Foto: br.freepik

Kekhawatiran Rasulullah terhadap Umatnya

Dalam hadits, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bersumber dari ‘Amru bin ‘Auf bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah ke negeri Bahrain agar memungut ‘upeti’ negeri itu.

Saat itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengadakan perjanjian dengan penduduk Bahrain. Beliau pun menetapkan ‘Alaa’u bin al-Hadhrami sebagai pemimpin untuk mengurus penduduk Bahrain.

BACA JUGA: Abu Ubaidah bin Jarrah: Andai Aku Memiliki Permadani dan Bantal

Kemudian tibalah Abu Ubaidah bin Jarrah dari Bahrain membawa upeti. Berita kedatangannya didengar kaum Anshar. Lalu, mereka pun shalat bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selesai shalat dan beranjak dari tempatnya, kaum Anshar pun mendatangi beliau.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pun tetsenyum ketika melihat mereka dan berkata, “Saya kira kalian telah mendengar berita kedatangan Abu Ubaidah bin Jarrah. Dan, dia datang dengan membawa sesuatu.”

Mereka menjawab, “Benar, ya Rasulullah!”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Silahkan kalian bergembira dan berharap dengan harta itu untuk meraih apa yang menyenanghan kalian. Demi Allah, aku tidak khawatir terhadap segala kefakiran yang menimpa kalian. Tapi, aku khawatir dunia akan menghampiri kalian seperti halnya orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian saling bersaing merebut dunia sebagai mereka saling bersaing. Lalu dunia itu ahan menghancurkan kalian sebagaimana ia menghancurkan orang-orang sebelum kamu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Lafazh taruzafasuuhaa dalam hadits di atas diambil dari lafazh al-munaafasatu. Artinya, ‘keinginan terhadap sesuatu’, dan ‘kecintaan untuk menguasainya’.

Asal kata itu adalah sesuatu yang berharga pada jenisnya (asy-syayun naftis fi nau’ihi). Para pelaku bisnis yang mempergunakan segala praktik sewenang-wenang yang hina dan keji, mereka itu tidak memperhatikan dan tidak mau tahu akan keperluan dan kebutuhan orang lain yang mendesak. Mereka pun tidak memperhatikan kewajiban mereka sebagai pelaku bisnis.

BACA JUGA: Tatkala Rasulullah menjadi Makmum

Hal ini akan menimbulkan gejolak iri hati, kedengkian, dan dendam kesumat, segala macam pertikaian dan menyebabkan perpisahan. Persaingan tercela dalam mencari harta seperti ini yang kemungkinan menyebabkan permusuhan dan kehancuran, adalah persaingan yang dilarang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan beliau mengkhawatirkan umatnya terjebak dalam persaingan mencari harta semacam itu. []

Sumber: Agar Harta Tidak Menjadi Fitnah/Karya:Ahmad Abdul Ghaffar/Penerbit:Gema Insani Press/2004

About Dini Koswarini

Check Also

Nabi Ibrahim Hanya Meninggikan Bangunan Kabah, Bukan Membuat Pondasi

Sebenarnya, yang dilakukan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS adalah meninggikan Ka'bah, karena fondasi Ka'bah telah ada sebelumnya.

you're currently offline