Foto: Clutching to Clouds

Saat Asy-Syafi’i Menulis dengan Jari Basah Kecilnya

Di majelis yang syahdu itu, Muhammad bin Idris asy-Syafi’i kecil masih berada dalam pangkuan ibunya. Imam besar Madzhab Fiqih itu, masih 11 tahun.

Tak ada uang untuk membeli pena atau alat tulis apapun untuk belajar di sana, di Majelis Ilmu kota Madinah.

BACA JUGA: Kecerdasan Imam Syafi’i Sejak Kecil

Calon ulama itu meletakkan jarinya di mulut, kemudian menulis-nuliskan dengan telunjuk kanannya di atas telapak tangan kirinya, basah dengan air liur.

Di majelis itu, sang guru, Imam Malik merasa terganggu dengan anak kecil yang menaruh ludahnya di jari, kemudian menggerakkannya di telapak tangan. Dengan pikirnya, asy-Syafi’i kecil sedang bermain-main.

Setelah 2 sampai 3 pelajaran, Imam Malik memanggilnya “kesini kamu!”

Dihampirilah Imam Malik oleh asy-Syafi’i,

“Janganlah hadir lagi dalam pelajaran kami!” Seru Imam Malik.

“Kenapa?” sambung asy-Syafi’i.

“Karena kamu bermain-main dan berbuat sia-sia di sini,” kata Imam Malik.

“Demi Allah, aku tidak bermain-main, memang karena apa saya disebut bermain-main?” tanya asy-Syafi’i.

“Karena kamu menaruh ludah di jarimu dan kau menggerakkannya. Ini sia-sia,” kata Imam Malik.

“Aku hanya menulis hadits,” ujar asy-Syafi’i.

BACA JUGA: Sebelas Pertanyaan untuk Imam Syafi yang Jenius (Bagian 1)

“Kalau begitu, mana alat tulismu, mana penamu? mana kertas-kertasmu? mana tintamu? kau datang tanpa tinta dan pena?” tanya Imam Malik.

Asy-Syafi’i menjawab: “Aku hanya orang miskin, tak mampu ku membeli alat tulis. Aku hanya menulis hadits seperti ini agar aku bisa menghafal.”

“Jika kau mau, aku akan sampaikan apa yang telah kamu sampaikan.”

“Lakukanlah!” kata Imam Malik.

Asy-Syafi’i kecil melafalkan seluruh hadits kepada Imam Malik mulai dari awal sampai akhir pelajarannya. Mulai setelah itu, Imam Malik mendekati dan membantunya.

Perjuangan sang Ibu membantu asy-Syafi’i. Ia membawakan tulang unta dari tukang sembelih di pasar untuk dijadikan alas menulis untuk belajar anaknya.

Diceritakan, bahwa ibunya pergi ke kantor pemerintahan. Mengambil kertas-kertas bekas yang sudah dibuang dan diberikan kepada anaknya untuk menulis hadits.

Jika kita melihat lembaran-lembaran Imam Syafi’i, kita akan melihat di depannya tulisan hadits dan di belakangnya catatan-catatan pemerintahan saat itu.

BACA JUGA: Sebelas Pertanyaan untuk Imam Syafii yang Jenius (Bagian 2)

Dengan berkaca kepada kisah Imam Syafi’i, betapa perjuangan menjadi hal terpenting untuk mencapai keberhasilan. Dengan kebersihan niat, kelurusan tujuan dan ketaatan kepada Allah. []

Sumber: Kajian Al-Amiry

About عبد الله

Check Also

Kemudian Celakalah Dia! Bagaimanakah Dia Menetapkan?

Maka celakalah dia! bagaimana dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! bagaimanakah dia menetapkan?

you're currently offline