Foto:Freepik

Uang Seribu Dirham dan Pemuda Pemilik Istana Surga

Suatu hari Ja’far bin Sulaiman berjalan bersama Malik bin Dinar Di kota Basrah. Ketika sedang jalan-jalan keduanya melewati istana yang sedang di bangun. Di dalamnya terdapat  seorang pemuda tampan yang sedang duduk; pemuda yang bagi Ja’far, ketampanannya belum pernah dia lihat. Ternyata dialah orang yang memerintahkan pembangunan istana itu.

Melihat itu Malik bertanya kepada Ja’far. “Apa pendapatmu setelah melihat pemuda ini?”

“Seorang pemuda berwajah  tampan, dan keserakahannya dalam membangun istana?” Jawab Ja’far.

Malik berkata “Alangkah perlunya aku memohon Tuhanku agar membebaskannya, siapa tahu Dia akan menjadikannya salah satu pemuda penghuni surga! Ja’far, mari kita masuk!”

Keduanya masuk dan mengucapkan salam. Pemuda itu menjawab salam, kemudian  pemuda itu pun langsung bangkit dan bertanya, “Apakah kalian ada keperluan denganku ?”

Berapa banyak uang yang kamu gunakan untuk membangun istana ini?” tanya Malik.

“Seratus ribu dirham…” jawab pemuda itu.

“Maukah kamu memberikannya kepadaku lalu aku akan membelanjakannya pada tempatnya dan aku berjanji atas nama Allah bahwa aku akan memberimu sebuah istana yang  lebih baik dari istana ini lengkap dengan pelayan dan pembantunya. Kubah dan tendanya terbuat dari yaqut merah dan bertahtakan mutiara. Debunya za’fara, tanahnya minyak kesturi, lebih lapang dari istanamu ini, tidak akan rusak, belum tersentuh tangan manusia , tidak dibangun oleh tukang bangunan. Cukup Allah  berkata kepadanya ‘Kun’ (Jadilah), maka jadilah ia?!”

Pemuda tersebut takjub dengan apa yang disampaikan Malik, “Berilah aku tempo malam ini, besok pagi-pagi sekali datanglah kemari!” jawab pemuda itu.

“Malik menghabiskan malamnya dengan memikirkan pemuda itu, dan ketika sepertiga malam terakhir, ia pun shalat malam dan banyak berdoa untuk pemuda itu”.

Keesokan harinya Malik dan Ja’far bergegas pergi untuk menemui pemuda itu. Ia tengah duduk. Pada saat melihat Malik, ia terlihat sumringah.

“Bagaimana pendapatmu tentang apa yang aku katakan kemarin? Kamu mau menerimanya?” tanya Malik.

“Ya” jawab pemuda itu.

Lalu Malik mengambil kantong uang dari pemuda itu, dan mengambil tinta, dan kertas, kemudian menulis,

“Bismillahir-rahmanir-rahim

Jaminan Malik bin Dinar untuk Fulan bin Fulan
Aku menjamin untukmu atas nama Allah sebuah istana yang menjadi ganti istanamu dengan sifatnya seperti yang telah aku sifati serta tambahannya yang menjadi tanggung jawab Allah, dan aku membeli untukmu harta ini sebuah istana di surga yang lebih lapang di sisi Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Agung.

Lalu Malik melipat surat jaminan itu dan memberikannya kepada pemuda itu. Malik dan Ja’far pun membawa uang itu pergi. Sebelum senja berlalu, uang itu telah habis dibagikan kepada orang-orang yg membutuhkan dan hanya tersisa seharga makanan Malik untuk malam itu.

Hanya empat puluh malam dari peristiwa itu, saat Malik tengah mengerjakan shalat di pagi hari, sesudah salam ia melihat ada sepucuk surat tertuju untuk Malik tergeletak di mihrab. Malik mengambilnya dan membukanya, ternyata dibaliknya tertulis tulisan tanpa tinta.

Bukti kebebasan dari Allah Yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana untuk Malik bin Dinar.

Kami telah memberikan kepada pemuda itu sebuah istana yang engkau janjikan kepadanya dan tambahan tujuh puluh kali lipat.”

Malik keheranan dan mengambil surat itu. Malik dan Ja’far bangkit dan pergi ke rumah pemuda itu. Ternyata rumah itu tertutup, dan tangisan terdengar dari dalam.

“Apa yang yang terjadi pada pemuda itu?”

“Ia meninggal kemarin,” jawab orang-orang.

Lalu Malik dan Ja’far mendatangi petugas jenazah, “Kamukah orang yang kemarin memandikannya?”

“Ya” jawabnya.

“Ceritakan kepada kami apa yang kamu saksikan!” pinta Malik.

“Sebelum meninggal ia berkata kepadaku, ‘Jika aku mati nanti masukkan surat ini ke dalam kain kafanku bersama jasadku!’ lalu aku pun memasukkannya ke dalam kain kafannya bersama jasadnya, kemudian aku menguburkannya bersamanya,” cerita petugas itu.

Malik mengeluarkan surat tadi, “Benar inilah surat itu, sungguh aku telah memasukannya dengan tanganku ini ke dalam kain kafannya bersama jasadnya!” jawab petugas itu.

Maka pecahlah tangisan orang orang. Tiba-tiba seorang pemuda bangkit. “Wahai Malik, ambillah 200 dirham dariku dan jaminlah aku seperti yang telah engkau jaminkan untuk pemuda ini!”

Setelah kejadian itu, setiap teringat pada pemuda yg meninggal tersebut Malik senantiasa menangis dan mendoakannya.

Sumber : Menuju Surga-MU (Kitab At-Tawwabin)/Penulis: Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi / Penerbit: Uswah

About Dini Koswarini

Check Also

Saya Saudara Jauh Muawiyyah

Ada seorang lelaki tak dikenal ingin datang menjumpai Muawiyyah. Di depan rumah, ia berjumpa pertama kali dengan penjaga gerbang.

you're currently offline