Picture: Pinterest

Masuk Islamnya Khalid Bin Walid

Sebelum pergi ke Madinah, Khalid bin Walid singgah di rumah Ikramah bin Abu Jahal. Sahabatnya itu muncul di depan pintu, ketika melihat kedatangan Khalid. “Selamat datang wahai sahabat. Ayo masuk,” ucap Ikramah dengan ramah, sembari mempersilahkan khalid untuk masuk ke rumahnya.

Dia begitu berbesar hati menyambut kedatangan Khalid kerana sahabatnya itu telah sudi datang ke rumahnya. “Silakan duduk wahai sahabatku,” ujar Ikramah.

Khalid segera duduk. Wajahnya kelihatan serius seperti ada sesuatu yang sedang bermain dalam fikirannya. Sorotan matanya tajam merenung, perlu berucap apa dirinya kepada Ikramah. “Mengapa tidak ikut serta dengan orang ramai di Kaabah tadi?” tanya Khalid kepada Ikramah.

“Saya baru pulang daripada berburu. Ada apa orang-orang berkumpul di Kaabah?”tanya Ikramah kembali.

Ikrimah merasa ada yang berbeda dengan sikap Khalid bin Walid karena tidak seperti biasanya.

“Saya yang menyuruh orang-orang untuk berkumpul di depan Ka’abah,”jawab Khalid tanpa memandang ke arah Ikramah.

“Apakah kamu hendak mengajak kami berperang dengan Muhammad?”tanya Ikrama.

Khalid tidak segera menjawab pertanyaan Ikramah. Dia sebenarnya kurang senang dengan pertanyaan itu.
“Saya sebenarnya mengajak kepada mereka untuk membenarkan apa yang disampaikan oleh Muhammad. Saya juga hendak pergi ke Madinah untuk bertemu dengan Muhammad,”jawab Khalid.
Ikramah terkejut mendengar kata-kata sahabatnya itu. Dia bangun dan berjalan mundar-mandir di hadapan Khalid. Ikramah mengusap-usap janggutnya. “Kamu tidak boleh mengucapkan kata-kata itu.”

“Mengapa?” tanya Khalid.

“Muhammad sudah mengaibkan dan menghina tuhan-tuhan kita. Dia juga membunuh banyak keluarga kita dalam perang Badar dan Uhud. Ayah saya turut menjadi korban dalam peperangan Badar. Kita tidak boleh mengikuti Muhammad. Dia adalah musuh kita.”Ikramah meyakinkan Khalid.

“Kamu tidak boleh berfikiran begitu. Kamu masih dibelenggu kesombongan dan kejahilan,” balas Khalid. “Saya sudah mendapat cahaya kebenaran. Saya tidak akan sekali-kali kembalike agama nenek moyang.”

Ikramah seperti tidak percaya kata-kata itu diucapkan oleh Khalid bin Walid. “Mengapa dia tiba-tiba berubah? Mungkinkah dia sudah terkena sihir Muhammad?” bisik hatinya. Ikramah tidak membalas kata-kata Khalid. Dia masih terkejut dengan perubahan sahabatnya itu.

“Siapa pun yang memusuhi Muhammad adalah musuh saya. Dan barangsiapa yang bersahabat dengan Muhammad adalah sahabat saya,” ujar Khalid lagi.

Dia segera bangun lalu meninggalkan Ikramah yang masih termangu. Selepas bertemu Ikramah, dia bertemu pula dengan Amru bin Ash. “Apakah kamu menjadi pengikut Muhammad, wahai Abu Sulaiman?” tanya Amru kepada Khalid. Abu Sulaiman adalah nama panggilan Khalid. “Akal saya masih sehat dan fikiran saya masih waras. Saya bukan terkena sihir Muhammad, tetapi saya mendapat petunjuk dariTuhan. Muhammad itu nabi-Nya dan saya hendakpergi ke Madinah hendak bertemu dengannya” Khalid berterus terang.

Amru bin Ash menundukkan kepalanya mendengar kata-kata Khalid bin Walid. Dia tidak terkejut dan tidak menunjukkan tanda marah. Sikapnya berbeda dengan Abu Sufian dan Ikramah. “Semoga kamu juga mendapat petunjuk ke jalan yang benar,” kata Khalid kepada Amru bin Ash.

Amru bin Ash hanya berdiam diri. “Saya juga mau menjadi pengikut Muhammad. Kamu berangkatlah terlebih dahulu ke Madinah. Saya akan menyusul kemudian,” ujar Amru.

Khalid tersenyum mendengar kata-kata Amru. Kedua-duanya bersalaman sebelum berpisah. “Berhati-hati dalam perjalanan kerana pemimpin Quraisy ingin membunuhmu,” pesan Amru bin As sambil menepuk bahu Khalid.

“Barangsiapa yang menghalang saya menemui Muhammad, istrinya pasti menjadi janda dan anak-anaknya menjadi yatim,” balas Khalid lagi.

Amru tersenyum mendengarnya. Kata-kata Khalid itu sedikit dapat memadamkan kebimbangan dalam hatinya. “Semoga perjalanan kamu dilindungi Tuhan.” Amru bin As berdoa untuk sahabatnya. Khalid bin Walid menunggang kudanya dengan tenang merentasi padang pasir yang panas. []

Sumber: Khalid Al-Walid: Memburu Syahid/ Penulis: Abdul Latip Talib/ Penerbit: PTS/ 2007

About Erna Iriani

Indonesian Muslimah | Islamic Graduate Student | "Jangan menjadi gila karena cinta kepada seseorang, atau ingin menghancurkan seseorang karena kebencian." (Umar bin Khatab)

Check Also

Saya Saudara Jauh Muawiyyah

Ada seorang lelaki tak dikenal ingin datang menjumpai Muawiyyah. Di depan rumah, ia berjumpa pertama kali dengan penjaga gerbang.

you're currently offline