Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Membawa Api Neraka atau Meninggalkannya

47

Ummu Salamah merupakan Istri keenam Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan putri pasangan suami istri Abu Umayyah bin Al-Mughirah bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin Makhzum bin Yaqzhah bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ayyi bin Ghalib Al-Qurasyi Al-Makhzumi dan ‘Atikah binti ‘Amir bin Rabi’ah bin Malik bin Khuzaimah.

BACA JUGA: Ketika Aisyah Cemburu dengan Kecantikan Ummu Salamah

Ummu Salamah lahir sembilan tahun sebelum kenabian dengan nama Hindun. Semula dia menikah dengan sepupunya, ‘Abdullah bin ‘Abdul Asad bin Hilal bin ‘Abdullah bin ‘Umar bin Makhzum yang dikenal dengan sebutan Abu Salamah.

Setelah memeluk Islam, pasangan suami istri ini berhijrah ke Habasyah karena tidak kuat menahan penganiayaan kaum musyrik Quraisy. Di sana, lahir anak laki-laki mereka yang bernama Salamah. Selepas dari Habasyah, mereka langsung menuju Madinah.

Di Kota Nabi ini, mereka dikaruniai seorang putra, ‘Umar, dan dua orang putri, Durrah dan Zainab. Dalam Perang Uhud, ‘Abdullah mendapat luka-luka berat sampai lama tidak juga sembuh. Lantas, pada Shafar 4 H/Juli 625 M dia ikut lagi melakukan ekspedisi.

Sekembalinya dari sana, luka lamanya kambuh sehingga meninggal dunia. Ummu Salamah ketika itu sedang hamil. Putri Ummu Salamah, Zainab, lahir setelah suaminya wafat. Melihat Ummu Salamah senantiasa bersedih setelah ditinggalkan sang suami, maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memutuskan untuk menghiburnya dengan menikahinya pada Syawwal 4 H/ Maret 626 M.

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sedang bercengkerama dengan sang istri, tiba-tiba Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mendengar keributan tidak jauh dari bilik Ummu Salamah tersebut. Mereka tampaknya meributkan suatu persoalan yang sebelumnya telah mereka tanyakan kepada beliau.

Tetapi, mereka kemudian mempermasalahkan keputusan beliau karena alasan-alasan tertentu. Mendengar perselisihan yang tidak enak didengar tersebut, akhirnya beliau keluar dari bilik sang istri yang terkenal cantik dan cerdas tersebut.

BACA JUGA: Ummu Salamah Menceritakan Perjalanan Hidupnya (Bagian 1)

Tak lama kemudian, Ummu Salamah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berucap, “Wahai sahabatku! Aku hanyalah seorang manusia dan orang-orang datang kepadaku meminta pengadilan. Mungkin, sebagian di antara mereka lebih pandai berbicara daripada yang lain. Akibatnya, aku menyangka ia di pihak yang benar dan memenangkannya dalam putusan pengadilan dengan merugikan hak Muslim yang lain. Tapi, sejatinya tindakannya yang demikian itu merupakan sepotong api neraka. Karena itu, terserah baginya apakah ia akan membawa api neraka itu atau meninggalkannya.” []

Sumber: Wangi Akhlak Nabi: Kisah-Kisah Teladan Rasulullah SAW. Tentang Cinta, Persaudaraan dan Kebaikan/Karya: Ahmad Rofi’ Usmani/Penerbit: Mizania/2007

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More