Foto: Dreamstime

Ujian Hidup Imam Fakhruddin Ar-Razi Masa Kecil dan Muda

Imam Fakhruddin Ar-Razi sudah harus menerima perlakuan yang tidak pantas dari kakaknya yang bernama Ruknu Ad-Din. Ruknu adalah seorang yang mempunyai pengetahuan sedikit dalam ilmu fikih dan ushul, namun sejatinya ia bodoh sehingga ayahnya lebih menyayangi Imam Fakhruddin Ar-Razi.

Oleh karenanya, Ruknu merasa sangat cemburu kepada beliau yang lebih disayang oleh sang ayah. Pada suatu hari, Ruknu mengikuti sang adik dalam satu perjalanan jauh, ia berjalan di belakang sang adik sembari mencela dan membuat kabar-kabar yang tidak benar tentang sang adik lalu menyebarkannya kepada orang yang ia lewati.

BACA JUGA: Mengenal Fakhruddin Ar-Razi (543 H/1148)

Tidak hanya itu, bahkan ia juga menjelek-jelekkan orang-orang yang sibuk mempelajari kitab-kitab sang adik karena Ruknu merasa bahwa ia lebih tua dan lebih tau dalam masalah fikih dan ushul Fikih. Seringkali Ruknu merasa aneh ketika ia mendengar orang-orang memuji adiknya dan tidak memuji dirinya.

Akan tetapi, dengan semua perlakukan sang kakak yang tidak baik kepadanya, ia retap selalu memperlakukan sang kakak dengan perlakuan baik dan tidak pernah terbesit sedikitpun dalam pikirannya untuk membalas perlakuan buruk sang kakak.

Begitu pula di masa muda Imam Fakhruddin Ar-Razi, ia juga pernah merasakan kesusahan dan kepayahan dalam menuntut ilmu. Suatu hari, ia pernah bermaksud pergi menuju kota Bukhara untuk menuntut ilmu sembari bckerja untuk mengumpulkan harta karena kota Bukhara pada saat itu masih menjadi kiblat ilmu bagi para penuntuk ilmu.

Di tengah perjalanannya menuju kota Bukhara, ia singgah di kota Khawarizm dan membuka majlis ilmu di sana, di majlis itu Imam Fakhruddin Ar-Razi menyampaikan pelajaran dan pandangannya dengan bahasa Arab dan Persia, namun ia tidak diterima oleh penduduk kota tersebut, maka mereka pun mengeluarkan beliau dari kota itu.

Setelah itu, ia pun melanjutkan perjalanannya menuju Bukhara, namun ia menemukan keadaan penduduknya sama seperti penduduk Khawarizm hingga ia pun dikeluarkan dari kota tersebut. Melihat kondisinya yang tidak ditcrima oleh masyarakat Bukhara, maka ia pun berjalan menuju sebuah masjid besar di kota Bukhara dan di sana ia bertemu dengan seseorang yang merasa kasihan dengan keadaaannya, maka orang tersebut mengumpulkan uang-uang zakat dan memberikannya kepada beliau.

Imam Fakruddin Ar-Razi pun kembali ke kampungnya. Sesampainya di sana, ia bertemu dengan seorang dokter yang sangat kaya dan memiliki dua orang anak wanita, maka ia menikahi salah satu anak wanita dokter tersebut. Beberapa saat setelah ia menikahi anak wanita sang dokter, sang dokter pun meninggal dan mewariskan hartanya kepada kedua anak wanitanya.

Pada suatu hari, Imam Fakhruddin Ar-Razi pergi menemui penguasa Syihabuddin Al-Ghuri dan ia pun diterima dengan baik, kemudian ia menuju Khurasan dan membangun hubungan baik dengan pemimpin kota Khawarizm yang bernama Syah Muhammad bin Taksy sehingga di beberapa kesempatan, Imam Fakhruddin Ar-Razi diutus ke India oleh Syah Muhammad untuk menangani beberapa perkaranya.

Setelah ia sampai di kota Khurasan, ia pun melanjutkan perjalannya menuju kota Herat, salah satu kota di Afghanistan, dengan tujuan menetap di kota tersebut bersama keluarganya hingga ia menghabiskan masa-masa akhir hidupnya di kota tersebut.

BACA JUGA: Harta, Ujian bagi Umat Nabi Muhammad SAW

Di kota tersebut, Imam Fakhruddin Ar-Razi tinggal di sebuah rumah yang alkup besar yang dihadiahkan untuknya oleh Syah Muhammad bin Taksy yang selalu hadir dalam majlis sang Imam. Imam Fakhruddin Ar-Razi membuka majlis ilmunya di sebuah masjid di kota Herat dan beliau pun wafat di kota tersebut pada tahun 606 H/1209 M dan dikuburkan di sana. []

Sumber: Manaqib Imam Asy-Syafi’i/Karya: Imam Fakhruddin Ar-Razi/Penerbit: Dar Al-Kutub Al Ilmiyah/2015

About Dini Koswarini

Check Also

Kemudian Celakalah Dia! Bagaimanakah Dia Menetapkan?

Maka celakalah dia! bagaimana dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! bagaimanakah dia menetapkan?

you're currently offline