Foto: Islampos

Saat Dzul Bajadain Masuk Islam

Betapa marahnya sang paman saat mendengar keponakannya telah berpindah kepada agama baru yang dibawa oleh “Nabi Baru” Muhammad s.a.w.

BACA JUGA: Masuk Islamnya Ummu Hakim dan Perjuangan Cintanya kepada Ikrimah (Bagian 1)

Keponakannya itu telah yatim piatu sejak kecil, dan ia hidup dengannya. Dengan bulat, sang paman berkeputusan untuk menggoyahkan keyakinan keponakannya. Sang paman menarik kembali seluruh kemewahan yang telah diberikannya kepada keponakannya tersebut.

Bahkan, pakaian yang ada di badannya pun diambilnya kembali. Begitulah hidayah Allah, tak akan tergoyahkan dari hati seseorang jika Allah telah berkehendak.

Abdul Uzza, nama pemuda itu. Hidayah Islam telah meresap ke dalam tubuhnya, rohani dan jasmani.

BACA JUGA: Masuk Islamnya Ummu Hakim dan Perjuangan Cintanya kepada Ikrimah (Bagian 2)

Setelah itu, ia melarikan diri dari kabilahnya, Mazaniah. Di antara Makkah dan Madinah. Ia hanya ingin satu, bertemu dengan Rasulullah Muhammad s.a.w.

Di perjalanannya itulah, ia kemudian menyobek menjadi dua pakaiannya, yang terbuat dari kain tebal dan kasar. Tak layak kiranya untuk dipakai oleh manusia. Itulah Bajad. Pakaian tersebut diberikan kaumnya.

Ia pun tiba di Madinah, ia berhasil bertemu dengan Rasulullah, ia ditanya siapa dirinya dan mengapa mengenakan pakaian seperti itu—ber-bajad.

“Aku adalah Abdul Uzza. Sesungguhnya aku telah keluar dari agama kaumku dan mereka menyiksaku karenanya…” ia ceritakan sebagaimana sedia kala kepada Rasulullah.

Mendengar cerita itu, Rasul pun mengganti nama Abdul Uzza menjadi Abdullah. Rasulullah pun memberinya Laqab atau julukan “Dzul Bajadain” yang artinya pemilik dua kain kasar.  Selain itu, Rasulullah pun mengabarkan bahwa Allah telaah menggantikan kedua kain tersebut dengan kain serta rumah di surga yang dapat digunakan kapan saja.

Setelah itu, Abdullah menetap di Madinah, ia termasuk Ahlus Suffah yang merupakan para sahabat yang menetap atau tinggal di serambi Masjid Nabawi—karena tidak punya tempat tinggal sendiri.

BACA JUGA: Surat Najasyi tentang Keislamannya dan Kesaksiannya tentang Nabi Isa

Sebagai Ahlus Suffah, Abdullah banyak menghafal Al-Quran dari Rasulullah. Ia sering mengeraskan suaranya saat berdoa, membaca Al-Qur’an atau berdzikir. Karena itu, para sahabat khawatir kalau Abdullah akan riya (pamer).

Rasulullah menjawab, “Biarkanlah, sesungguhnya ia sedang berdo’a dan mengadu kepada Rabbnya.” (HR. Baihaqi) []

Sumber: Para Abdullah di Sekitar Rasulullah/karya Haeriah Syamsuddin

About عبد الله

Check Also

Saya Saudara Jauh Muawiyyah

Ada seorang lelaki tak dikenal ingin datang menjumpai Muawiyyah. Di depan rumah, ia berjumpa pertama kali dengan penjaga gerbang.

you're currently offline