Foto: memeflorist

Penyesalan Abu Lubabah

Suatu ketika kaum muslimin sedang berperang melawan kaum musyrikin bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ada enam muslim yang tidak ikut berjihad, padahal mereka dalam keadaan sehat. Tidak ada halangan untuk menunaikan kewajiban di medan perang.

Mereka tidak ikut perang bukan karena tidak mau, tetapi karena tidak sempat ikut. Keenam orang itu sangat menyesal. Salah seorang di antaranya adalah sahabat bernama Abu Lubabah.

BACA JUGA: Perang Dzi Amr atau Perang Ghathafan

“Kita tinggal di rumah dengan nyaman bersama keluarga kita, sementara Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin sedang berperang,” kata Abu Lubabah.

“Iya, mereka menahan haus dan lapar di medan perang, sementara kita makan minum sepuasnya di sini,” kata sahabat yang lain.

“Mereka sedang menyambung nyawa, sementara kita berleha-leha,” ujar yang lain tagi.

Begitulah, mereka sangat menyesal tidak ikut berperang bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

“Demi Allah, aku mengikatkan diriku di tiang gantungan sebagai hukuman. Aku akan terikat sampai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam melepaskannya,” tegas Abu Lubabah.

Tujuh hari lamanya ia tidak makan dan minum sehingga tak sadarkan diri, kemudian Allah mengampuninya.

Lalu ada yang menyampaikan berita itu kepadanya, “Wahai Abu Lubabah, Allah telah mengampuni dosamu.”

Ia berkata, “Tidak. Aku tidak akan membuka ikatanku sebelum Rasulullah datang membukanya.”

Tak lama setelah itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pun datang membukanya.

BACA JUGA: Kebenaran Perihal Terbelahnya Bulan di Masa Rasulullah

Abu Lubabah berkata kepada beliau, “Kiranya akan sempurna taubatku, kalau aku meninggalkan kampung halaman kaumku, tempatku melakukan dosa. Dan aku akan menyumbangkan seluruh hartaku.”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Kau hanya dibenarkan menyumbang sepertiganya saja.”

Begitulah, Abu Lubabah mendapat ampunan, baik dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam maupun dari Allah SWT. Dia pun aktif bersama kaum Muslimin lainnya dalam berbagai peperangan.

Dalam penaklukan kota Makkah, ia memegang panji Bani Amru bin Auf, dan ia menyaksikan masuknya orang-orang secara berbondong-bondong ke dalam agama Islam. Abu Lubabah wafat pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib.

About Dini Koswarini

Check Also

Teruslah Maju, Wahai Rasulullah

Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

you're currently offline