Foto:Freepik

Ketika Hanya Hati dan Lidah yang Mampu Menyelamatkannya

Sabar dalam menghadapi musibah memang sangat berat. Hanya orang-orang terpilihlah yang sanggup bersabar menghadapinya, seperti para utusan Allah, para nabi, para sahabat, tabi`in, para ulama dan kekasih-Nya. Diantara utusan Allah yang paling terkenal dengan kesabarannya adalah Nabi Ayub.

Dikisahkan, Nabi Ayub adalah seorang nabi yang kaya raya. Ia memiliki ternak unta, lembu, domba, kuda, keledai dan lain-lain. Tidak seorang pun di negeri Syam yang dapat menyaingi kekayaan Nabi Ayub. Selain kaya, Nabi Ayub juga memiliki akhlak dan budi pekerti yang mulia. Ia tidak pernah meninggalkan kewajiban yang diperintahkan Allah kepadanya.

Ia sangat pandai bersyukur kepada Allah dan lidahnya tidak pernah berhenti berdzikir kepada Ailah kapan pun dan dimana pun. Ia juga sangat menyayangi fakir miskin dan kaum dhu’afa. Bahkan Nabi Ayub dirumahnya rnemiliki meja makan yang khusus disediakannya untuk tamunya, yaitu orang-orang miskin dan tamu lainnya.

Melihat keshalehan Ayub seperti itu, Iblis dengki kepadanya. Ia berkata, “Sungguh Ayub telah berhasil di dunia dan akhirat”

Iblis pun bermaksud merusak salah satu atau kedua-duanya. Lalu, Iblis naik ke langit yang ke tujuh dan berhenti di mana dia dapat sampai. Pada suatu hari, dia naik sebagaimana biasa, maka Allah Yang Maha Agung berfirman kepadanya, “Hai Iblis terkutuk, bagaimana engkau melihat hamba-Ku Ayub? Apakah engkau dapat mengambil daripadanya pelajaran walaupun sedikit?”

Iblis menjawab, “Tuhanku, sesungguhnya Ayub mau menyembah-Mu karena Engkau telah memberinya kelapangan hidup (harta yang berlimpah) dan kesehatan. Kalaulah tidak karena hai itu, tentu dia tidak menyembah-Mu, maka dia sebenarnya hanlba kesehatan.”

Allah SWT berfirman kepada Iblis, “Engkau dusta, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui bahwa sesungguhnya dia menyembah Aku serta cinta kepada-Ku, walaupun dia tidak niempunyai kelapangan rizki di dunia.”

Iblis berkata, “Tuhanku, berilah aku kekuasaan untuk menggoda Ayub, maka perhatikanlah bagaimana aku membuatnya lupa kepada-Mu, dan menyibukkan dia dari beribadah kepada-Mu.”

Maka Allah pun memberikan kekuasaan kepada Iblis untuk dapat menghancurkan harta, anak, dan tubuh Ayub, kecuali hati dan lidah Ayub. Iblis pun kembali dan menuju ke tepi laut, lalu berseru dengan seruan yang sangat keras sehingga semua bangsa jin, baik laki-laki maupun perempuan, berkumpul di sisinya seraya berkata, “Apakah gerangan yang menimpa kamu?”

Iblis menjawab, “Sesungguhnya saya telah mendapat kesempatan yang belum pernah saya peroleh seperti hal ini, semenjak saya telah berhasil mengeluarkan Adam dari surga. Oleh karena itu, bantulah saya memperdayakan dan menghancurkan Ayub.”

Kemudian Iblis beserta seluruh jin yang berkumpul itu pergi untuk menghancurkan seluruh harta kekayaan milik Ayub. Mereka membakar seluruh ternak milik Ayub. Sehingga tidak ada yang tersisa dari harta Ayub sedikit pun. Setelah harta Ayub habis, Iblis mendatangi Ayub yang sedang melaksanakan shalat.

Lalu Iblis menggodanya, “Apakah engkau akan akan tetap menyembah Tuhanmu dalam keadaanmu yang kritis ini, sesungguhnya Dia Tuhanmu telah menuangkan api dari langit, yang memusnahkan kekayaanmu, sehingga semuanya menjadi abu?”

Nabi Ayub as tidak menjawabnya, sampai dia selesai merampungkan shalatnya, lalu ia berkata, “Alhamdulillah, Dia yang telah memberikan karunia kepadaku, lalu mengambilnya pula dariku.”

Lalu, Ayub bangkit kembali memulai shalatnya. Iblis pun kembali dengan tangan hampa, serta merasa terhina dan menyesali kegagalannya. Ujian pertama berhasil dilewati oleh Ayub. Kemudian Iblis menyusun rencana yang kedua untuk menghancurkan Ayub. Lalu, Iblis bersama anak buahnya membunuh seluruh anak-anak Ayub yang sedang makan di satu meja makan. Iblis kemudian mendatangi Ayub as yang sedang menunaikan shalat.

Iblis kembali menggoda Ayub, “Apakah engkau akan tetap menyembah Tuhanmu, dan sesungguhnya Dia telah membunuh anak-anakmu?”

Nabi Ayub mengacuhkannya dan tidak menjawab sedikitpun, sampai dia selesai mengerjakan shalatnya. Lalu, Nabi Ayub berkata, “Hai lblis terkutuk, Alhamdulilah, Dia yang telah memberi dan mengambilnya pula dari saya. Semua harta dan anak adalah ujian buat saya, maka Allah SWT telah mengambil dari saya sehingga saya dapat bersabar dan tenang tenang untuk beribadah kepada Tuhan saya.”

Iblis pun kembali dengan tangan hampa, rugi besar dan terhina. Kemudian Iblis datang kembali kepada Ayub, dan dia mendapati Ayub sedang shalat. Tatkala Ayub sedang sujud, Iblis meniupkan penyakit melalui hidung dan mulut Ayub. Singkat cerita, seluruh tubuh Nabi Ayub terkena penyakit koreng dan jamur, mulai dari kepala sampai kakinya, bahkan mengalir dari badannya darah bercampur nanah serta ulat yang berjatuhan dari kudis badannya.

Sampai-sampai, sanak, dua istri, keluarga dan seluruh teman-temannya menjauhkan diri dari Ayub. Hanya siti Rahmah, salah satu dari istri Ayub, yang setia mendampinginya. Melihat kondisi penyakit Ayub yang semakin hari semakin parah dan menjijikan, maka penduduk kampung mengusir Ayub karena khawatir tertular penyakitnya. Tatkala diusir itulah, Siti Rahmah membawa dan menggendong Ayub keluar dari kampung halamannya sambil meneteskan air mata.

Pada suatu hari, Siti Rahmah berkata kepada Nabi Ayub, “Engkau adalah seorang nabi yang mulia terhadap Tuhanmu, cobalah engkau berdoa kepada Allah SWT supaya Allah menyembuhkanmu.”

Nabi Ayub berkata kepada Siti Rahmah, “Berapa lamakah kita telah hidup senang?”

Siti Rahmah menjawab, “Delapan puluh tahun”

Nabi Ayub berkata, “Sesungguhnya saya merasa malu kepada Allah SWT untuk meminta kepada-Nya sebab waktu cobaan-Nya belumlah memadai dibandingkan masa senang kita.”

Tatkala di badan Nabi Ayub sudah tidak ada lagi daging yang akan dimakan oleh ulat-ulat itu, maka ulat-ulat itu saling memakan di antara mereka hingga akhirnya tinggal dua ekor ulat, yang selalu berkeliaran di badan Nabi Ayub untuk mencari daging yang bisa di makan, ternyata mereka tidak mendapatkannya kecuali hati dan lidah Nabi Ayub. Saat yang satu pergi ke hati dan hendak memakan hatinya dan yang satu lagi pergi ke lidahnya dan hendak menggigitnya, namun ternyata hati dan lidahnya tidak bisa digigit oleh ulat-ulat itu karena keduanya senantiasa bergetar oleh dzikir kepada Allah SWT.

Saat itulah Nabi Ayub berdoa kepada Allah, sebagaimana firman Allah, “Dan ingatlah kisah Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyoyang di antara semua penyayang.’ “ (QS. Al-Anbiya: 83)

Allah SWT menjawab doa Nabi Ayub, “Hentakkanlah kakimu. lnilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.“ (QS. Shad: 42)

Nabi Ayub menghentakkan kakinya, maka memancarlah mata air yang dingin karena hentakan kakinya tersebut. Air tersebut kemudian digunakan untuk mandi dan minum, sehingga setelah Nabi Ayub mandi dan minum, Allah SWT menghilangkan penyakit yang menimpa lahir dan batinnya. Kemudian, Allah SWT mengembalikan kepadanya keluarganya, hartanya, sejumlah nikmat serta kebaikan yang dikaruniakan kepadanya dalam jumlah yang lebih banyak dari sebelumnya.

Dan, Allah SWT memuji kesabaran Nabi Ayub datam menghadapi ujian yang diberikan-Nya, sebagaimana dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Kami dapati dia (Nabi Ayub) seorang yang sabar. Dia(ah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shad: 44).

Sumber: The Miracle Of Ibadah/ Penulis: H. Amirulloh Syarbini, M. Ag/ Penerbit: Fajar Media Bandung, 2011

About Dini Koswarini

Check Also

Manisnya Menggigit Iman

Iman yang mantap disertai keteguhan hati bisa disejajarkan dengan sebuah gunung yang tidak bisa diusik.

you're currently offline