Foto:Free Design File

Saat Nabi Isa Hidupkan Putra Nabi Nuh

Salah satu mukjizat dari Nabi Isa bin Maryam a.s adalah bisa menghidupkan kembali orang yang telah mati atas izin Allah s.w.t. Namun, apa daya orang kafir tetap saja tak peduli apalagi beriman.

Mereka berkata, “Kau hanya bisa menghidupkan orang yang baru mati saja, cobalah hidupkan olehmu orang yang mati sejak zaman dahulu!”

Isa a.s menjawab tanpa ragu, “Pilihlah oleh kalian satu. Siapa yang hendak harus aku hidupkan di hadapanmu!”

BACA JUGA: Tatkala Rasulullah Menceritakan Wasiat Nabi Nuh

“Hidupkanlah Sam anak Nuh!” timpal mereka.

Maka Isa pun pergi ke makam Sam yang terletak tak jauh dari tempatnya. Ia shalat dua rakaat penuh, kemudian berdo’a kepada Allah. Lalu Allah bangkitkan Sam di hadapan mereka. Rambut kepala dan jenggotnya telah memutih semua.

Ditanyalah Sam, “Mengapa kamu beruban, sedang dahulu rambutmu hitam legam?”

Sam pun menjawab dengan iba, “Tetkala kudengar panggilan keluar, aku mengira kiamat telah tiba. Ketakutan diriku menghujam, karena itulah rambutku memutih semua.”

Ditanyanya ia kembali, “Berapa lama engkau mati?”

“Empat ribu tahun, namun belum hilang juga pedihnya maut terasa.”

BACA JUGA: Pandangan Nabi Nuh terhadap Dunia

Dari kisah di atas kita dapat mengambil setidaknya tiga poin pelajaran. Pertama, orang-orang zaman nabi Isa a.s sangatlah “usil”, dengan mencoba dan menguji Nabi putra Maryam tersebut dengan memintanya agar menghidupkan Sam putra nabi Nuh yang telah meninggal ribuan tahun lalu.

Padahal, orang mati yang telah lalu maupun baru sama saja. Mereka telah fana’ dan hilang dari peredaran dunia. Mukjizat pun sama, ayat-ayat Allah yang diturunkan lewat Nabi-Nya sudah patutnya di-imani oleh mereka.

Kedua, betapa menakutkannya hari kiamat. Dalam kisah pendek di atas disebutkan bahwasannya Sam bin Nuh yang tadinya berambut hitam seketika memutih karena ketakutannya akan hari kiamat (kebangkitan). Saat Sam dihidupkan oleh Allah lewat perantara Nabi Isa a.s sebagai salah satu mukjizat-Nya yang hendak diperlihatkan kepada kaum Nabi Isa saat itu.

Ketiga, pedihnya maut. Sam bin Nuh menceritakan kepada Nabi Isa, menyoal betapa pedihnya maut hingga usia kematiannya yang telah empat puluh abad masih ia rasakan.

Jauh dari itu, apakah kita akan seperti itu pula. Layaknya hanya amalan, ilmu dan do’a yang bisa menemani kita menghadapi rasa takut, kecemasan dan kegamangan kita kala menghadapi akhirat kelak.

BACA JUGA: Kisah Nabi Isa, Korban dari Para Pemburu dan Pencinta Dunia

Mudah-mudahan kita dalam Husnul- khatimah. Allahumma Innaa Nas-aluka Husna-al Khaatimah. Wa Hawwin ‘alaina fii Syakaaratil Maut. []

Referensi: Hikmah dari Langit, Ust. Yusuf Mansur

About عبد الله

Check Also

Anak yang Hendak Disembelih

Namun, godaan iblis tak mampu meruntuhkan keimanannya.

you're currently offline