Foto: www.hereisfree

Tatkala Umar bin Abdul Aziz menjadi Khalifah

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Qs Ali Imran 175)

Imam Abu Yusuf, hidup pada masa Khalifah Harun Al Rasyid, dalam mukadimah kitab Al Kharaj menyebutkan bahwa tatkala Umar bin Abdul Aziz rahimahullah meninggal, para fuqaha ‘ahli fiqh’ datang ke istri beliau. Mereka menyatakan bela sungkawa atas musibah yang menimpa kaum muslimin dengan meninggalnya suaminya itu.

BACA JUGA: Pertemuan Kakek dan Nenek Umar bin Abdul Aziz

Mereka katakan kepada isteri khalifah, “Kabarkanlah kepada kami tentang almarhum karena yang paling mengetahui keadaan seseorang adalah keluarganya.”

Istri khalifah itu berkata, “Demi Allah, Umar bukanlah orang yang paling banyak shalat dan puasa dibandingkan dengan yang lain, tetapi, demi Allah, belum pernah aku melihat seorang hamba yang lebih hebat takutnya kepada Allah daripada Umar. Beliau telah meluangkan jiwa dan raganya untuk kepentingan umat.

Pernah suatu sore, selesai melayani kepentingan umat, beliau meminta penerangan lampu yang dibeli dari hartanya sendiri, lalu melaksanakan shalat dua rakaat. Setelah itu, beliau berjongkok dengan meletakkan tangan di bawah dagunya, sementara air mata beliau jatuh bercucuran di pipinya dan beliau melakukan yang demikian itu hingga terbit fajar, sedangkan paginya beliau berpuasa.

Lalu aku tanyakan, ‘Wahai Amirul Mukminin, ada apa gerangan? Tidak pernah aku melihatmu melakukan seperti tadi malam?’

BACA JUGA: Wahai Amirul mukminin, Bukankah Esok Hari Bisa Dilanjutkan?

Beliau menjawab, ‘Memang benar, sungguh engkau pun mengetahui bahwa aku telah diserahi urusan seluruh umat ini, baik yang berkulit putih maupun hitam. Lalu aku teringat akan orang yang terasing, peminta-minta yang merendah, orang yang kehilangan, orang-orang fakir yang sangat membutuhkan, tawanan yang tertekan jiwanya dan lain sebagainya di berbagai tempat di bumi ini, dan aku tahu persis bahwa Allah SWT pasti akan menanyaiku tentang mereka, dan Muhammad saw niscaya akan membantahku dalam masalah mereka (jika aku mangkir) karena itulah aku takut akan diriku sendiri’.”

Itulah contoh orang yang takut kepada Allah. Wallahu alam bishshawab. []

Sumber: Pahala itu mudah /Karya: Siti Nurhayati dkk/Penerbit: Republika/2005

About Dini Koswarini

Check Also

Teruslah Maju, Wahai Rasulullah

Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

you're currently offline