Foto: VectorStock

Kisah Tukang Kayu dan Raja Bertanduk (Bagian 2 Habis)

“Tuanku, anak-anak saya masih kecil. ibu mereka sudah meninggal dunia. Kalau hamba dibunuh, bagaimana nasib mereka?” tangis tukang kayu.

Raja merenung. Dia terkesan akan kejujuran tukang kayu ini. Mungkin dia bisa dipercaya kalau diberi syarat tidak membukakan rahasia tanduk itu kepada orang lain.

BACA JUGA: Imam Malik: Kejujuran Itu Sebenarnya Keberanian (Bagian 1)

“Baiklah, engkau kuberi kesempatan untuk hidup, dengan syarat jangan sampai kauceritakan kepada siapa pun, termasuk kepada anak-anakmu. Kalau sampai bocor berita ini, engkau dan seluruh keluargamu akan kuhabisi. Janji ya?”

“Terima kasih, Tuanku. Saya berjanji,” sembah tukang kayu itu.

Lalu dia pun diizinkan pergi dengan selamat. Betapa gembiranya tukang kayu itu, nyawanya tidak jadi terbang. Namun, setiba di rumah, mulutnya terasa menuntut untuk menceritakan rahasia ajaib itu kepada orang lain. Hatinya mendesak-desak lidahnya untuk membuka keanehan rajanya kepada tetangganya.

Akan tetapi, karena dia sudah berjanji dan janji harus ditepati, apalagi ancamannya begitu menakutkan, maka ditahannya keinginan itu sedapat mungkin. Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyimpan rahasia itu. Namun, sebagai manusia, dia tidak kuat. Terpaksa, agar jangan melanggar janji menceritakan kepada orang lain, dia pun pergi ke tengah hutan dan membuka isi hatinya tentang rahasia itu kepada sebatang kayu besar yang tumbuh di tempat gelap.

“Hai kayu, Raja iskandar punya tanduk di kepalanya.”

Legalah perasaannya setelah membukakan rahasia raja-nya kepada kayu, dengan keyakinan tidak ada orang lain di situ. Memang tidak ada manusia di tempat itu kecuali dirinya. Akan tetapi, ada seekor burung beo di ranting pohon. Burung beo itu menirukan ucapan si tukang kayu, persis sekali. Lalu, burung tersebut terbang ke pasar di kota Raja.

Di sana, dia mengulang-ulang ucapan si tukang kayu, “Hai, kayu, Raja Iskandar punya tanduk di kepalanya.”

Maka gegerlah penduduk yang mendengar ucapan burung beo itu. Berita tersebar ke mana-mana bahwa raja punya tanduk di kepalanya. Murkalah raja. Siapa lagi biang keladinya kalau bukan si tukang kayu. Lalu raja memerintahkan untuk menangkap tukang kayu tersebut, dibawa ke hadapannya sebagai pesakitan yang dirantai tangan dan kakinya.

“Hai, tukang kayu. Engkau memang tidak tahu membalas budi. Engkau sudah berjanji tidak akan membuka cacatku kepada siapa pun. Malah sekarang seluruh rakyatku tahu bahwa aku punya tanduk. Untuk itu, engkau dan anak-anakmu terpaksa dijatuhi hukuman mati.”

Dengan ketakutan tukang kayu itu membantah, “Demi Allah, Tuanku, saya tidak pernah bercerita kepada seorang manusia mana pun.”

“Lalu, dari mana masyarakat tahu bahwa aku punya tanduk?”

“Saya tidak mengerti, Tuanku. Saya mengaku memang saya ingin bercerita, tetapi selalu saya tahan. Karena tidak kuat, maka saya pergi ke tengah hutan rimba. Di tempat sepi yang tidak mungkin ada manusia, saya bercerita kepada sebatang pohon besar bahwa Raja punya tanduk. Kebetulan waktu itu hanya ada seekor burung beo yang bertengger di ranting. Saya baru menyadarinya setelah saya selesai ber-cerita kepada kayu itu. Apakah barangkali burung beo itu yang punya ulah Tuanku?”

Raja, selaku seorang pemimpin yang bijaksana walaupun keras sifat dan wataknya, ingin tahu apakah orang ini tidak berdusta. Ditanyakan kepada sebagian masyarakat yang mendengar berita itu, dari mana mereka tahu cacat sang raja. Ternyata betul.

BACA JUGA: Fitrah Burung Hudhud

Memang dari seekor burung beo yang terbang ke sana kemari sambil mengoceh, “Hai, kayu, Raja Iskandar punya tanduk di kepalanya.”

Lantaran terbukti tukang kayu itu jujur dan raja suka pada kejujuran, maka tukang kayu itu dibebaskan dari segala hukuman, bahkan diangkat menjadi pegawai kerajaan yang di-percaya. []

Sumber: Kisah-Kisah Islam Anti Korupsi /Karya: Nasiruddin Al-Barabbasi/Penerbit: Mizania/2009

About Dini Koswarini

Check Also

Kemudian Celakalah Dia! Bagaimanakah Dia Menetapkan?

Maka celakalah dia! bagaimana dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! bagaimanakah dia menetapkan?

you're currently offline