Foto: raiseyourvibration

Wahai Rasulullah Bagaimana Ini? Bukankah Ia Musuhmu

Di dalam usahanya menghancurkan ketentraman dan kedamaian kota Madinah yang terdiri dari berbagai macam suku dan agama yang berbeda, akhirnya bangsa Yahudi dapat diusir dari kota tersebut. meskipun demikian, keadaan kota Madinah masih belum benar-benar aman. hal itu akibat ulah seorang yang bernama Abdullah bin Ubay bin Sahul, pemimpin orang-orang munafik yang selalu membuat kerusuhan.

Namun, beberapa lama kemudian, tersiar kabar bahwa Abdullah bin Ubay bin Sahul menderita sakit keras. Abdullah, anak Abdullah bin Ubay yang telah memeluk agama Islam. Meskipun ayahnya seorang munafik yang sangat jahat, ia tetap merawat dan melayani ayahnya dengan penuh kasih sayang.

Hal itu ia lakukan karena sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketika ajal ayahnya semakin mendekat, napasnya sudah tersengal-sengal, meminta anaknya untuk memberitahu Rasulullah  Shalallahu ‘alaihi wasallam tentang sakitnya dan memohon agar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjenguknya sebelum ajalnya tiba. Abdullah merasa sangat berat untuk memenuhi permintaan ayahnya itu.

BACA JUGA: Siapa yang Ingin Membeli Jubahnya Rasulullah?

Tampaknya Abdullah bin Ubay sangat ketakutan membayangkan siksaan neraka yang mengancamnya, akibat makar-makar jahatnya semasa ia hidup. Sebagai anak yang taat dan berbakti kepada orang tua, Abdullah akhirnya datang menemui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan pesan ayahnya.

Ketika itu, kebetulan Umar bin Khatab tengah menemani Rasulullah. Rasulullah tersenyum ramah mendengarkan permintaan Abdullah yang diamanatkan ayahnya. Sementara itu Umar bin Khatab merasa tidak suka, mukanya tampak masam.

Dengan mengerjitkan dahinya, ia melarang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam agar tidak memenuhi permintaan pemimpin kaum munafik itu. Karena di anggapnya Abdullah bin Ubay telah banyak sekali merugikan kepentingan kaun muslimin, dan seringkali mengkhianati Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan fitnah-fitnah keji yang selalu disebarkan untuk menjatuhkan nama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Namun, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memberi jawaban yang ramah kepada Umar bin Khattab tentang kesediaan beliau untuk memenuhi permintaan Abdullah bin Ubay. Dengan memakai jubahnya yang terbaik, Rasulullah berangkat mengikuti Abdullah menuju tempat ayahnya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ingin menunjukkan kepada Abdullah bin Ubay, bahwa ia menghargai permintaannya itu. Sementara itu, meskipun Umar bin Khattab tidak setuju dengan tindakan Rasulullah tersebut, tapi ia tetap menyertai Nabi.

Sesampainya di rumah Abdullah bin Ubay, hati Umar bin Khatab semakin mendongkol dengan ulah Abdullah bin Ubay yang merengek-rengek minta di kasihani. Ia memohon agar Rasulullah berkenan melepaskan jubahnya untuk digunakan menyelimuti tubuhnya. Orang munafik itu ingin mati dengan berselimutkan jubah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Raut muka Umar bin Khatab nampak kemerahan, giginya gemeletuk dan tangannya mengepal menahan amarah. Baru sekali ini Umar tidak setuju dengan apa yang dilakukan Rasulullah, beberapa kali ia memberi isyarat lewat sorot matanya yang kecewa.

Umar bin Khatab masih teringat betapa hampir saja terjadi pertumpahan darah antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshor, gara-gara fitnah yang dilancarkan oleh Abdullah bin Ubay beberapa waktu yang lalu sebelum ia menderita sakit.

Namun, Rasulullah mempunyai pendapat lain. Dirinya adalah pemimpin bagi semua orang, semua manusia, bahkan Rasul bagi jin dan sebangsanya. Beliau adalah rahmat bagi alam semesta. Perlahan-lahan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam melepaskan jubahnya, dan menyelimutkannya ke tubuh Abdullah bin Ubay. Maka, terkabullah keinginan pemimpin kaum munafik itu untuk mati dengan berselimutkan jubah Rasulullah, seorang Nabi yang suci.

Dengan nada kecewa Umar bin Khatab berkata “Ya, Rasulullah. Bagaimana ini? Bukankah Abdullah bin Ubay adalah musuhmu?”

“Bukan! Dialah yang memusuhiku,” jawab Rasulullah dengan tenang.

“Yang jelas, dia tidak pernah berhenti untuk mencelakakanmu, bahkan membunuhmu, menghancurkan agamamu serta mengacau masyarakat Madinah yang rukun dan damai. Dia adalah pemimpin kaum munafik!” kata Umar bin Khattab lagi.

“Betul katamu, sahabatku Umar!” jawab Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih dengan tenang.

“Alangkah beruntungnya dia kalau begitu,” sambung Umar “Abdullah bin Ubay dapat mati dengan berselimut jubahmu. Padahal kami para sahabatmu, belum tentu dapat memperoleh nasib sebaik itu.”

BACA JUGA: Permintaan Ummu Haram kepada Rasulullah

“Umar, jangan sempit pikiranmu. Apakah aku tidak boleh membuatnya senang sejenak, sebelum ia mengalami azab yang berkepanjangan di neraka?” kata Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan penuh bijaksana.

“Abdullah bin Ubay tidak akan selamat dengan memakai jubahku dalam ajalnya. Sebab jubahku tidak akan menyelamatkan siapa-siapa, manusia hanya akan selamat oleh iman dan amal salehnya sendiri.”

Sumber: Cerita-cerita Motivasi Untuk Pemimpin /Karya: Ainon Mohd, Abdullah Hassan, Mohd Fadzilah Kamsah/Penerbit: Milenia/2004

About Dini Koswarini

Check Also

Karena ini Rasulullah Menangis

Akhirnya mereka menunjuk Khalid bin Al-Walid. Yang mana setelah mengambil bendera, dia bertempur dengan hebat dan gagah berani.

you're currently offline