Foto: Ask the Sheikh

Pengepungan Selama 54 Hari Konstantinopel (Bagian 2 Habis)

Dimulai dari shahabat Abu Ayyub Al Anshari RA, kemudian khalifah Sulaiman bin Abdul Malik dari kekhalifahan Umayyah, khalifah Harun Ar Rasyid dari kekhalifahan Abbasiyah, Sultan Bayazid I serta Sultan Murad II dari kekhalifahan Ustmaniyah telah melakukan ikhtiar yang maksimal untuk menaklukkan konstantinopel, meskipun Allah belum mengizinkan kemenangan untuk mereka.

Maka dari itu, Al Fatih pun menyadari bahwa untuk memperoleh kemenangan istimewa diperlukan persiapan yang istimewa juga. Al Fatih menyadari bahwa “sehebat-hebat pemimpin” serta “sekuat-kuat pasukan” bukanlah hal yang mudah untuk diwujudkan.

BACA JUGA : Pengepungan Selama 54 Hari Konstantinopel (Bagian 1)

Maka dimulailah pembentukan Janissaries, sekelompok pasukan elit yang dididik sejak dini dan khusus dipersiapkan untuk penaklukan konstantinopel. Pasukan ini tak hanya digembleng pada aspek fisik dan taktik namun juga mendapatkan pendidikan agama yang mumpuni. Pada akhirnya, terkumpullah 40.000 pasukan elit yang senantiasa mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya, dan yang terpenting mereka memahami mengapa harus menaklukkan Konstantinopel.

Pasukan eli Dinasti Utsmaniyah, Janissaries. Selanjutnya, Sultan Muhammad Al Fatih membangun sebuah benteng di pinggir selat Bosphorus. Benteng tersebut dikenal dengan nama Rumli Haisar, tingginya 82 meter dan dilengkapi 7 menara citadel. Dengan pembangunan benteng tersebut, urat nadi Konstantinopel menjadi terputus, karena selat Bosphorus sebagai jalur utama transportasi dan perdagangan ke Konstantinopel menjadi di bawah kendali Al Fatih.

Namun masalah utamanya adalah benteng Theodosius, benteng ini memiliki tinggi 30 meter dan ketebalan 30 meter pula. Seribu tahun lebih benteng tersebut kokoh berdiri dan belum terkalahkan. Dan selama benteng tersebut belum mampu ditembus maka selama itu pula kekaisaran Byzantium berkuasa.

Kehebatan dan kekuatan benteng Theodosius ternyata melenakan penguasa Byzantium. Ketika Orban seorang ahli senjata asal Hungaria menawarkan model senjata baru temuannya kepada mereka. Mereka malah menyatakan tak berminat dan merasa puas dengan kekuatan benteng Theodosius.

Situasi ini dimanfaatkan dengan baik oleh Al Fatih, dia pun segera membeli teknologi Orban. Akhirnya pada tahun 1452, Orban berhasil menyelesaikan sebuah senjata terbesar di masa itu. Sebuah meriam raksasa dengan panjang 8,2 meter, diameter 760 centimeter, mampu melontarkan bola besi seberat 680 kg sejauh 1,6 kilometer. Meriam ini dikenal dengan nama “The Muhammed’s Greats Gun”.

Setelah semua persiapan selesai, barulah dimulai penyerangan terhadap Konstantinopel. Total 250.000 pasukan menuju Konstantinopel, sebagian menyerang melalui darat, sebagian menumpangi 400 kapal perang untuk menyerang melalui laut.

Banyak kejadian-kejadian menarik yang terjadi selama penyerangan ini. Dimulai dari meriam buatan Orban yang ternyata benar-benar mampu membuat kerusakan yang signifikan terhadap benteng, namun ternyata hanya bisa ditembakkan tiga jam sekali. Yang tentunya memberi banyak waktu kepada prajurit Konstantin untuk memperbaiki kerusakan.

Lalu 400 kapal perang yang tidak mampu berbuat banyak karena Teluk Tanduk Emas yang merupakan bagian terlemah Konstantinopel ternyata dilindungi oleh rantai raksasa yang tak mampu dihancurkan oleh pasukan laut Al Fatih.

Situasi ini sempat menyisipkan rasa frustasi di barisan tentara Al Fatih. Namun Al Fatih tak kehilangan akal, dia segera menyadari bahwa kehebatan meriam Orban bukanlah penentu kemenangan perang ini. Penentu kemenangan adalah Teluk Tanduk Emas yang dilindungi rantai raksasa, maka harus dipikirkan cara yang tepat untuk menaklukkan rantai tersebut.

Singkat cerita, Al Fatih mengadakan rapat tertutup dengan para panglimanya. Rapat tersebut menghasilkan sebuah keputusan yang cukup fenomenal, yaitu kapal-kapal perang diangkat melalui bukit untuk melewati rantai raksasa. Pasukan Byzantium tentu tak menduganya, mereka seakan tak percaya bahwa ada manusia setelah Nuh AS yang nekad mempertemukan bukit dengan kapal.

BACA JUGA : Andai Kita Hidup di Zaman Umar bin Abdul Aziz

Akhirnya, pada tanggal 29 Mei 1453 setelah pengepungan selama 54 hari Konstantinopel berhasil ditaklukkan. Bendera hitam putih bertuliskan kalimat tauhid berkibar di atas benteng dan Sultan Muhammad Al Fatih menginjakkan kaki di gerbang masuk Konstantinopel untuk pertama kalinya.

Selain menjadi titik tolak kemajuan kekhilafahan Utsmani, penaklukan Konstantinopel juga mampu menginspirasi lintas generasi umat Islam setelahnya bahwa janji Allah dan Rasul-Nya selalu benar adanya. []

Sumber: Beyond The Inspiration/Karya: Ustadz Felix Y. Siauw/Penerbit: Al Fatih Press

About Dini Koswarini

Check Also

Nabi Ibrahim Hanya Meninggikan Bangunan Kabah, Bukan Membuat Pondasi

Sebenarnya, yang dilakukan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS adalah meninggikan Ka'bah, karena fondasi Ka'bah telah ada sebelumnya.

you're currently offline