Foto: Shutterstock

Ummu Salamah Menceritakan Perjalanan Hidupnya (Bagian 3 Habis)

Sesampainya di desa Quba’, daerah Bani Amru ibn Auf, ia berkata kepadaku, “Suami Anda ada di desa itu. Pergilah ke sana dengan berkah Allah.”

Dan dia pun kembali ke Mekah. Bersatulah kini hati yang tercerai-berai itu sekian lama. Ummu Salamah serasa mendapatkan kesegaran baru setelah bisa berkumpul lagi dengan putra dan suaminya. Abu Salamah pun tak kurang bahagianya mendapatkan keluarganya kembali.

BACA JUGA: Tatkala Ummu Salamah Menceritakan Perjalanan Hidupnya (Bagian 2)

Kemudian peristiwa demi peristiwa berjalan dengan cepat, tanpa terasa. Perang Badar pecah. Abu Salamah turut serta sebagai pendukung Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, dan pulang dengan kemenangan yang gemilang. Perang Uhud menyusul. Abu Salamah tak ketinggalan di dalamnya. Dia menyumbangkan segala daya dan kemampuannya sampai terluka parah.

Luka-luka itu tak pernah sembuh benar-benar kecuali yang tampak dari luar saja, dan dia terpaksa terbujur tak berdaya di atas tempat tidur.

Saat-saat memulihkan lukanya ini, Abu Salamah pernah berkata kepada istrinya, “Wahai Ummu Salamah, aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Tiada seorang pun yang mendapatkan ujian kemudian dia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” dan berdoa: ‘Allahumma ‘indaka ihtasyabu mushibati hadzihi. Allahumma ukhlufni khairan minha (Ya Allah, kepada-Mu aku serahkan penderitaanku ini; ya Allah, berilah aku ganti yang lebih baik darinya), kecuali Allah memberinya ganti yang lebih baik.”

Abu Salamah tergolek di tempat tidurnya selama berhari-hari. Pada suatu pagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjenguk ke rumahnya. Ketika beliau hendak pulang dan belum lagi melewati ambang pintu, Abu Salamah telah mengembuskan nafas terakhir.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam menutup kedua mata sahabatnya ini dengan tangannya yang suci, kemudian beliau memandang ke langit seraya berdoa, “Ya Allah, ampunilah Abu Salamah dan angkatlah derajatnya ke derajat hamba-hamba yang Engkau dekatkan ke sisi-Mu dan jadilah Engkau, Ya Allah, penggantinya untuk anak-anak dan keluarganya. Ampunilah kami dan dia, wahai Tuhan seru sekalian alam, lapangkanlah kuburnya dan terangilah dengan cahaya-Mu.”

Ummu Salamah teringat pada kata-kata suaminya sehingga dia menirukan, “Ya Allah, kepada-Mu aku serahkan penderitaanku ini.”

Tetapi tak sampai hati dia melanjutkan dengan, “Ya Allah, berilah aku ganti yang lebih baik darinya.”

Sebab dia tak tahu siapa gerangan yang lebih baik daripada Abu Salamah. Betapapun, dia melanjutkan juga doanya itu. Kaum Muslimin merasa berduka atas wafatnya Abu Salamah bagaikan belum pernah berduka cita sebelumnya.

Mereka kemudian menyebut Ummu Salamah sebagai “Janda Bangsa Arab” sebab di Madinah dia tak punya sanak keluarga kecuali anak-anak kecil yang laksana burung-burung yang belum tumbuh bulunya. Kaum Muhajirin dan Anshar merasa berkewajiban untuk menghibur Ummu Salamah.

Setelah masa iddah Ummu Salamah habis, Abu Bakar ash-Shiddiq mencoba meminangnya tetapi ditolak. Datang pula Umar bin Khattab, namun wanita ini tetap menolak. Kemudian Rasulullah sendiri yang meminangnya.

Kali ini Ummu Salamah menjawab, “Wahai Rasulullah, saya ini memiliki tiga sifat buruk. Saya sangat pencemburu dan saya khawatir suatu tiga sifat buruk. Saya sangat pencemburu dan saya khawatir suatu saat Anda marah karenanya sehingga Allah menyiksa saya. Saya seorang wanita lanjut usia. Dan saya pun banyak anak.”

BACA JUGA: Turunnya Surah Al-Mumtahanah Ayat 10

Kata Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, “Tentang sifat pencemburumu, aku akan berdoa kepada Allah agar menghilangkannya. Soal usia, aku pun orang yang lanjut usia sepertimu. Dan masalah anak, anakmu adalah anakku juga.”

Pada akhimya Ummu Salamah dinikahi oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Allah telah mengabulkan doanya dan memberikan suami pengganti yang lebih baik daripada mendiang Abu Salamah. Sejak itu, Hindun dari Bani Makhzum tidak lagi menjadi ibu bagi Salamah seorang, melainkan juga ibu bagi seluruh kaum Muslimin. []

Sumber: Sosok Para Sahabat Nabi/Karya: Dr. Abdurrahman Raf’at al-Basya/Penerbit: Qisthi Press/2005

About Dini Koswarini

Check Also

Siapakah Pebisnis yang Beriman Itu?

Dan bagi Rasulullah, Khadijah lebih dari sekedar istri. Ia adalah teman sekaligus pembela.

you're currently offline