Foto: Freepik

Shuhaib bin Sinan, Budak Belian yang Mendapat Cahaya

Suhaib bin Sinan, ia dilahirkan dalam lingkungan kesenangan dan kemewahan. Ayahnya menjadi hakim dan walikota Ubullah sebagai pejabat yang diangkat oleh Kisra atau maharaja Persi. Mereka adalah orang-orang Arab yang pindah ke Irak, jauh sebelum datangnya Agama Islam. Dan di istananya yang terletak di pinggir sungai Efrat ke arah hilir Jazirah dan Mosul, anak itu hidup dalam keadaan senang dan bahagia.

Pada suatu ketika, negeri itu menjadi sasaran orang-orang Romawi yang datang menyerbu dan menawan sejumlah pen­duduk, termasuk di antaranya Shuhaib bin Sinan. Ia diper­jual belikan oleh saudagar-saudagar budak belian, dan per­kelanaannya yang panjang berakhir di kota Mekah, yakni setelah menghabiskan masa kanak-kanak dan permulaan masa remaja­nya di negeri Romawi, hingga lidah dan dialeknya telah menjadi lidah dan dialek Romawi.

Majikannya tertarik akan kecerdasan, kerajinan dan kejujurannya, hingga Shuhaib dibebaskan dan dimerdekakannya, dan diberinya kesempatan untuk dapat berniaga bersamanya.

BACA JUGA: Jangan Sampai Kecintaan Terhadap Dunia Hinggap di Dalam Hati Walau Seujung Jari

‘Ammar bin Yasir, mengisahkan peristiwa yang terjadi pada hari itu, “Saya berjumpa dengan Shuhaib bin Sinan di muka pintu rumah Arqam, yakni ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sedang berada di dalamnya.

‘Hendak ke mana kamu?’ tanya saya kepadanya.

‘Dan, kamu hendak ke mana?’ jawabnya. ‘Saya hendak menjumpai Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menjelaskan tentang aqidah Agama Islam kepada kami, setelah kami meresapi apa yang dikemukakannya kami pun menja pemeluknya. Kami tinggal di sana sampai petang hari. Lalu dengan sembunyi-sembunyi kami keluar meninggalkannya…'”

la amat disayangi oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Dan di samping keshalihan dan ketaqwaannya, Shuhaib adalah seorang periang dan jenaka.

Pada suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melihat Shuhaib sedang makan kurma dan salah satu matanya bengkak.

Tanya Rasulullah kepadanya sambil tertawa, “Kenapa kamu makan kurma sedang sebelah matamu bengkak?”

“Apa salahnya?” ujar Shuhaib, “saya memakannya dengan mata yang sebelah lagi.”

Shuhaib adalah pula seorang pemurah dan dermawan. Tun­jangan yang diperolehnya dari Baitul mal dibelanjakan semuanya di jalan Allah, yakni untuk membantu orang yang kemalangan dan menolong fakir miskin dalam kesengsaraan, memenuhi firman Allah Ta’ala, “Dan diberihannya makanan yang disukainya kepada orang miskin, anah yatim dan orang tawanan.”
(Q.S.76 ad-Dahr:8)

Sampai-sampai kemurahannya yang amat sangat itu mengundang peringatan dari Umar, katanya kepada Shuhaib, “Saya lihat kamu banyak sekali mendermakan makanan hingga melewati batas! “

Jawab Shuhaib, “Sebab saya pernah mendengar Rasulullah ber­sabda, ‘Sebaik-baik kaftan ialah yang suka memberi makanan.’”

BACA JUGA: Mereka Dilahirkan oleh Ibu Mereka dalam Keadaan Merdeka

Dan setelah diketahui kehidupan Shuhaib berlimpah ruah dengan keutamaan dan kebesaran, maka dipilihnya oleh Umar bin Khattab untuk menjadi imam bagi Kaum Muslimin dalam shalat mereka, merupakan suatu keistimewaan dan kecemer­langan. []

Sumber: Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah/ Karya: Khalid Muhammad Khalid/ Penerbit : CV Diponegoro Bandung/2006

About Dini Koswarini

Check Also

Teruslah Maju, Wahai Rasulullah

Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

you're currently offline