Foto:ayuprint.co.id

Kitab Risalah Tauhid Karya Muhammad Abduh

Muhammad Abduh dilahirkan di Manhallat Nash pada tahun 1849 M (Lubis, 1993:111-112) sebuah dusun di dekat sungai Nil, propinsi Gharbiyyah-Mesir. Ayahnya seorang petani yang taat beribadah dan mempunyai dua orang isteri. Muhammad Abduh belajar membaca dan menulis di rumah.

Pada usia dua belas tahun, ia telah menghafal Al-Qur’an (Rahnema, 1998: 36). Pada tahun 1866, Muhammad Abduh masuk ke al-Azhar, sebuah pusat ilmu pengetahuan yang yang besar pada masa itu.

BACA JUGA: Ilmuan yang Pertama Meneliti Jari-jari Bumi

Tahun 1877 Muhammad Abduh menyelesaikan pendidikannya di al-Azhar dan mendapat gelar sebagai Alim. la mulai mengajar pertama di al-Azhar kemudian di Dar al-Ulum dan juga di rumahnya sendiri.

Pada tahun 1889 ia diangkat sebagai Mufti Besar. Jabatan tinggi ini didudukinya sampai ia meninggal dunia pada tahun 1905 (Nasution, 1996: 62). Dalam kitabnya yang berjudul Risalatal-Tauhid, Muhammad Abduh mengemukakan bahwa,Tauhid adalah ilmu yang membahas tentang wujud Allah, dan tentang sifat- sifat yang pasti ada (wajib) padaNya, sifat-sifat yang bisa ada (Jalz) padaNya, dan sifat-sifat yang pasti tidak ada (mustahil) padaNya.

Ilmu Tauhid juga membahas tentang para Rasul untuk mengukuhkan kerasulan mereka, dan sifat-sifat yang pasti ada (wajib) pada mereka, sifat-sifat yang bisa dinisbatkan kepada mereka (Jalz), serta sifat-sifat yang tidak mungkin dilekatkan (mustahM pada mereka. Risalah ini dimulai dengan uraian tentang definisi teologi atau ilmu tauhid, seperti studi tentang eksistensi Tuhan, keesaanNya, sifat-sifat-Nya, dan sifat wahyu kenabian.

Menurut pengamatannya, sebelum Islam, teologi belum dikenal, tetapi metode demonstrasi yang digunakan oleh para teolog pra-Islam cenderung menjadi suatu jenis adikodrati, seperti himbauannya kepada mu’jizat (keajaiban-keajaiban), pembicaraan retorik, atau legenda.

Al-Qur’an menentang semua itu. la menyingkapkan dengan suatu cara yang tidak dapat ditiru, pengetahuan apa yang telah dibolehkan atau ditentukan Tuhan, tetapi tidak menentukan penerimaannya semata-mata atas dasar wahyu,tetapi dengan mengajarkan pembuktian dan demonstrasi, menguraikan pandangan-pandangan orang yang tidak beriman, dan membantah mereka secara rasional.

Ringkasnya ia menyatakan bahwa akal sebagai penentu terakhir tentang kebenaran dan menetapkan perintah-perintah moralnya atas dasar rasional yang kokoh. Oleh karena itu, akal dan agama dibariskan sejajar, untuk pertama kalinya dalam Kitab Suci yang diwahyukan Allah kepada Nabi yang menjadi utusan-Nya.

Akibatnya orang Islam menyadari bahwa akal sangat diperlukan untuk menerima butir-butir kepercayaan yang demikian, seperti eksistensi Tuhan, kerasulan nabi-nabi-Nya, dan juga pemahaman tentang masalah-masalah pokok wahyu dan memenuhi tuntutan-tuntutannya.

Mereka juga menyadari bahwa, sekalipun beberapa artikel ini mungkin melampaui daya jangkau akal, namun mereka tidak bertentangan dengannya. Ada tiga hal yang mendasari pemikiran teologi Muhammad Abduh yaitu; kebebasan manusia dalam memilih perbuatan, kepercayaan yang kuat kepada sunnah Allah, dan fungsi akal yang sangat dominan dalam mempergunakan kebebasan.

BACA JUGA: Inilah Kontribusi Abu Jazla, Ilmuan Muslim, untuk Dunia Kedokteran

Dengan ketiga dasar pemikiran tersebut, beberapa penulis menilai Muhammad Abduh cenderung kepada pemikiran Muktazilah. Akan tetapi sesuai dengan pernyataannya, dia mengaku sebagai pengikut metode salaf yang tidak menafsirkan hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan, sifat-sifat-Nya, dan Alam gaib.  []

Sumber: buku Ilmu Kalam Kelas X MA/Kementerian Agama Republik Indonesia/2015

About Dini Koswarini

Check Also

Nabi Ibrahim Hanya Meninggikan Bangunan Kabah, Bukan Membuat Pondasi

Sebenarnya, yang dilakukan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS adalah meninggikan Ka'bah, karena fondasi Ka'bah telah ada sebelumnya.

you're currently offline