Foto: Freepik

Sa’id bin Amr: Aku Tidak Ingin Ketinggalan Rombongan Pertama

Sa’id bin Amr menganut Islam tidak lama sebelum pembebasan Khaibar. Dan semenjak itu ia memeluk Islam dan bai’at kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Seluruh kehidupannya, segala wujud dan cita‑citanya, dibaktikan kepada keduanya. Maka ketaatan dan kepa­tuhan, zuhud dan keshalihan, keluhuran dan ketinggian, pendek­nya segala sifat dan tabi’at utama, mendapati manusia suci dan baik ini sebagai saudara kandung dan teman yang setia

Suatu ketika ada yang menasihatkan kepadanya, “Berikanlah kelebihan harta ini untuk melapangkan keluarga dan famili isteri anda!”

BACA JUGA: Inilah Sifat Zuhud Manusia yang Patut Ditiru (Bagian 1)

Maka ujarnya, “Kenapa keluarga dan ipar besanku saja yang harus lebih kuperhatikan? Demi Allah, tidak! Saya tak hendak menjual keridlaan Allah dengan kaum kera­batku.”

Memang telah lama dianjurkan orang kepadanya, “Janganlah ditahan-tahan nafqah untuk diri pribadi dan keluarga anda, dan ambillah kesempatan untuk meni’mati hidup!”

Tetapi jawaban yang keluar hanyalah kata-kata yang senantiasa diulang-ulangnya, “Saya tak hendak ketinggalan dari rombongan pertama, yakni setelah saya dengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla akan menghimpun manusia untuk dihadapkan ke pengadilan. Maka .datanglah orang-orang miskin yang beriman, berdesak-desakkan maju ke depan tak ubahnya bagai kawanan burung merpati.

Lalu ada yang berseru kepada mereka, ‘Berhentilah kalian untuk menghadapi perhitungan!’

Ujar mereka, ‘Kami tak punya apa-apa untuk dihisab.’

Maka Allah pun berfirman, ‘Benar­lah hamba-hamba-Ku itu! Lalu masuklah mereka ke dalam surga sebelum orang-orang lain masuk.’

BACA JUGA: Ketika Sa’id bin Amir Dianggap Lambang Kemalasan

Dan pada tahun 20 Hijriyah dengan lembaran yang paling bersih, dengan hati yang paling suci dan dengan kehidupan yang Paling cemerlang. Sa’id bin ‘Amir pun menemui Allah.” []

Sumber: Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah/ Penulis : Khalid Muhammad Khalid/ Penerbit : CV Diponegoro Bandung,2006

About Dini Koswarini

Check Also

Teruslah Maju, Wahai Rasulullah

Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

you're currently offline