Foto: Vecteezy

Menepis Rasa Curiga

Di suatu malam di bulan Ramadhan. Rasulullah saw berjalan berdua dengan isterinya, Ummu Salamah, menyeruak kegelapan. Ini terjadi saat Rasulullah saw hendak mengantar sang isteri pulang ke rumahnya setelah menengok Rasulullah yang tengah melakukan i’tikaf. Dalam perjalanan itu mereka berpapasan dengan seorang laki-laki.

Demi melihat itu, laki-laki itu menghentikan langkahnya sejenak. Menyadari bahwa posisinya bisa mengundang kecurigaan. Rasulullah saw mengatakan kepada orang itu, “Saudaraku, ini adalah isteriku.”

Begitulah Rasulullah saw berusaha menepis kecurigaan. Beliau tidak rela membiarkan prasangka berkembang menjadi fitnah. Karena memang syetan—baik dari kalangan jin maupun manusia—akan selalu mencari-cari jalan bahkan celah sekecil apa pun untuk meniupkan tuduhan-tuduhan busuk. Bisa dibayangkan bila kecurigaan orang itu berkembang menjadi isu dan ditambah dengan provokasi orang-orang munafik, maka bukan mustahil akan menjadi berita dusta seperti yang pernah menimpa Aisyah—semoga Allah meridhoinya—dengan peristiwa yang dalam sirah terkenal dengan Haditsul-ifki (berita dusta).

Memang kecurigaan tidak selalu berbuah buruk. Bahkan pada saat tertentu hal itu dibutuhkan. Itulah kecurigaan dalam bentuk sensitivitas dalam membaca suasana, situasi, atau kondisi tak nampak yang ditindaklanjuti dengan upaya-upaya perbaikan dan bukan menyebarkan aib. Ini terjadi pada Salman Al-Farisi.

Saat dia berkunjung ke rumah Abu Darda. Begitu datang ke rumahnya Salman disambut oleh isterinya yang berpakaian lusuh. Salman mencurigai ada sesuatu yang tidak beres pada diri sahabatnya itu. Atas dasar itu ia bertanya, “Mengapa engkau tampak lusuh?”

Ummu Darda, isteri Abu Darda itu menjawab, “Kawanmu itu tidak suka dengan dunia.”

Salman sudah mempunyai kecurigaan dan menyimpan sedikit informasi tentang Abu Darda; mengabaikan hak-hak isterinya. Begitu Abu Darda datang menyambut, Salman pun dipersilakan masuk lalu dihidangkan makanan kepadanya. “Makanlah, saya sedang berpuasa,” pinta Abu Darda. “Saya tidak akan makan jika kamu tidak makan,” sahut Salman. Akhirnya Abu Darda membatalkan puasanya dan makan bersama tamunya yang berencana menginap di rumahnya.

Memasuki malam hari mereka tidur. Pada sepertiga malam pertama Abu Darda bangun untuk salat malam. Namun oleh Salman dicegah dan disuruh tidur. Dan pada tengah malam Abu Darda bangun lagi untuk salat. Namun Salman menahannya pula. Pada sepertiga malam terakhir Salman yang bangun dan membangunkan Abu Darda untuk salat malam.

Usai salat subuh Salman mentaujih saudaranya itu, “Wahai saudaraku, sesungguhnya dirimu punya hak yang harus kamu tunaikan; sesungguhnya tubuhmu punya hak yang harus kamu tunaikan; dan sesungguhnya isterimu pun punya hak di atas pundakmu yang harus kamu tunaikan. Maka tunaikanlah setiap hak itu untuk pemiliknya.”

Begitulah, mengikuti rasa curiga ada yang terlarang ada yang dibenarkan. Bahan baku kecurigaan sebenarnya prasangka buruk. Dan prasangka itu sama sekali tidak dapat menggantikan kebenaran. Karenanya Rasulullah saw bersabda, “Jika kamu memiliki prasangka maka janganlah sok yakin.” Dan Allah swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka karena sebagian prasangka itu dosa.” (Al-Hujurat 12).[]

About Admin 1

Check Also

Manisnya Menggigit Iman

Iman yang mantap disertai keteguhan hati bisa disejajarkan dengan sebuah gunung yang tidak bisa diusik.

you're currently offline