Foto: ThePinsta

Ketika Abbas bin Mirdas Menghina Nabi dengan Syairnya

Umar bin Khattab dikenal sebagai sahabat yang tegas, keras, dan lugas. Ia sering bersikap tekstual. Seusai Perang Hunain, seperti biasa, Rasulullah membagi-bagikan ghanimah (harta rampasan perang) kepada pasukan yang ikut terlibat dalam peperangan.

Empat perlima dibagikan secara merata sesuai dengan tugas masing-masing. Sedangkan seperlimanya, sesuai dengan ketentuan Al-Quran adalah hak Rasul secara utuh. Beliau berhak untuk memberikan kepada siapa pun yang dikehendakinya, termasuk kerabat dan anggota keluarganya. Dalam pembagian ghanimah ini, Rasulullah selalu berusaha keras untuk bersikap hati-hati dan seadil-adilnya.

BACA JUGA: Engkau Tidak Tahu Bagaimana Mulianya Akhlaq Muhammad

Namun, selalu saja ada seseorang atau kelompok tertentu yang merasa kurang mendapatkan keadilan. Salah seorang di antara mereka adalah Abbas bin Mirdas, seorang mualaf yang baru saja memeluk Islam dan harus dijinakkan hatinya. Abbas ini sebelumnya terkenal sebagai penyair ulung. Syair-syairnya begitu populer pada zamannya. Terdorong oleh perasaan tidak puasnya, ia mencela Rasulullah dengan bersyair. Ketika hal ini sampai kepada Nabi, beliau segera bangkit dan marah seraya berkata, “Andai kata Rasulullah sudah tidak bisa berbuat adil, siapa lagi yang akan menegakkan keadilan? Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat kepada Musa, saudaraku. Ia telah banyak disakiti oleh kaumnya melebihi apa yang kualami, tetapi ia tetap tabah dan sabar. Bawa ke sini orang itu, dan potong lidahnya!”

Mendengar perintah Rasul tersebut, para sahabat, termasuk Umar dan Ali, langsung mencari si penyair itu. Ketika ia ditemukan, hampir saja Umar memotong lidahnya, sebagaimana pesan Nabi. Untunglah ada Ali. Ia segera menyeret si penyair yang sudah pucat pasi itu karena ketakutan. Mereka menuju ke sebuah lapangan yang masih dipenuhi binatang ternak hasil rampasan perang.

BACA JUGA: Khabbab Bertanya pada Nabi soal Shalat yang Panjang sebelum Badar

Kepada Abbas, Ali bin Abi Thalib lalu berkata, “Ambillah (ternak-ternak dan harta rampasan perang ini) sebanyak yang kamu suka.”

“Apa! Begitukah cara Rasulullah memotong lidahku? Demi Allah, aku tidak mau mengambil sedikit pun,” ujar Abbas dengan rona merah padam karena malu.

Sejak saat itu, Abbas tidak pernah mendendangkan lagi syair yang ditujukan kepada Rasulullah. kecuali puji-pujian.

Sumber: The Great of Two Umar/ Penulis: Fuad Abdurrahman/ Penerbit: Zaman, 2016

About Erna Iriani

Indonesian Muslimah | Islamic Graduate Student | "Jangan menjadi gila karena cinta kepada seseorang, atau ingin menghancurkan seseorang karena kebencian." (Umar bin Khatab)

Check Also

Teruslah Maju, Wahai Rasulullah

Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

you're currently offline