Foto: Free Wallpapers

Pertempuran Jalula dan Harta Rampasan

Raja muda Persia, Yazdjard, yang terkenal ambisius, bertekad merebut kembali wilayah Irak dari tangan kaum muslim. Dari pangkalan militernya di Holwan, ia mengirimkan tentara yang tangguh untuk menghancurkan kaum muslimin.

BACA JUGA: Kisah Penolakan Bani Israil hingga Kemenangan Raja Thalut

Sa’ad bin Abi Waqqash, sahabat Rasulullah yang waktu itu menjabat sebagai gubernur Irak, melakukan longmarch dari Madinah bersama sejumlah tentara yang tidak terlalu banyak.

Kedua, kekuatan bertemu di Jalula dan pertempuran berjalan beberapa hari. Tetapi setelah itu, hari yang menentukan tiba.

Awan debu memenuhi langit Jalula, pedang berkilauan, tombak-tombak beterbangan kian kemari, dan dari seluruh arah medan Jalula terdengar dencing senjata.

Akhirnya semangat pasukan Persia semakin menyusut. Mereka melarikan diri dari medan perang.

Harta rampasan perang yang melimpah memenuhi kamp tentara muslim. Dan jumlah rampasan yang sama dikirim ke khalifah Umar di Madinah.

Kemenangan di Jalula membangkitkan kegembiraan di kalangan kaum muslimin Madinah. Beberapa tokoh senior Madinah menemui khalifah untuk mengucapkan selamat.

Namun mereka mendapatkan Umar tengah menangisi harta rampasan Jalula yang menumpuk di depannya. Para tokoh senior itu heran melihat kesedihan Umar pada hari kemenangan itu dan mereka menanyakan penyebab tangisnya.

BACA JUGA:  Umar : Apakah Aku Ini Seorang Raja Atau Khalifah?

Umar mendongakkan kepala, kedua matanya masih sembab, dan dengan suara parau ia berkata, “Dalam harta rampasan ini aku melihat bibit-bibit kehancuran umatku di masa yang akan datang.” []

Sumber: History of Saracens/karya Hirak Har

About عبد الله

Check Also

Teruslah Maju, Wahai Rasulullah

Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

you're currently offline