Foto: Public domain vectors

Tiga Anak Panah Itu Mengenai Tubuhnya

Suatu ketika Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam baru kembali dari suatu peperangan. Karena hari menjelang malam, beliau berhenti untuk beristirahat seperti kebiasaannya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya kepada para sahabat, “Siapakah yang siap menjadi penjaga pada malam ini?”

Lalu berdirilah Ammar bin Yasir dan Abbad bin Bisyir sambil berkata,”Kami siap!”

Ammar bin Yasir radiyallahu anhu adalah pemuda dari kaum Muhajirin, sedangkan Abbad bin Bisyir dari kaum Anshar. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan keduanya untuk pergi ke suatu bukit.

BACA JUGA: Fudhail bin Iyadh: Aku Terkena Panah Allah

Di bukit tersebut terdapat jalan yang memudahkan musuh untuk menyerang. Mereka pun berjaga di sana pada malam itu. Setibanya di atas bukit, pemuda Anshar itu berkata kepada pemuda Muhajirin, temannya, “Mari kita bagi malam ini menjadi dua. Bagian pertama, aku berjaga dan engkau beristirahat. Bagian kedua, engkau berjaga dan aku beristirahat. Jika ada musuh yang datang, yang berjaga dapat membangunkan kawannya yang tidur. Jika kita berdua berjaga bersama-sama, bisa-bisa kita berdua mengantuk .”

Abbad pun melaksanakan tugas berjaga, sementara Ammar tidur. Sambil bertugas, Abbad mendirikan shalat. Dari kejauhan ada musuh mengintai dan membidikkan anak panah ke arah Abbad. Panah pun melesat tepat mengenai tubuhnya namun Abbad tetap berdiri tegak. Musuh melepaskan lagi anak panah kedua, dan Abbad masih tegak, tidak goyah sedikit pun. Hingga musuh melepaskan anak panah ketiga, Abbad masih shalat dengan khusyuk. Setiap anak panah mengenai tubuhnya, Abbad mencabut dan membuangnya. la tetap meneruskan shalat. Abbad rukuk dan sujud dengan tenang.

Setelah selesai shalat barulah ia membangunkan Ammar. Mengetahui yang berjaga lebih dari satu orang, musuh segera melarikan diri karena mengira ada banyak tentara Islam di sana. Ketika bangun, Ammar melihat tubuh Abbad bersimbah darah dengan tiga bekas luka anak panah. la pun berseru, “Subhanallah! Mengapa engkau tidak membangunkanku dari tadi?”

BACA JUGA: Hamzah bin Abdul Muthalib, Sahabat sekaligus Paman Nabi

Abbad menjawab, “Ketika shalat tadi, aku mulai membaca surah Al-Kahfi. Hatiku enggan untuk rukuk sebelum menyelesaikan surah ini. Aku mencemaskan keselamatan Nabi. Jika tidak ingat itu, tentu kuselesaikan bacaan surah sebelum rukuk walau harus mati karenanya.”

Masya Allah, Abbad begitu khusyuk shalat sehingga rasa sakit akibat terkena anak panah tidak dirasakannya. la merasakan kenikmatan saat membaca surah dalam shalat. Seandainya tidak ingat keselamatan Rasulullah, ia tentu akan meneruskan shalatnya. []

Sumber: 99 Kisah Menakjubkan Sahabat Nabi/ Penulis: Tethy Ezokanzo/ Penerbit: Gramedia Pustaka

About Erna Iriani

Indonesian Muslimah | Islamic Graduate Student | "Jangan menjadi gila karena cinta kepada seseorang, atau ingin menghancurkan seseorang karena kebencian." (Umar bin Khatab)

Check Also

Teruslah Maju, Wahai Rasulullah

Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

you're currently offline