Foto: Pngtree

Pengepungan Selama 54 Hari Konstantinopel (Bagian 1)

“Apabila engkau seorang sultan, kemarilah dan pimpin pasukanmu. Namun, apabila engkau mengakui aku sebagai sultan, maka aku memerintahkanmu sekarang juga untuk datang dan memimpin pasukanku.”

Kalimat tersebut ditulis oleh Sultan Muhammad II dalam surat yang ditujukan kepada ayahnya. Ketika itu Sultan masih berusia 12 tahun, dan dia harus mendapati dirinya terdesak dalam sebuah peperangan melawan pasukan salib di Varna-Bulgaria.

BACA JUGA: Penaklukan Baitul Maqdis dan Berjangkitnya Wabah Penyakit

Sementara ayahnya, Murad II telah memutuskan untuk mengasingkan diri dari berbagai urusan duniawi, hanya menyibukkan dirinya bertaqarrub kepada Allah SWT. Murad II selalu menolak setiap anaknya meminta bantuan, namun kali ini dia tak dapat mengelak, kalimat di atas tak mempunyai jalan keluar selain kembali turun gunung membantu anaknya memenangkan peperangan.

Itulah salah satu potret kecerdasan Muhammad II yang juga dikenal sebagai Muhammad Al Fatih. Melihat perjalanan sejarah Khilafah Ustmaniyah, rasanya tidak berlebihan menyebut beliau sebagai titik tolak kemajuan Khilafah Ustmaniyah. Beliau telah membawa Khilafah Ustmaniyah dari fase “begitu-begitu saja” menuju fase perkembangan dan kemajuan yang bisa jadi tak pernah diimpikan oleh seorang Ertugrul Gazi pendiri khilafah tersebut.

Salah satu titik tolak tersebut adalah penaklukan Konstantinopel. Konstantinopel bukanlah wilayah biasa-biasa saja, yang sekedar menambah luas wilayah kekuasaan ketika ditaklukan. Banyak hal yang membuat penaklukan Konstantinopel terasa istimewa.

Pada masa tersebut, konstantinopel dianggap sebagai kota terbesar, terkaya, dan terindah. Semua dikarenakan posisi strategisnya yang berada di jalur utama perdagangan antara laut Aegean dan laut Hitam. Posisi yang strategis serta keindahan yang dimiliki oleh Konstantinopel digambarkan oleh Napoleon Bonaparte dalam sebuah kalimat yang agak berlebihan, “kalaulah dunia ini sebuah negara maka Konstantinopel lah yang paling layak menjadi ibu kota negara.”

Selain itu, dalam tatanan dunia lama ketika hegemoni kekuasaan masih menjadi milik kekaisaran serta kerajaan, menguasai Konstantinopel yang notabene ibu kota kekaisaran Byzantium bisa berarti mempertegas hegemoni kekuasaan khilafah Ustmaniyah di mata dunia. Penaklukan Byzantium akan membuat kekaisaran manapun berpikir berulang kali jika ingin berkonfrontasi dengan khilafah Ustmaniyah.

Namun, di luar semua itu. Sebagai seorang muslim, yang setidaknya mengucap syahadat tujuh belas kali sehari. Persaksian bahwa “tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah” telah membawa Muhammad Al Fatih kepada kepercayaan yang penuh terhadap firman Allah SWT maupun perkataan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang terabadikan dalam hadits-haditsnya.

BACA JUGA: Awal Fitnah yang Terjadi di Tengah-tengah Umat

Maka ketika Al Fatih mendengar hadits yang berbunyi “Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sehebat-hebat pemimpin adalah pemimpinnya, dan sekuat-kuat pasukan adalah pasukannya”, dia menganggapnya sebagai sebentuk bisyarah yang menginspirasi serta memotivasi dirinya.

Maka dari itu, Al Fatih pun menyadari bahwa untuk memperoleh kemenangan istimewa diperlukan persiapan yang istimewa juga. Al Fatih menyadari bahwa “sehebat-hebat pemimpin” serta “sekuat-kuat pasukan” bukanlah hal yang mudah untuk diwujudkan.

Dengan anugerah kecerdasan yang dimiliki, pemahaman agama yang baik, serta takdirnya sebagai seorang pemimpin sebuah kekhilafahan Islam, membuat Muhammad Al Fatih merasa wajib untuk meneruskan apa yang pernah diupayakan oleh para salafus sholih dalam merealisasikan bisyarah tersebut. []

Sumber: Beyond The Inspiration/Karya: Ustadz Felix Y. Siauw/Penerbit: Al Fatih Press

About Dini Koswarini

Check Also

Nabi Ibrahim Hanya Meninggikan Bangunan Kabah, Bukan Membuat Pondasi

Sebenarnya, yang dilakukan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS adalah meninggikan Ka'bah, karena fondasi Ka'bah telah ada sebelumnya.

you're currently offline