Foto: ru.pngtree

Ummu Salamah Menceritakan Perjalanan Hidupnya (Bagian 2)

Bayi lelaki itu adalah putra kami. Kamilah yang berhak pengasuh dan membesarkannya. Tapi orang-orang itu—Bani Abdul Asad dan Bani Makhzum—tidak mau peduli. Mereka memperebutkan bayiku dan menarik-narik dengan kasar hingga lengan bayiku terkilir. Bayi itu akhirnya jatuh ke tangan Bani Abdul Asad, sedangkan aku ditahan di kampung Bani Makhzum.

Dalam sekejap mata aku bagai sebatang kara. Suamiku pergi ke Madinah demi menyelamatkan agama dan dirinya. Putraku ditahan oleh kaum suamiku setelah diambil dengan paksa dariku sampai lengannya terkilir. Aku sendiri ditahan oleh kaumku, Bani Makhzum.

BACA JUGA: Tatkala Ummu Salamah Menceritakan Perjalanan Hidupnya (Bagian 1)

Dalam sekejap aku telah kehilangan anak dan suami sekaligus. Sejak hari itu, setiap pagi aku pergi ke al-Abthah, tempat tragedi mengerikan itu terjadi. Aku duduk di sana sambil melamun membayangkan kembali saat-saat perpisahanku dengan anak dan suamiku. Kutangisi mereka sampi malam tiba. Keadaan seperti itu berlangsung setiap hari sampai selama satu tahun. Akhirnya seseorang dari keluarga pamanku tidak tahan melihatku merana dan beruraian air mata terus-menerus.

Dia berusaha membujuk kaumku, “Mengapa kalian tidak lepaskan saja wanita yang malang itu? Kalian pisahkan dia dari anak dan suaminya.”

Tanpa kenal lelah dia terus membujuk-bujuk kaumku sampai akhirnya hati mereka luluh.

Mereka berkata kepadaku, “Pergilah menyusul suamimu kalau kau mau.”

Namun bagaimana mungkin aku sanggup pergi ke Madinah menyusul suamiku, sedangkan putraku yang masih bayi ditahan oleh Bani Abdul Asad di Mekah?

Bagaimana mungkin air mataku bisa kering dan hatiku bisa tentram bila aku berada di Madinah sedangkan bayiku di Mekah tanpa kuketahui nasibnya?

Beberapa orang melunak hatinya melihat kesedihanku. Mereka mencoba berbicara dengan Bani Abdul Asad tentang diriku dan mohon belas kasih mereka. Alhamdulillah, Bani Abdul Asad tersentuh nuraninya dan mengembalikan Salamah kepadaku. Aku tak mau lagi berlama-lama di Mekah hanya untuk menunggu musafir yang bisa menyertaiku ke Madinah.

Aku khawatir akan terjadi lagi sesuatu yang menghalangiku untuk bersatu dengan suamiku. Oleh karena itu, secepatnya kusiapkan untaku. Kuangkat putraku ke pangkuan, lalu berangkatlah aku menuju Madinah. Tak seorang pun menyertaiku dalam perjalanan ini.

Di Tan’im aku berpapasan dengan Utsman bin Thalhah.

Dia menyapa, “Hendak ke manakah Anda, wahai putri ‘si pemberi bekal para musafir’?”

“Hendak ke Madinah menyusul suami,” jawabku.

“Tidak adakah orang yang menyertaimu?”

“Tidak, demi Allah, kecuali Allah dan putraku ini.”

Katanya, “Demi Allah aku tidak mungkin membiarkan Anda pergi sendirian sampai ke Madinah.”

Dia langsung meraih kendali untaku dan menuntunnya pelan-pelan. Demi Allah, belum pernah kujumpai seorang Arab yang lebih terhormat dan mulia daripada dia. Dalam perjalanan itu, bila kami menemukan tempat beristirahat, Utsman bin Thalhah akan mendudukkan untaku kemudian menyingkir jauh-jauh.

Setelah aku turun, baru dia mendekat untuk menambatkan unta ke sebatang pohon. Lalu dia kembali menjauh dan berteduh di bawah pohon yang lain.

BACA JUGA: Mendahulukan Cinta daripada Kebencian

Bila istirahat telah cukup dan kami hendak melanjutkan perjalanan, Utsman ibn Thalhah mempersiapkan unta kemudian mundur jauh-jauh seraya berkata, “Naiklah.”

Bila aku sudah naik dan duduk di atas punggung unta, baru dia mendekat, mengambil kendali, kemudian berjalan menuntun unta. Demikianlah cara dia memperlakukan aku setiap hari sampai kami sampai Madinah. []

Sumber: Sosok Para Sahabat Nabi/Karya: Dr. Abdurrahman Raf’at al-Basya/Penerbit: Qisthi Press/2005

About Dini Koswarini

Check Also

Siapakah Pebisnis yang Beriman Itu?

Dan bagi Rasulullah, Khadijah lebih dari sekedar istri. Ia adalah teman sekaligus pembela.

you're currently offline