Foto: Dreamstime

Penyerahan Kota Suci kepada Penguasa Tertinggi Islam

Penyerahan Kota Yerusalem Menjelang penyerahan kota Yerusalem ke pihak Islam, Patriarch Sophronius, Uskup Agung, berkata kepada Abu Ubaidah, panglima perang kaum muslim, “Kami hanya akan menyerahkan kota suci ini kepada penguasa tertinggi dari pihak Islam.”

Usai berunding dengan stafnya, Abu Ubaidah segera mengirimkan seorang utusan ke Madinah, dan mengundang Umar bin Khattab untuk menerima penyerahan kota suci Yerusalem itu.

Umar kemudian berkemas untuk menerima penyerahan kota bersejarah itu. Pasukan kecil yang dipersiapkan untuk mengiringinya ditolak. Ia lebih suka berangkat dengan maula atau bekas budaknya.

BACA JUGA: Ketika Umar bin Khattab Dipersilahkan Shalat di Tempat Ibadah Agama Lain

Umar menuju Yerusalem menggunakan seekor unta merah, membawa sekarung gandum, sekantong kurma, sebuah piring kayu, sebuah kantong air terbuat dari kulit, dan selembar tikar untuk shalat. Ia menunggang unta bergantian dengan maulanya. Kadang-kadang, Umar menuntun unta dan maulanya menunggang unta, di waktu lain, Umar menunggang unta dan maulanya menuntun unta.

Ketika sampai di depan gerbang Stepanus (gerbang utama kota suci Yerusalem), kebetulan Umar kebagian jatah menuntun unta. Pembesar-pembesar Yerusalem amat terkejut dan kagum akan kesederhanaan perilaku pemimpin tertinggi dalam Islam itu. Betapa seorang pemimpin dari sebuah imperium baru yang begitu luas, yang berhasil menaklukkan sebagian besar wilayah imperium Romawi dan Persia, berangkat dengan cuma menunggang seekor unta bergantian dengan hamba sahayanya.

Sumber: The Great of Two Umar/ Penulis: Fuad Abdurrahman/ Penerbit: Zaman, 2016

About Erna Iriani

Indonesian Muslimah | Islamic Graduate Student | "Jangan menjadi gila karena cinta kepada seseorang, atau ingin menghancurkan seseorang karena kebencian." (Umar bin Khatab)

Check Also

Sekelumit Baju Besi Ali

Merekahlah senyum Ali, namun ia tak memiliki bukti atas pengakuan tergugatnya itu.

you're currently offline