Foto: PinArt

Tatkala Adzab yang di Derita Sudah Mencapai Puncak

Yasir bin Amir yakni ayahanda Ammar, berangkat meninggalkan negerinya di Yaman guna mencari dan menemui salah seorang saudaranya di Mekah. Rupanya ia berkenan dan merasa cocok tinggal di Mekah. Bermukimlah ia di sana dan mengikat perjanjian persahabatan dengan Abu Hudzaifah ibnul Mughirah.

Kemudian ia mengawinkan Yasir bin Amr dengan salah seorang sahayanya bernama Sumayyah binti Khayyath, dan dari perkawinan yang penuh berkah ini, kedua suami isteri itu dikaruniai seorang putera bernama `Ammar. Keluarga ini termasuk diantara tujuh orang pertama yang masuk Islam.

BACA JUGA: Siapa ini, Wanita yang Disambut Rasulullah dengan Ramah

Keluarga Yasir cukup menderita karena siksa dan kekejaman kaum Quraisy. Setiap hari Yasir, Sumayyah dan `Ammar dibawa ke padang pasir Mekah yang demikian panas, lalu didera dengan berbagai hukuman dan siksa. Penderitaan dan pengalaman Sumayyah dari siksaan ini amat mengerikan dan menakutkan. Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuhnya, sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggungnya  dan menjadi syuhada pertama dalam sejarah Islam.

Terhadap Ammar, kezaliman dan kekejian mencapai puncaknya, ia didera, dicambuk, disalib di hamparan gurun yang panas, ditindih dengan batu laksana bara merah, dibakar dengan besi panas, bahkan sampai ditenggelamkan ke dalam air hingga sesak nafasnya dan mengelupas kulitnya yang penuh dengan luka. Ketika ia sampai tidak sadarkan diri karena siksaan yang demikian berat.

Pada suatu hari, ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengunjungi mereka, Amar memanggilnya, katanya, “Wahai Rasulullah, adzab yang kami derita telah sampai ke puncak.”

Maka, seru Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, “Sabarlah, wahai Abal Yaqdhan. Sabarlah, wahai keluarga Yasir. Tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah surga!”

Dalam beberapa riwayat: berkata Ammar bin Hakam, “Ammar itu disiksa sampai-sampai ia tidak menyadari apa yang diucapkannya.”

Berkata pula Ammar bin Maimun, “Orang-orang musyrik membakar `Ammar bin Yasir dengan api.”

Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam lewat di tempatnya, lalu memegang kepalanya dengan tangan beliau, sambil bersabda, “Hai api, iadikan kamu sejuk dan dingin di tubuh Ammar, sebagaimana kamu dulu juga sejuk dan dingin di tubuh Ibrahim!”

Ketika berjumpa dengan Rasulullah, Ammar mengatakan bahwa ia telah terpaksa berbohong telah keluar dari Islam, karena tidak tahan lagi menerima siksaan yang sangat berat. Ia menyatakan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa dia sangat menyesal atas sikapnya tersebut.

Mendengar pengakuan Ammar, Nabi berkata, “Kalau mereka datang lagi, katakanlah seperti itu…” maksudnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam membolehkan Ammar berbohong kepada orang yang menyiksanya keluar dari Islam.

Sehubungan dengan peristiwa tersebut turunlah ayat yang artinya: “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah Dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar ” (QS. An-Nahl [16]: 106)

Setelah mendengar ucapan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, seketika itu hati Ammar diliputi ketenangan dan kebahagiaan. Siksaan fisik yang menimpa tubuhnya bertubi-tubi tidak terasa sakit lagi. Ammar menghadapi cobaan dan siksaan dengan kesabaran dan ketabahan yang luar biasa.

Orang-orang kafir yang menyiksa Amar akhirnya tak kuasa lagi menerobos tembok keimanan Ammar yang sangat kokoh.  Kesabaran dan ketabahan, kepahlawanan dan kemuliaan Ammar bin Yasir telah menarik simpati Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau.

BACA JUGA: Penyebab Bani Israil Dikutuk Menjadi Kera

Ketika Khalifah Umar bin Khattab memilih calon-calon gubernur, pandangan khalifah tertuju kepada Ammar bin Yasir. Maka dari itu Khalifah Umar bin Khattab segera menemui Ammar untuk diangkat menjadi gubernur Kuffah. Ia memang pahlawan yang pantas menempati kedudukan yang tinggi. Ia juga menjadi contoh teladan yang akan mengisi hati orang-orang beriman dengan rasa simpati, kebanggaan dan kasih sayang. Ia adalah figur yang akan menjadi pedoman bagi generasi-generasi mendatang. []

Sumber: buku Ilmu Kalam Kelas X MA/Kementerian Agama Republik Indonesia/2015

About Dini Koswarini

Check Also

Teruslah Maju, Wahai Rasulullah

Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

you're currently offline