Kisah Sahabat Nabi – Jalan Sirah http://www.jalansirah.com Meniti Jalan Nabi Fri, 24 Aug 2018 04:11:37 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.5.1 Inilah Alasan Rasulullah Memberinya Perlindungan http://www.jalansirah.com/18184inilah-alasan-rasulullah-memberinya-perlindungan.html Fri, 24 Aug 2018 04:00:13 +0000 https://www.jalansirah.com/?p=18184 Maksud dari kesempatan pada percakapan di atas ialah guna mengambil keputusan akankah memilih Islam sebagai agamanya atau tidak.

The post Inilah Alasan Rasulullah Memberinya Perlindungan appeared first on Jalan Sirah.

]]>
Pemimpin Quraisy yang besar ini, merasa takut akan keselamatan dirinya. Namanya, Shafwan bin Umayyah. Dia termasuk ke dalam golongan orang yang tidak dijatuhi hukuman mati. Namun, karena ketakutan atas kesalamatan dirinya itu. Dia melarikan diri.

Umair bin Al-Wahb Al-Jumahi memintakan perlindungan bagi dirinya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau memberikannya.

Bukan hanya itu, beliau pula yang memberinya kain kerudung kepala yang beliau pakai saat memasuki Makkah.

BACA JUGA: Bagaimana Tahapan Dakwah Rasulullah di Makkah?

Kemudian, saat Shafwan telah bersiap-siap menaiki perahu, Umair segera menyusul. Perahu itu akan membawa Shafwan dari Jiddah ke Yaman.

“Beri aku kesempatan dua bulan untuk mengambil keputusan,” kata Shafwan tatkala Umair sampai ke tempatnya.

“Bahkan engkau diberi kesempatan selama empat bulan,” kata Umair.

BACA JUGA: Pidato Pertama dalam Islam

Maksud dari kesempatan pada percakapan di atas ialah guna mengambil keputusan akankah memilih Islam sebagai agamanya atau tidak.

Hidayah pun menjemputnya, Shafwan masuk Islam dengan sebelumnya sang istri telah lebih dulu. []

Sumber: Sirah Nabawiyah/ Karya: Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri/ Penerbit: Pustaka Al-Kautsar/ 2017

The post Inilah Alasan Rasulullah Memberinya Perlindungan appeared first on Jalan Sirah.

]]>
Orang Quraisy yang Pemurah dan Teramat Ramah http://www.jalansirah.com/18178orang-quraisy-yang-pemurah-dan-teramat-ramah.html Fri, 24 Aug 2018 03:20:23 +0000 https://www.jalansirah.com/?p=18178 Hingga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengutamakannya, menempatkan Abbas di tempat pertama. Ditambah akhlaq dan budi pekertinya yang luhur itu.

The post Orang Quraisy yang Pemurah dan Teramat Ramah appeared first on Jalan Sirah.

]]>
Perbedaan umur yang hanya terpaut dua atau tiga tahun. Membuat keduanya hampir sebaya. Dan ikatan keluarga bukanlah satu-satunya yang membuat tali persahabatan mereka begitu erat.

Siapakah mereka yang bersahabat itu? Ialah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib, orang Quraisy yang paling pemurah dan teramat ramah.

BACA JUGA: Menguji Budi Pekerti Hasan bin Ali

Hingga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengutamakannya, menempatkan Abbas di tempat pertama. Ditambah akhlaq dan budi pekertinya yang luhur itu.

Di samping itu semua, dia juga orang yang cerdas, bahkan sampai ke tingkat genius. Kecerdasannya ini disokong oleh kedudukannya yang tinggi di kalangan Quraisy.

Bahkan dia sanggup membela Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam  dari bencana dan kejahatan kaumnya saat beliau memulai dakwah secara terang-terangan. []

BACA JUGA: Siapakah Penyair yang Cerdas Itu?

Sumber: Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah/Karya: Khalid M. Khalid/Penerbit: CV. DIPONEGORO Bandung/1990

The post Orang Quraisy yang Pemurah dan Teramat Ramah appeared first on Jalan Sirah.

]]>
Sang Pemburu Syahid http://www.jalansirah.com/18176sang-pemburu-syahid.html Fri, 24 Aug 2018 02:40:51 +0000 https://www.jalansirah.com/?p=18176 Dalam pertempuran yang amat dahsyat ini, Abdullah bertempur dengan gagah berani. Dan usai pertempuran, anaknya Jabir bin Abdullah menemukannya di antara para syuhada itu.

The post Sang Pemburu Syahid appeared first on Jalan Sirah.

]]>
Keimanannya amat teguh dan cemerlang. Bahkan puncak keinginannya ialah mati di jalan Allah. Tatkala Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memilih di antara perutusan dari beberapa orang wakil, Abdullah bin Amr terpilih sebagai salah seorang di antaranya. Dia diangkat sebagai wakil dari kaum Bani Salamah.

Di perang Badar, dia turut menjadi pejuang dan bertempur layaknya kesatria. Dan di perang Uhud, telah terbayang-bayang ruang matanya akan gugur di medan perang.

BACA JUGA: Rasulullah Memperagakan Adab di Dalam Masjid

Pertempuran sengit pun terjadi. Pada mulanya kaum muslimin beroleh kemenangan. Tetapi, sebab musuh melihat garis pertahanan kaum muslimin terbuka lebar, kemenangan tersebut berubah menjadi kekalahan.

Dalam pertempuran yang amat dahsyat ini, Abdullah bertempur dengan gagah berani. Dan usai pertempuran, anaknya Jabir bin Abdullah menemukannya di antara para syuhada itu.

BACA JUGA: Ke manakah Rasulullah Melarikan Diri?

Pecahlah tangis Jabir beserta keluarganya. Lalu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kalian tangisi ataupun tidak, para malaikat akan tetap menaunginya dengan sayap-sayapnya.” []

Sumber: Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah/Karya: Khalid M. Khalid/Penerbit: CV. DIPONEGORO Bandung/1990

The post Sang Pemburu Syahid appeared first on Jalan Sirah.

]]>
Teruslah Maju, Wahai Rasulullah http://www.jalansirah.com/teruslah-maju-wahai-rasulullah.html Fri, 24 Aug 2018 01:20:07 +0000 https://www.jalansirah.com/?p=18163 Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

The post Teruslah Maju, Wahai Rasulullah appeared first on Jalan Sirah.

]]>
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkumpul bersama beberapa sahabat terkemuka untuk meminta pendapat, utamanya kaum Anshar yang telah berikrar setia untuk melindungi beliau di dalam kota Madinah.

“Apa pendapat kalian?” tanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Abu Bakar berdiri dan mengusulkan tetap maju, begitu pula dengan Umar bin Khattab.

BACA JUGA: Sepenggal Kata yang Mengkhawatirkan Abu Bakar

Miqdad bin `Amr lalu berdiri dan berkata, “Teruslah maju, Rasulullah! Laksanakan sesuai titah Allah. Kami akan bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan berkata seperti perkataan Bani Israel pada Musa, `Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah, kami akan duduk di sini menantimu’ (Al-Ma’idah [5]: 24). Tidak! Tapi, kami akan mengatakan kepadamu, `Pergilah bersama Tuhanmu dan berperanglah, kami akan berperang bersamamu.’ Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau membawa kami menerjuni lautan lumpur—arah Yaman, daerah terjauh Jazirah Arab—sekalipun, kami tetap akan patuh. Kami akan berjuang bersamamu dengan gagah berani hingga mencapai tujuan.”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memuji kata-kata Miqdad dan mendoakannya.

“Siapa lagi yang mau berpendapat?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kembali bertanya.

Sa’ad bin Mu’adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, “Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?”

“Ya,” jawab Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam singkat.

Lalu, Sa’ad pun berkata dengan lantang, “Sungguh, kami telah beriman kepadamu, membenarkanmu, dan kami telah persaksikan bahwa ajaranmu benar. Kami juga sudah bersumpah setiap kepadamu untuk selalu taat dan patuh. Teruslah maju, Rasulullah! Kami akan selalu bersamamu. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke lautan, lalu engkau mengarunginya, kami pasti juga akan mengarunginya bersamamu. Tak seorang pun akan ber-paling. Kami tak gentar bertemu musuh besok. Kami adalah orang-orang gagah berani dalam peperangan, tidak pernah gentar menghadapi musuh. Semoga Allah memperlihatkan ke-padamu kiprah kami yang berkenan di hatimu. Karena itu, berangkatkanlah kami bersama berkah Allah.”

BACA JUGA: Inilah Pendapat Mengenai Nama Muhammad

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam senang mendengar perkataan Sa’ad. Beliau kemudian berseru, “Berangkatlah dan bergembiralah! Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadaku salah satu dari kedua kelompok itu. Demi Allah, seolah-olah sekarang aku melihat kekalahan mereka (Quraisy).” []

Sumber: Buku Pintar Sejarah Islam/Karya: Qasim a. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh/Penerbit: Zaman/2014

The post Teruslah Maju, Wahai Rasulullah appeared first on Jalan Sirah.

]]>
Tsauban: Bagaimana dengan Nasibku Kelak di Akhirat? http://www.jalansirah.com/tsauban-bagaimana-dengan-nasibku-kelak-di-akhirat.html Fri, 24 Aug 2018 00:40:19 +0000 https://www.jalansirah.com/?p=18160 Melihat perubahan pada diri pelayannya itu, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada Tsauban, “Wahai Tsauban, apakah yang terjadi pada dirimu?”

The post Tsauban: Bagaimana dengan Nasibku Kelak di Akhirat? appeared first on Jalan Sirah.

]]>
Semua kaum Muslimin mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, tak terkecuali seorang budak sekali pun. Ialah Tsauban, salah satu budak Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang begitu mencintai beliau, bahkan tak mau lepas dari beliau. Tak sabar ia untuk cepat-cepat menatap wajah Nabi bila sewaktu-waktu terpisah dari Nabi.

Pada suatu hari,  Tsauban datang menghadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan raut muka yang berkusut, tubuhnya kurus kering kerontang dan terlihat sekali kesedihan di wajahnya.

BACA JUGA: Kita Bukanlah Seperti Rasulullah

Melihat perubahan pada diri pelayannya itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Tsauban, “Wahai Tsauban, apakah yang terjadi pada dirimu?”

“Tidak apa-apa, Rasulullah,” jawab Tsauban.

“Apakah engkau sakit?” Tanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

“Aku tidak sakit, hanya saja jika aku tidak melihatmu, aku kesepian. Kemudian jika teringat akhirat, aku takut tidak dapat berjumpa denganmu lagi. Sebab jika kau di angkat ke Surga tertinggi beserta para Nabi, lalu dimanakah aku dibanding tempatmu? Dan jika aku tidak masuk Surga, niscaya aku tidak dapat melihatmu lagi. Lalu, bagaimana dengan nasibku kelak di akhirat?” Ucap Tsauban, mencoba menjelaskan apa yang ia alami.

Sesaat setelah sahabat yang bernama Tsauban ini menyampaikan keluh kesahnya, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Rasullullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

BACA JUGA: Orang Pertama yang Dijamin Masuk Surga

Allah SWT berfirman, “Dan siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang di anugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (Q.S. An Nisa, 4: 69)

Setelah menyampaikan ayat 69 dari surat An Nisa ini, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sabahatnya, “Siapa bershalawat kepadaku di pagi hari sebanyak 10 kali dan 10 kali di petang harinya, maka ia pasti diselamatkan dari goncangan besar yang mengejutkan dihari Kiamat, dan ia berkumpul dengan para Nabi dan shiddiqin yang telah diberi nikmat oleh Allah SWT.” []

Sumber: Bilik-Bilik Cinta Muhammad, Kisah Sehari-Hari Rumah Tangga Nabi/Karya: Nizar Abazhah/Penerbit: Zaman

The post Tsauban: Bagaimana dengan Nasibku Kelak di Akhirat? appeared first on Jalan Sirah.

]]>
Dia Mengobati dengan Hembusan Angin http://www.jalansirah.com/18166dia-mengobati-dengan-hembusan-angin.html Thu, 23 Aug 2018 10:40:41 +0000 https://www.jalansirah.com/?p=18166 Maka Rasullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengulanginya hingga tiga kali.

The post Dia Mengobati dengan Hembusan Angin appeared first on Jalan Sirah.

]]>
Dia berasal dari Azd Syanu’ah, Yaman. Kebiasaannya memberikan pengobatan dengan mengembuskan angin. Dia tiba di Makkah dan mendengar orang-orang berkata, “Sesungguhnya Muhammad adalah orang gila.”

Dia berkata sendiri, “Aku akan menemui orang ini, siapa tahu Allah bisa menyembuhkan berkat pengobatanku.”

Setelah menemui beliau, dia berkata, “Hai Muhammad, sesungguhnya aku biasa mengobati dengan hembusan angin. Apakah engkau memerlukannya?”

BACA JUGA: Obat Kebodohan Adalah Bertanya

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Sesungguhnya pujian itu bagi Allah. Kami memuji dan memohon pertolongan kepada-Nya. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, tak seorang pun bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.”

“Tolong ulangi lagi semua kata-katamu tadi!” Pinta Dhimad.

Maka Rasullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengulanginya hingga tiga kali.

BACA JUGA: Rencana jitu Hijrah Rasulullah

Dhimad berkata, “Aku pernah mendengar ucapan tukang tenun, ucapan tukang sihir, dan para penyair. Namun, aku belum pernah mendengar seperti kata-katamu ini. Sementara kami pun sudah menguasai kamus sedalam lautan.”

Maka Dhimad pun menyatakan keislamannya. []

Sumber: Sirah Nabawiyah/ Karya: Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri/ Penerbit: Pustaka Al-Kautsar/ 2017

The post Dia Mengobati dengan Hembusan Angin appeared first on Jalan Sirah.

]]>
Kami Tidak Pernah Bisa Shalat di Dekat Ka’bah http://www.jalansirah.com/kami-tidak-pernah-bisa-shalat-di-dekat-kabah.html Thu, 23 Aug 2018 06:00:13 +0000 https://www.jalansirah.com/?p=18137 'Jika demikian, untuk apa kita harus sembunyi-sembunyi? Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, kita harus keluar!' sahut Umar tegas.

The post Kami Tidak Pernah Bisa Shalat di Dekat Ka’bah appeared first on Jalan Sirah.

]]>
Pada penghujung tahun keenam setelah kenabian, Allah meneguhkan kekuatan umat Islam dengan keislaman Hamzah bin Abdul Muthallib, paman Nabi. Hal ini tentu saja membuat marah dan memukul kaum kafir. Betapa tidak, Hamzah adalah pemuda paling mulia di suku Quraisy dan paling keras wataknya.

BACA JUGA: Hamzah bin Abdul Muthalib, Singa Allah dan Singa Rasul-Nya

Selang tiga hari setelah keislaman Hamzah, Umar ibn Khaththab masuk Islam, seorang lelaki berwatak keras dan jawara. Hal ini menimbulkan guncangan besar di kalangan kaum musyrik. Mereka merasa sangat terhina; umat Islam sangat senang.

Ibnu Mas`ud menceritakan, “Kami tidak pernah bisa shalat di dekat Ka`bah hingga Umar masuk Islam.”

Shuhayb ibn Sinan juga bercerita, “Setelah Umar memeluk Islam, Islam mulai tampak dan didakwahkan secara terbuka. Kami pun leluasa duduk berdiskusi di sekitar Ka`bah, mengelilingi Ka`bah, dan menuntut balas orang yang pernah mengasari kami.”

Abdullah ibn Mas`ud menyatakan, “Kami selalu dihormati semenjak Umar memeluk Islam.”

Diriwayatkan oleh Mujahid bahwa Ibnu Abbas bertanya kepada Umar, “Mengapa engkau dijuluki al-Faruq?” “Hamzah memeluk Islam tiga hari sebelumku,”

kata Umar pada Abbas. Umar lalu menceritakan kisah keislamannya dan menutup kisahnya dengan berkata, “Sesudah aku masuk Islam, aku bertanya pada Nabi, ‘Bukankah kita berada di pihak yang benar, baik hidup maupun mati, Rasulullah?’

‘Demi yang jiwaku berada di genggaman-Nya. Kalian berada di pihak yang benar, baik kalian hidup maupun mati,’ jawab Nabi.

BACA JUGA: Kemarahan Hamzah kepada Abu Jahal, Pancarkan Seberkas Cahaya untuk Menyinari Jalan

‘Jika demikian, untuk apa kita harus sembunyi-sembunyi? Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, kita harus keluar!’ sahut Umar tegas.

Umar melanjutkan, `Kami pun keluar dalam dua barisan; satu barisan dipimpin oleh Hamzah dan satu lagi olehku. Orang-orang Quraisy melihat ke arahku dan Hamzah. Mereka terlihat sangat terpukul. Pada hari itulah Nabi menamaiku al-Faruq.” []

Sumber: Buku Pintar Sejarah Islam/Karya: Qasim a. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh/Penerbit: Zaman/2014

The post Kami Tidak Pernah Bisa Shalat di Dekat Ka’bah appeared first on Jalan Sirah.

]]>
Penyebab Miqdad bin Amr Menghindari Jabatan http://www.jalansirah.com/penyebab-miqdad-bin-amr-menghindari-jabatan.html Thu, 23 Aug 2018 05:20:12 +0000 https://www.jalansirah.com/?p=18136 Tatkala dia kembali dari tugasnya, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasalam bertanya, “Bagaimanakah pendapatmu tentang menjadi amir?”

The post Penyebab Miqdad bin Amr Menghindari Jabatan appeared first on Jalan Sirah.

]]>
Miqdad bin ‘Amr, merupakan sahabat yang termasuk dalam orang-orang yang pertama memeluk Islam. Bila dihitung, dia orang ketujuh yang menyatakan keislaman secara terbuka dan terus terang. Akibatnya, dia harus menanggung penderitaan dari kekejaman Kaum Quraisy.

BACA JUGA: Si Putih Keriting Pemimpin Bani Salamah (Bagian 1)

Miqdad adalah seorang ahli pikir ulung. Dia memiliki pikiran cemerlang dan hati yang tulus.

Suatu hari, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, mengangkat Miqdad sebagai amir di suatu daerah.

Tatkala dia kembali dari tugasnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam bertanya, “Bagaimanakah pendapatmu tentang menjadi amir?”

“Anda telah menjadikanku menganggap diri berada di atas semua manusia sedangkan mereka semua di bawahku. Demi yang telah mengutus Anda membawa kebenaran, sejak saat ini, aku tidak berkeinginan lagi menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang untuk selama-lamanya,” jawab Miqdad jujur.

BACA JUGA: Tukang Minyak dan Pemimpin yang Zalim

Memang, sejak dia menjabat sebagai amir, dirinya diliputi oleh kemegahan dan puji-pujian. Miqdad menyadari sepenuhnya kelemahan ini. Karena itu, dia bertekad untuk menghindari jabatan dan menolak bila diangkat sebagai amir lagi.

Dari Abdullah bin Umar dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam, bahwasannya beliau bersabda:”ketahuilah bahwa setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, maka pemimpin masyarakat akan diminati pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan anaknya, ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya.  Seorang Pembantu akan dimintai pertanggungjawaban atas harta harta majikannya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. ketahuilah bahwa setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (HR. Al-Bukhari) []

Sumber: 60 Kisah Seru Sahabat Rasul/ Penulis: Ummu Akbar/ Penerbit: Mizan/September, 2007

The post Penyebab Miqdad bin Amr Menghindari Jabatan appeared first on Jalan Sirah.

]]>
Pertemuan Dua Sahabat Nabi dari Zaman yang Berbeda http://www.jalansirah.com/pertemuan-dua-sahabat-nabi-dari-zaman-yang-berbeda.html Thu, 23 Aug 2018 04:40:10 +0000 https://www.jalansirah.com/?p=18135 Maka Nadhlah sebagai pimpinan rombongan pasukan itu berkata, "Wahai hamba Allah, siapakah engkau? Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepadamu. Apakah engkau malaikat, jin atau hamba Allah lainnya?"

The post Pertemuan Dua Sahabat Nabi dari Zaman yang Berbeda appeared first on Jalan Sirah.

]]>
Pada masa khalifah Umar, wilayah Qadisiyah yang termasuk kota besar di Persia (Iran dan Irak sekarang ini) ditaklukan dan Sa’d bin Abi Waqqash, salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga ketika hidupnya, menjadi Amirnya.

BACA JUGA: Mengapa Muslim Harus Menjawab Adzan?

Setelah beberapa waktu lamanya, Umar memerintahkan Sa’d mengirim sahabat Nadhlah bin Muawiyah untuk menaklukan Hulwan, masih termasuk wilayah Persia lainnya. Dengan 300 orang tentara berkuda, Nadhlah melakukan pengepungan Kota Hulwan beberapa waktu lamanya sehingga mereka menyerah, menyatakan takluk kepada Madinah.

Nadhlah kembali ke Qadisiyah dengan membawa jizyah dan ghanimah yang cukup banyak. Di tengah perjalanan, mereka singgah di suatu dataran di bawah pegunungan karena telah masuk waktu shalat. Nadhlah berdiri melantunkan adzan, tetapi di sela-sela jawaban adzan dari anggota pasukannya, terdengar suara lain dari atas gunung yang menimpali suara adzannya, dan mereka semua mendengarnya cukup jelas.

Ketika ia melantunkan, “Allahu Akbar Allahu Akbar (2x).”

Terdengar suara jawaban, “Engkau telah mengagungkan Dzat Yang Maha Besar, wahai Nadhlah!”

Ketika ia melantunkan, “Asyhadu allaa ilaaha illallaah (2X).”

Terdengar suara jawaban, “Itu adalah kalimat ikhlas, wahai Nadhlah!”

Ketika ia melantunkan, “Asyhadu anna muhammadar Rasulullaah (2).”

Terdengar suara jawaban, “Wahai Nadhlah, dia (Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam itu) adalah orang yang diberitahukan Nabi Isa AS kepada kami!”

Ketika ia melantunkan, “Hayya `alash sholaah (2x).”

Terdengar lagi suara jawaban, “Sungguh beruntunglah orang yang mengerjakannya secara istiqomah!”

Ketika ia melantunkan, “Hayya `alal falaah(2x).”

Terdengar suara jawaban, “Sangatlah beruntung orang yang memenuhi ajakan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam, itu adalah jaminan bagi umat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam!!”

Ketika ia melantunkan, “Allahu Akbar Allahu Akbar, laa ilaaha illallaah.”

Terdengar suara jawaban, “Kamu benar-benar ikhlas wahai Nadhlah, sungguh Allah akan mengharamkan jasadmu dari api neraka!”

BACA JUGA: Awal Mula dikumandangkannya Adzan Jum’at Kedua

Selesai adzan mereka sempat dicekam ketakutan oleh suara tersebut, walau perkataan ghaib itu membenarkan keislaman dan apa yang sedang mereka lakukan.

Maka Nadhlah sebagai pimpinan rombongan pasukan itu berkata, “Wahai hamba Allah, siapakah engkau? Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepadamu. Apakah engkau malaikat, jin atau hamba Allah lainnya? Engkau telah memperdengarkan suaramu kepada kami, maka tunjukkanlah bentuk tubuhmu!! Aku adalah tentara Allah, balatentara Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, dan balatentara Umar bin Khaththab!”

Tiba-tiba muncul seseorang yang sangat tua, berambut dan berjenggot putih, memakai pakaian bulu yang sangat sederhana, dan berkata, “Assalamu ‘ alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh!!”

Nadhlah dan kawan-kawannya berkata, “Wa `alaikassalam warahmatullaahi wabarakaatuh, siapakah engkau ini? Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepadamu.”

Orang tua itu berkata, “Aku adalah Zarnab bin Bar’ala, murid, sahabat dan orang yang sangat dipercaya oleh Nabi Isa. Aku ditempatkan di gunung ini dan didoakan Nabi Isa panjang umur hingga waktunya beliau turun lagi ke bumi dari langit.”

Nadhlah dan kawan-kawannya terheran-heran mendengar perkataannya itu. Kalau melihat begitu tuanya, bisa jadi memang benar perkataannya itu. Tetapi tampak sekali kalau dia masih sangat kuat dan kokoh di balik penampilan ketuaannya, tidak ada tanda-tanda kelemahan sama sekali.

Zarnab berkata lagi, “Karena aku tidak bisa bertemu langsung dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, begitu juga dengan Umar bin Khattab, maka sampaikanlah salamku kepadanya, dan sampaikanlah ucapanku ini kepadanya.”

BACA JUGA: Delapan Nasihat dan Kata Mutiara dari Nabi Idris

Zarnab melanjutkan perkataannya, “Wahai Umar, bekerjalah yang keras, karena sesungguhnya hari kiamat telall sangat dekat. Dan sampaikanlah kepada umat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam, jika nanti telah terjadi peristiwa-peristiwa di antara mereka, apa-apa yang akan aku sampaikan, hendaklah mereka lari, hendaknya mereka menghindari sejauh-jauhnya, jangan sampai terjatuh kepada hal-hal itu.” []

Sumber: Kisah Hikayat Pertemuan Sahabat Nabi Muhammad SAW Dengan Sahabat Nabi Isa AS/Karya: Muhammad Vandestra/2008:

The post Pertemuan Dua Sahabat Nabi dari Zaman yang Berbeda appeared first on Jalan Sirah.

]]>
Pemuda Yastrib Itu Hanya Diam Walau Dilempar Pasir http://www.jalansirah.com/18130pemuda-yastib-itu-hanya-diam-walau-dilempar-pasir.html Thu, 23 Aug 2018 04:00:29 +0000 https://www.jalansirah.com/?p=18130 Iyas hanya diam. Rasulullah bangkit dan mereka pulang ke Yastrib tanpa membawa hasil apa-apa dari rencana mereka menjalin persekutuan dengan pihak Quraisy.

The post Pemuda Yastrib Itu Hanya Diam Walau Dilempar Pasir appeared first on Jalan Sirah.

]]>
Dia seorang pemuda belia dari penduduk Yastrib, datang ke Makkah bersama rombongan utusan AUS, dengan tujuan mencari sekutu dari Quraisy bagi kaumnya untuk menghadapi Khazraj.

Mengetahui hal itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam datang menghampiri mereka dan bersabda, “Apakah kalian memiliki sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian bawa?”

“Apa itu?” mereka balik bertanya.

BACA JUGA: Ketika Mereka Meminta Doa Nabi Ilyas

“Aku adalah Rasul Allah. Dia mengutusku kepada manusia, untuk menyeru mereka menyembah Allah dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya serta menurunkan Al-Kitab kepadaku.” Setelah itu beliau menjelaskan Islam kepada mereka dan membacakan Al-Quran.

Iyas bin Mu’adz berkata, “Wahai kaumku, demi Allah ini lebih baik daripada yang ada pada kalian.”

Abul Haisar Anas bin Rafi’, salah seorang yang ikut dalam rombongan itu memungut segenggam pasir, lalu dia taburkan di muka Iyas, seraya berkata, “Enyah kau! Demi Allah, kami datang bukan untuk urusan ini.”

BACA JUGA: Anak yang Hendak Disembelih

Iyas hanya diam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam  bangkit dan mereka pulang ke Yastrib tanpa membawa hasil apa-apa dari rencana mereka menjalin persekutuan dengan pihak Quraisy.

Setelah mereka tiba di Yastrib, dan sebelum Iyas meninggal dunia, dia senantiasa bertahlil, bertakbir, bertahmid, dan bertasbih, hingga dia meninggal. Mereka meragukan bahwa dia telah masuk Islam. []

Sumber: Sirah Nabawiyah/ Karya: Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri/ Penerbit: Pustaka Al-Kautsar/ 2017

The post Pemuda Yastrib Itu Hanya Diam Walau Dilempar Pasir appeared first on Jalan Sirah.

]]>