Picture: Salamun Picassa - blogger

Memenuhi Undangan

Selepas walimatul ursy pernikahan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, dengan Aisyah binti Abu Bakar AI-Shiddiq pada tahun kedua Hijriah, pasangan suami-istri itu kemudian pindah ke rumah yang baru, yaitu ke salah satu bilik yang telah dibangun oleh Rasulullah di sekitar Masjid Nabawi dari tanah liat dan pelepah kurma. Di bilik itu diletakkan sebuah tempat tidur dari kulit yang disamak, diisi bulu. Di pintu digantungkan tirai dari bulu. Di dalam bilik yang sederhana itulah Aisyah memulai kehidupan berkeluarga yang sibuk.

Rumah baru Rasulullah bersama Aisyah ini bertetangga dengan orang Persia.

Suatu ketika, Rasulullah sedang bersama sang istri tercintanya Aisyah. Mengetahui beliau sedang di rumah sang istri tercinta, tetangga beliau yang berasal dari Persia dan terkenal piawai memasak segera menyiapkan hidangan untuk beliau. Setelah hidangan itu siap, ia lantas menemui dan mengundang beliau. Karena sedang bersama sang istri tercinta, beliau pun bertanya kepada orang Persia tersebut, “Wahai saudaraku! Apakah Aisyah, istriku, juga diundang?”

“Tidak, wahai Rasul!” jawab orang Persia itu yang ternyata hanya menyiapkan hidangan itu untuk beliau saja.

Mendengar jawaban orang Persia tersebut, Rasulullah. pun berkata kepada sang istri tercinta, “Wahai Aisyah! Engkau tidak diundang.”

Merasa enggan menerima undangan tanpa mengajak sang istri tercinta, Rasulullah. lantas dengan halus menolak undangan orang Persia tersebut. Merasa ingin sekali rumahnya mendapat kehormatan didatangi oleh beliau, orang itu kemudian mengundang lagi beliau untuk mencicipi hidangan yang telah disiapkannya. Beliau, yang tak biasa menolak undangan, lantas bertanya kepada orang itu dengan ramah dan santun, “Wahai saudaraku! Apakah Aisyah, istriku, juga diundang?”

“Tidak, wahai Rasul!” jawab orang Persia tersebut yang belum juga menyadari ketidakpekaannya atas perasaan cinta Rasulullah. terhadap Aisyah binti Abu Bakar dan keengganan beliau meninggalkan sang istri sendirian untuk memenuhi undangan untuk menikmati hidangan.

Mendengar jawaban orang Persia tersebut, Rasulullah, pun berkata kepada sang istri tercinta, “Wahai Aisyah! Engkau tidak diundang.”

Merasa enggan menerima undangan tanpa mengajak sang istri tercinta, Rasulullah. sekali lagi dengan halus menolak undangan orang Persia tersebut. Tetapi, karena tetap merasa ingin sekali rumahnya mendapat kehormatan didatangi oleh beliau, orang itu kemudian mengundang beliau sekali lagi untuk mencicipi hidangan yang telah disiapkannya. Beliau, yang tak biasa menolak undangan, lantas bertanya kepada orang itu untuk ketiga kalinya dengan ramah dan santun, “Apakah Aisyah, istriku, juga diundang?”

“Ya, ya, wahai Rasul!” jawab orang Persia itu merasa bersalah karena baru menyadari ketidakpekaannya atas perasaan cinta Rasulullah Saw. terhadap putri Abu Bakar AI-Shiddiq tersebut.

Mendengar jawaban orang Persia tersebut, Rasulullah. pun dengan gembira mengiyakan undangan tersebut. Dan, beberapa saat kemudian, beliau dan Aisyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq pergi beriringan menuju rumah orang Persia tersebut. []

Sumber: Wangi Akhlak Nabi/ Penulis: Ahmad Rofi’ Usmani/ Penerbit: Mizania/ September, 2007

About Erna Iriani

Indonesian Muslimah | Islamic Graduate Student | "Jangan menjadi gila karena cinta kepada seseorang, atau ingin menghancurkan seseorang karena kebencian." (Umar bin Khatab)

Check Also

Beginilah Akhirnya Bila Hanya Mencintai Rupa

Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata, “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”

you're currently offline