Foto: 123RF.com

Kalau Kau Tidak Takut Akan Api Neraka, Lalu Kenapa? (Bagian 2 Habis)

Akhirnya berceritalah si Badui tentang apa yang dialaminya di Bashrah. Umar mendengarkan dengan saksama.

Setelah itu, ia menulis surat kepada Abu Musa yang intinya, “Seorang rakyatmu telah datang menghadapku di Madinah. Bersiaplah menerima pembalasan kalau engkau melaksanakannya di depan umum, begitu pula kalau kau melaksanakannya secara tersembunyi.”

BACA JUGA: Kalau Kau Tidak Takut Akan Api Neraka, Lalu Kenapa? (Bagian 1)

Membaca surat Umar, Abu Musa terkesiap dan menyadari kesalahannya, yakni tidak memenuhi hak si Badui dan malah menghukumnya. Kesadaran dan kesalehan Abu Musa mendorongnya untuk segera melaksanakan perintah Umar. Sama sekali tidak ada keinginan untuk menunda, apalagi menyembunyikannya.

“Biarlah hancur kewibawaanku di hadapan rakyat, yang penting aku telah menebus kesalahanku, dan memenuhi hak orang lain. Apa artinya rasa malu di dunia, ketimbang pertanyaan Allah swt. kelak di akhirat,” Abu Musa membatin.

Berbeda dengan Abu Musa, sejak kepulangan dari Madinah, si Badui tampak ceria. Kegusarannya hilang tanpa bekas karena telah diterima dengan baik oleh Amirul Mukminin dan sekarang ia dapat membalas perbuatan walikota serta membersihkan kehormatannya.

Keceriaan dan kebijaksanaan Khalifah Umar membuat si Badui kagum. Dalam hatinya muncul perasaan bersalah.

“Mengapa saya harus balas dendam, kepada walikota, padahal keputusan walikota itu tentu atas pertimbangan cermat dalam rangka mengatur prajurit serta harta pampasan perang? Bagaimana kalau seluruh prajurit bertindak seperti dirinya, apakah tidak menimbulkan kekacauan? Bagaimana pula kalau seluruh prajurit menentang perintah walikota, apa yang akan terjadi dengan keamanan kaum muslimin Bashrah?” batin si Badui.

BACA JUGA: Hanya Orang Jahat yang Mengecam Keadilan Nabi

Tetap terselip dalam hati si Badui bahwa ada unsur kebenaran dalam tindakan sang walikota.

Hari pembalasan pun tiba. Abu Musa tertunduk lesu. Pejabat kota dan rakyat pada umumnya merasa marah dengan si Badui dan iba terhadap Abu Musa.

“Bagaimana hal ini bisa terjadi? Seorang walikota yang saleh, terhormat, dan sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam diperlakukan seperti ini oleh seorang rakyat jelata,” keluh mereka.

Mereka membujuk agar si Badui memaafkan sang Walikota. Namun, sebagian rakyat berpendapat, ini adalah hal yang baik. Pembalasan ini menunjukkan keadilan Islam. Siapapun tidak boleh melanggar hak orang lain, meskipun ia seorang walikota.

Hak rakyat harus dipenuhi dan keangkuhan harus dihancurkan. Islam mengajarkan, pemimpin adalah pengayom rakyat bukan algojo yang mengeksekusi terhukum.

Aba aba sudah diberikan. Abu Musa duduk terdiam pasrah. Rakyat memejamkan mata. Iba melihat pemimpinnya diperlakukan demikian. Ada yang berteriak histeris agar si Badui membatalkan pembalasannya. Si Badui berjalan perlahan tapi pasti dengan cambuk ditangan menuju sang walikota. Suasana semakin tegang.

Pertempuran terjadi di dalam hati si Badui, “Kenapa aku harus membalas dendam, bukankah detik ini kehormatanku sudah pulih? Orang sudah tahu akan kebenaranku, bahkan Amirul Mukminin juga sudah memahami semua ini. Apakah aku harus mencambuk clan menggunduli Abu Musa, yang baik pada semua orang, yang saleh dan sahabat Rasulullah saw.. Bukankahjuga dia menghukumku atas pertimbangan kemaslahatan penduduk kota? Bukan sekadar untuk mengikuti hawa nafsunya. Rambutku juga sebentar lagi akan tumbuh, orang tetap akan hormat kepadaku karena keberanianku menghadap Amirul.”

Dipandanginya Abu Musa yang tertunduk lesu.

“Detik ini tak ada lagi yang akan menghalangiku untuk membalas sakit hati. Namun, kalau aku memaafkannya, bukankah lebih baik bagiku dan Allah swt. ridha kepadaku?” batinnya kembali.

Berbagai perasaan kembali berkecamuk di dalam hati si Badui. Suasana hening. Si Badui menundukkan kepala, berpikir. Akhirnya, dengan mantap si Badui melangkah mendekati Abu Musa dan dihempaskannya cambuk dari tangannya.

Dengan haru dia berkata, “Ya Allah, aku maafkan, aku maafkan. ”

BACA JUGA: Inilah Sebuah Keadilan… Ahad! Ahad! Ahad!

Hatinya lega dan wajahnya pun menjadi cerah.

Maka suasana pun menjadi ramai, masyarakat bertakbir gembira. Ada yang berloncatan dan saling berpelukan, ada yang menangis gembira, dan banyak yang memuji kelembutan hati si Badui. Abu Musa segera memeluk erat si Badui, mengucapkan terima kasih. Air matanya mengalir basah. Air mata ketulusan hati dan rasa terima kasih kepada si Badui yang pernah dianiayanya. Air mata penyesalan dan tobat kepada Allah swt. []

Sumber: Kisah-kisah teladan untuk keluarga: pengasah kecerdasan spiritual/Karya: Mulyanto/Penerbit: Gema Insani/2004

About Dini Koswarini

Check Also

Teruslah Maju, Wahai Rasulullah

Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

you're currently offline