Foto: jabuka.tv

Mengapa Tidak Engkau Belah Saja Hati Orang Itu?

Usamah bin Zaid yang diangkat menjadi komandan pasukan kaum Muslim yang dikirim ke Syam. Setelah empat tahun penaklukan Khaibar. Selanjutnya, ketika ‘Utsman bin ‘Affan menjabat khalifah, ia diangkat sebagai Gubernur Madinah, kemudian Basrah. Dan, pada masa tuanya, ia memilih untuk singgah di kota kelahirannya, Madinah—dengan menghindarkan diri dari konflik politik yang terjadi pada waktu itu—hingga meninggal dunia pada 54 H/674 M pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan.

Madinah, 7 Hijriah. Selepas menaklukkan Khaibar (yang terkenal sulit ditaklukkan) dan memimpin pasukan kaum Muslim dalam Perang Dzat Al-Riqat, Rasulullah Shalalalhu ‘alaihi wasallam berstirahat di Kota Suci itu. Untuk menghadapi serangan dan gangguan dari pelbagai pihak lawan, beliau hanya mengirim satuan-satuan kecil yang paling banyak terdiri sekitar seratus prajurit.

baca juga: Kisah Pemuda Saleh dari Utsman bin Affan

Salah satunya adalah satuan yang dipimpin Ghalib bin ‘Abdullah Al-Laitsi. Satuan pasukan ini dikirim ke Al-Huruqat, wilayah Juhainah. Salah satu anggotanya adalah Usamah bin Zaid. Sahabat yang satu ini merupakan putra pasangan Zaid bin Haritsah, sahabat terkemuka yang gugur dalam Perang Mu’tah, dan Ummu Aiman, mantan sahaya dan pengasuh Rasulullah Shalalalhu ‘alaihi wasallam.

Ketika tiba di wilayah Juhainah, pada dini hari, pasukan tersebut terlibat pertempuran dengan pasukan kaum musyrik di wilayah itu. Ketika pertempuran tengah berkecamuk, seorang musyrik bernama Mirdas bin Nuhaik berhasil membunuh beberapa prajurit Muslim.

Melihat hal itu, Usamah pun memburu Mirdas. Ketika Mirdas dalam posisi terjepit, ia mengucapkan kalimat syahadat (laa ilaaha illallah: tiada Tuhan selain Allah).

Usamah, yang meragukan keimanan orang itu, tetap tidak menghiraukan persaksian dan pernyataan Mirdas tersebut dan membunuhnya.

Selepas pertempuran usai, pasukan kaum Muslim yang akhirnya berhasil meraih kemenangan itu kembali ke Madinah. Rasulullah Shalalalhu ‘alaihi wasallam pun menyambut dengan sukacita kedatangan pasukan itu.

Namun, ketika beliau menerima laporan tentang apa yang dilakukan Usamah, wajah beliau berubah karena merasa tidak berkenan dengan tindakan anak muda yang kerap beliau sanjung itu.

Beliau pun memanggil Usamah dan berkata kepadanya, “Usamah! Mengapa engkau membunuh seorang musyrik yang telah mengucapkan kalimat syahadat?”

“Wahai Rasul, orang tersebut telah menyakiti kaum Muslim dan membunuh si Fulan dan si Fulan. Maka, saya pun memburunya. Dan, ketika dalam posisi terjepit, ia mengucapkan kalimat syahadat. Saya menduga, dia berkata demikian semata untuk menyelamatkan diri saja,” jawab Usamah lirih seraya menundukkan kepala.

“Mengapa tidak engkau belah saja hati orang itu sehingga engkau tahu apakah hatinya mengucapkan kalimat syahadat atau tidak?” sergah Rasulullah Shalalalhu ‘alaihi wasallam dengan wajah memerah karena merasa jengah terhadap tindakan Usamah tersebut.

“Wahai Rasul, mohonkanlah ampun untuk saya,” ucap Usamah lirih dan sedih serta menyesali diri atas tindakannya yang gegabah tersebut.

BACA JUGA: Keserakahannya Tak Mampu Melihat Kelembutan Kaum Muslimin

“Usamah! Bagaimana engkau akan mempertanggungjawabkan tindakanmu membunuh seseorang yang telah mengucapkan kalimat syahadat pada hari kiamat kelak? Bagaimana engkau akan mempertanggungjawabkan tindakanmu membunuh seseorang yang telah mengucapkan kalimat syahadat pada hari kiamat kelak?” kata Rasulullah Shalalalhu ‘alaihi wasallam.

Betapa sedih dan pilu hati Usamah bin Zaid mendengar kata-kata Rasulullah Shalalalhu ‘alaihi wasallam yang demikian itu. Sehingga, hari itu, ia merasa seakan belum memeluk Islam dan ingin mendalami ajarannya. []

Sumber: Mutiara Akhlak Rasulullah S.A.W.: 100 Kisah Teladan tentang Iman, Takwa, Sabar, Syukur, Ridha, Tawakal, Ikhlaas, Jujur, Doa, dan Tobat/Karya: Ahmad Rofi Usmani/Penerbit: Mizania/2006

About Dini Koswarini

Check Also

Teruslah Maju, Wahai Rasulullah

Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

you're currently offline