang yang lantas menyambutnya, dan ia berkata, ‘Apakah engkau malaikat?’

BACA JUGA: Malik bin Dinar Menjamin Istana di Surga untuk Seorang Pemuda (Bagian 1)

Ia menjawab, ‘Sesungguhnya aku adalah salah satu kepala rumah tanggamu dan salah satu sahayamu di istana ini, dan di bawah pimpinanku ada seribu kepala rumah tangga, semuanya bertugas seperti tugasku: Kemudian dia beranjak bersama pembantunya sampai dibukakan istana yang terbuat dari permata berongga, atapnya, pintunya, gemboknya, dan kuncinya dari permata itu. Lalu dibukakan baginya istana itu, maka dia disambut oleh permata hijau yang dilapisi warna merah. Padanya terdapat tujuh puluh pintu. Setiap pintu mengantarkan pada sebuah permata hijau yang berongga, dan setiap rongganya mengantarkan pada per-mata yang berbeda warnanya. Pada setiap permata ada dipan-dipan, istri-istri, dan da-yang-dayang. Yang paling rendah di antara mereka adalah bida-dari bermata jeli, dia memiliki tujuh puluh pakaian. Sumsum betisnya terlihat dari balik pakaiannya. Hati wanita surga itu adalah cermin bagi orang ini dan hati orang ini cermin bagi wanita surga tersebut. Jika orang ini berpaling darinya sekali, bertambahlah pada dua matanya keindahan tujuh puluh kali lipat daripada sebelumnya. Maka dia berkata, ‘Dalam pandanganku, sungguh engkau telah bertambah cantik tujuh puluh kali lipat.’ Maka wanita itu berkata pula, ‘Dalam pandanganku, sungguh engkau telah bertambah tampan tujuh puluh kali lipat.’ Lalu dikatakan ke-padanya, ‘Lihatlah kerajaanmu.’

Lalu ia pun melihatnya. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Kerajaanmu terbentang sepanjang peija-lanan seratus tahun pandanganmu.’ []

Sumber: Dekati Surga, Jauhi Neraka: Amal-Amal Calon Penghuni Surga/Karya: Khalid Abu Syady/Penerbit: Mizania/2014

About Dini Koswarini

Check Also

Kemudian Celakalah Dia! Bagaimanakah Dia Menetapkan?

Maka celakalah dia! bagaimana dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! bagaimanakah dia menetapkan?

you're currently offline