Foto: Pantip

Kekasih Rasul dan Kekasih Allah (Bagian 1)

Suatu kali penduduk Mekah dan sekitarnya menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan. Keadaan yang demikian tentu membuat mereka menderita. Selama tiga hari berturut-turut mereka pun melaksanakan salat istisqa. Tujuannya untuk memohon rahmat Allah agar diturunkan hujan.

BACA JUGA: Ternyata, Bukan Hujan Rahmat yang Sampai pada Kaum Nabi Nuh

Di tengah terpaan sinar matahari yang menyengat, mereka memanjatkan doa agar Allah menurunkan rahmatnya: air hujan. Meski penduduk Mekah telah melaksanakan salat istisqa, hujan tak kunjung turun juga.

Hal yang demikian itu membuat seorang sufi terkemuka, Abdullah bin Al-Mubarak, prihatin. Ia bertekad untuk membantu penduduk kota Mekah keluar dari kesulitan hidup yang mereka hadapi. Karena itu, ia keluar dari rumahnya dan mengasingkan diri dari masyarakat ramai untuk berdoa sekiranya Allah berkenan menurunkan hujan.

“Semoga Allah berkenan merahmati dan mengabulkan doaku,” katanya lirih.

Ia pun keluar dari rumahnya menuju tempat yang sepi. Dipilihnya sebuah gua sebagai tempat untuk bermunajat. Namun, belum lama ia masuk ke dalam gua, masuklah seorang pemuda yang bermuka hitam.

Dari penampilannya, Abdullah bin Al-Mubarak menduga bahwa pemuda itu adalah seorang budak. Setelah berada di dalam gua, pemuda itu mencari tempat yang agak lapang. Kemudian, pemuda itu melaksanakan salat dua rakaat. Seusai salat, ia bersujud seraya meletakkan kepalanya di atas tanah.

BACA JUGA: Karena Langit Tidak akan Pernah Menurunkan Hujan Emas ataupun Perak

Dengan khusyuk ia berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya para hamba-Mu telah memohon hujan kepada-Mu dengan melaksanakan salat istisqa selama tiga hari, tetapi Engkau belum berkenan mengabulkan doa mereka. Oleh karenanya, demi kemenangan-Mu, kepalaku tidak akan aku angkat, sampai Engkau menurunkan hujan kepada kami.”

Mendengar doa yang dipanjatkan oleh pemuda itu dan tekadnya untuk tidak mengangkat kepalanya sampai Allah menurunkan hujan, Abdullah bin Al-Mubarak pun menjadi penasaran.

“Siapakah gerangan pemuda ini?” tanya sang sufi dalam hati penuh heran.

Belum pudar keheranannya, di luar gua udara yang semula panas menyengat tiba-tiba sirna oleh mendung berarak menyelimuti bumi. Tak seberapa lama kemudian, hujan turun dengan lebatnya membasahi bumi. Ini berarti doa pemuda itu dikabulkan oleh Allah.

Ketika butiran air hujan sudah membasahi bumi, pemuda itu mengakhiri sujudnya. Ia menengadahkan kepalanya ke langit dan membasahi lidahnya dengan ucapan syukur kepada Allah yang telah mengabulkan doanya. Setelah itu, dia berdiri dan pergi meninggalkan gua.

BACA JUGA: Tatkala Turun dan Tertahannya Air Hujan

Abdullah bin Al-Mubarak yang menyaksikan kejadian itu merasa kagum dengan keistimewaan yang dimiliki pemuda itu di sisi Allah. Karena itu, ia bermaksud mengikuti ke mana perginya sang pemuda.

Ketika pemuda itu pergi meninggalkan gua, Abdullah bin Al-Mubarak membuntuti ke mana perginya sang pemuda. Ternyata arah perjalanan pemuda itu menuju ke sebuah perkampungan yang cukup ramai. []

Sumber: Di Istana Cinta Rasulullah/Karya: Mokh Syaiful Bakhri/Penerbit: Erlangga/2006

About Dini Koswarini

Check Also

Kemudian Celakalah Dia! Bagaimanakah Dia Menetapkan?

Maka celakalah dia! bagaimana dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! bagaimanakah dia menetapkan?

you're currently offline