Foto: ru.depositphotos

Pingsannya Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz berkata kepada salah seorang sahabatnya, “Wahai Abu Fulan, aku memenuhi malam ini dengan berpilkir.”

“Tentang apa, wahai Amirul Mukminin?” tanya Abu Fulan.

Umar menjawab, “Tentang alam kubur dan penghuninya. Melihat seonggok bangkai dikerumuni ulat-ulat dan penuh nanah. Ia dikoyak ulat dan cacing, baunya menyengat, kain kafannya hancur. Itu milik orang yang saat hidup bertampang bagus, harum, dan bersih.”

BACA JUGA: Surat untuk Umar bin Abdul Aziz dari Hasan Al-Bashri

Usai mengucapkan kata-kata itu, Umar menarik napas satu kali dan pingsan. Sang istri yang menyaksikan peristiwa itu berkata, “Celakalah kamu, wahai pengacau, keluarkanlah laki-laki ini (Abu Fulan) dari tempat kami, kehidupan kami menjadi sempit sejak Amirul Mukminin memegang pemerintahan. Alangkah baiknya kalau ia tidak diangkat.”

Lalu, laki-laki itu pun keluar. Kemudian, Fatimah menyiramkan air ke wajah sang suami, sedangkan dia dalam keadaan menangis. Usai siuman, Umar melihat istrinya sedang menangis. Ia bertanya, “Wahai Fatimah, apa yang membuatmu menangis?”

Sang istri menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, aku menyaksikan engkau terkapar di hadapan kami, maka aku ingat bagaimana ketika engkau terkapar di hadapan Allah dan kematian serta sifatmu dalam meninggalkan dunia dan perpisahanmu dengannya. Itulah yang membuatku menangis.”

“Cukup, Fatimah,” ujar Umar. “Perkataanmu sudah sempurna.”

BACA JUGA: Khalifah dengan Seribu Dirham dan Seratus Raka’at Shalat

Kemudian, Umar terhuyung-huyung seakan mau jatuh. Fatimah segera memeluknya seraya berkata, “Demi ayah dan ibuku, wahai Amirul Mukminin, kami tidak bisa mengatakan segala yang ada di hati kami untuk kamu.”

Umar pingsan lagi hingga masuk waktu shalat. Jika sudah demikian, Fatimah menyiramkan air ke wajahnya dan berkata, “Shalat, wahai Amirul Mukrainin.” Lalu, Umar tersadar dan terkejut.

Suatu hari, Fatimah berkata kepada al-Mughirah ibn Hakim, “Wahai Mughirah, sesungguhnya ada orang-orang yang shalat dan puasanya lebih banyak daripada Umar, tetapi aku sama sekali tidak pernah melihat orang yang lebih banyak mengingat Tuhannya daripada Umar. Jika selesai shalat Isya, ia duduk di tempat shalatnya kemudian mengangkat dua tangannya, dan dia akan terus menangis sehingga tidak sadarkan diri. Setelah sadar, ia terus menangis hingga tidak dapat menahan air matanya.” []

Sumber: The Great of Two Umar/ Penulis: Fuad Abdurrahman/ Penerbit: Zaman, 2016

About Erna Iriani

Indonesian Muslimah | Islamic Graduate Student | "Jangan menjadi gila karena cinta kepada seseorang, atau ingin menghancurkan seseorang karena kebencian." (Umar bin Khatab)

Check Also

Kenapa Kau Ada di Ka’bah?

Dari Sufyanbin Uyainah, ia berkata, “Hisyam bin Abdul Malik masuk ke dalam Ka’bah dan ternyata di dalamnya ada Salim bin Abdullah bin Umar bin Khaththab.

you're currently offline