Foto:Pngtree

Siapakah yang Lebih Tua, Saya Ataukah Kamu?

Dia dilahirkan duatahun dua bulan setelah kelahiran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Dan meninggal dalam usia enam puluh tiga tahun sebagaimana usia Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Ibnu Katsir berkata, Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Khalifah bin Al-Khayyath dari Yazid bin Al-Asham bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Siapakah yang lebih tua, saya ataukah kamu?”

BACA JUGA: Wahai Abu Bakar, Aku Begitu Rindu dengan Saudaraku

Abu Bakar berkata, “Engkau lebih besar, tetapi saya lebih tua darimu,” adalah mursal gharib.

Sedangkan yang masyhur adalah kebalikannya. Perkataan itu benar, namun untuk Al-Abbas dan bukan untuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Dia tumbuh dan besar di Makkah dan tidak pernah keluar dari Makkah kecuali untuk tujuan dagang dan bisnis. Dia memiliki harta kekayaan yang sangat banyak dan kepribadian sangat menarik, memiliki kebaikan yang sangat banyak, dan sering melakukan perbuatan-perbuatan terpuji.

Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu Dughunnah, Sesungguhnya engkau selalu menyambung tali kasih dan keluarga, bicaramu selalu benar, dan kau menanggung banyak kesulitan, kau bantu orang-orang yang menderita dan kau hormati tamu.

An-Nawawi berkata, “Dia termasuk tokoh Quraisy di masa Jahiliyah, orang yang selalu diminta nasehat dan pertimbangannya, sangat dicintai di kalangan mereka, sangat tahu kode etik yang ada di kalangan mereka. Tatkala Islam datang, dia mengedepankan Islam atas yang lain, dan dia masuk Islam dengan sempurna.

Zubair bin Bakkar dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ma’ruf bin Kharbudz dia berkata: Sesungguhnya Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah seorang dari sepuluh orang Quraisy yang kejayaannya di masa Jahiliyah bersambung hingga aman Islam. Dia mendapat tugas untuk melaksana-kan diyat (tebusan atas darah kematian) dan penarikan hutang. Ini terjadi karena orang-orang Quraisy tidak memiliki raja dimana mereka bisa mengembalikan semua perkaranya pada raja itu.

Pada setiap kabilah di kalangan Quraisy saat itu, ada satu kekuasaan umum yang memiliki kepala suku dan kabilah sendiri. Adapun tugas dan kewenangan yang ada pada Bani Hasyim adalah memberi makan dan minum kepada orang yang berkunjung ke Kasbah, artinya tidak ada seorang pun yang makan dan minum kecuali dari makanan dan minuman mereka. Sedangkan untuk Bani Abdud Dar adalah menjaga pintu masuk Ka’bah, membikin bendera dan mengadakan pertemuan.

BACA JUGA: Apakah Orang Mukmin di Antara Keluarga Fir‘aun Lebih Baik daripada Abu Bakar?

Artinya ialah, tidak seorang pun yang boleh masuk Ka’bah kecuali melalui izinnya. Jika orang-orang Quraisy mengibarkan bendera maka orang-orang dari Bani Abdud Darlah yang bertugas memancangkan. Jika mereka melakukan pertemuan, maka semua urusan pertemuan itu ditanggung dan dikelola oleh mereka. Dan pertemuan yang diadakan harus di Dar Nadwah, dan tidak dilakukan kecuali melalui pertemuan di tempat itu. Inilah tugas dari Bani Abdud Dar. []

Sumber: Tarikh Khulafa: Sejarah Para Khalifah/Karya: Imam As-Suyuthi/Penerbit: Darul Khathab Al-Ilmiyah/2000

About Dini Koswarini

Check Also

Teruslah Maju, Wahai Rasulullah

Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

you're currently offline