Picture: Freepix

Ruqayyah Wafat Tanpa Ada Rasulullah di Sisinya

Ketika kaum Muslim bersiap menuju Perang Badar, istri ‘Utsman yaitu Ruqayyah binti Rasulullah Saw, tertimpa campak sehingga harus terus berada di tempat tidurnya.

Ruqayyah sakit saat sang ayah menyeru orang-orang untuk berangkat menuju medan Badar. Utsman pun bergegas untuk berangkat bersama Rasulullah Saw.

Namun, keinginannya untuk berjuang pada perang Badar harus pupus. Karena Rasulullah mengintruksikan ‘Utsman agar dia tetap tinggal di sisi Ruqayyah untuk merawatnya. ‘Utsman pun menaati perintah tersebut dengan penuh keridhaan.

Utsman akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal dan berada di sisi istrinya yang penyabar nan suci, Ruqayyah. Penyakit yang diderita Ruqayyah semakin parah dan bayang-bayang kematian telah mengitarinya. Dia mengembuskan napas-napas terakhirnya disertai kerinduan yang kuat untuk dapat melihat ayahnya yang sedang berangkat ke Badar dan saudarinya, Zainab yang masih berada di Makkah.

‘Utsman hanya dapat memandangi istrinya di balik tirai air mata dengan kesedihan yang memeras hati. Ruqayyah meninggalkan kehidupan sambil bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Ruqayyah pulang ke sisi Allah Yang Maha tinggi tanpa sempat melihat wajah ayahnya yang sedang berada di Badar bersama para sahabatnya yang mulia untuk meninggikan kalimat Allah Swt. Karena itulah beliau tidak sempat menyaksikan prosesi pemakaman putrinya.

Jasadnya yang suci dipikul dalam keranda di atas bahu orang-orang. Di belakangnya, suaminya, ‘Utsman mengiringinya dengan jiwa yang dirundung kesedihan. Ketika sampai di Baqi’, dimakamkanlah jasad Ruqayyah. Air mata para pengantar bercucuran ketika tanah diratakan di atas kuburan Ruqayyah binti Rasulullah Saw. Setelah pulang, Rasulullah mengetahui kabar kematian putrinya. Beliau pun lalu pergi ke Baqi’. Di sana beliau berdiri di atas kuburan putrinya untuk memohonkan ampun untuknya. []

Sumber: 150 Kisah Utsman bin Affan/ Penulis: Ahmad Abdul `Al Al-Thahtawi/ Penerbit: Mizan/ April 2016

About Erna Iriani

Indonesian Muslimah | Islamic Graduate Student | "Jangan menjadi gila karena cinta kepada seseorang, atau ingin menghancurkan seseorang karena kebencian." (Umar bin Khatab)

Check Also

Saya Saudara Jauh Muawiyyah

Ada seorang lelaki tak dikenal ingin datang menjumpai Muawiyyah. Di depan rumah, ia berjumpa pertama kali dengan penjaga gerbang.

you're currently offline