Foto: QuietYell

Kalau Kau Tidak Takut Akan Api Neraka, Lalu Kenapa? (Bagian 1)

Kota Bashrah yang ramai dengan penduduknya yang beragam, masa itu dipimpin oleh Walikota Abu Musa al-Asyari. Ia mempunyai prajurit yang gagah berani, salah satunya yang cukup luar biasa sebutlah si fulan dari suku Badui, yang terkenal polos, dan terbuka. Si badui ini merupakan prajurit yang disenangi dan disegani kawan, apalagi di tengah medan pertempuran.

BACA JUGA: Hadiah untuk Umar dari Abu Musa

Suatu hari, usai suatu pertempuran, tidak seperti biasanya, si badui langsung menghadap Abu Musa. Entah karena ada dorongan apa, ia datang untuk meminta ghanimah hasil peperangan yang menjadi hak miliknya. Dengan tepat, seperti yang diingatnya, si badui menyebutkan jumlah ghanimah haknya. Jumlah yang diminta nya cukup besar dan membuat kaget Abu Musa.

Setengah percaya dan tidak Abu Musa merenung. Bagaimana membuktikan kebenaran jumlah itu?

Dan, bagaimana kalau seluruh prajurit terprovokasi menuntut hal yang sama?

Akhirnya, Abu Musa memanggil si Badui dan menyerahkan hanya separuh dari yang diminta. Namun, di luar dugaan Abu Musa, si badui marah. Dengan nada kasar, ia mendesak Abu Musa agar memberikan ghanimah haknya sesuai dengan jumlah yang disebutkan.

Maka ketegangan pun tak terhindarkan. Suasana menjadi panas. Abu Musa merasa keputusannya sudah tepat, sementara si Badui merasa yakin dengan hitungannya. Dengan marah ia menolak keputusan sang walikota.

BACA JUGA: Abu Musa: Satu dari Dua Kedudukan

Sebagai walikota yang bertanggung jawab atas ketenteraman kota, Abu Musa khawatir kalau penentangan si Badui akan dicontoh prajurit lain, sehingga sulit diatur. Kalau itu terjadi, celakalah kota Bashrah. Keamanan kota menjadi lemah. Bila jadi, yang akan susah adalah kaum muslimin juga. Hal ini tak boleh terjadi, menurut Abu Musa.

Maka Abu Musa mengambil keputusan untuk menghukum si fulan karena penentangannya atas ketetapan walikota dan sebagai pelajaran bagi prajurit lain agar tidak menentang pemimpin mereka. Hukumannya adalah 20 kali cambuk dan cukur gundul. Hari eksekusi pun tiba. Dengan marah si Badui menerima hukuman itu. la merasa ini adalah ketidakadilan.

Mengapa orang yang menuntut haknya malah harus menerima hukuman 20 kali cambuk dan kepala digundul?

Padahal Islam mengajarkan keadilan dan bukan penghinaan. Islam mengajarkan pemenuhan hak bukan keangkuhan.

Si Badui sungguh merasa terhina. Apalagi banyak prajurit yang mentertawai ketika penggundulan kepala itu dilakukan. Mereka sepertinya memandang lucu kepada dirinya. Panas membara di hati si Badui. Dengan wajah merah padam dipunguti rambutnya di tengah suara tawa prajurit yang lain. Dia bertekad akan melaporkan ketidakadilan ini kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khattab.

Maka pergilah si badui ini, menemui Amirul Mukminin ke Madinah dan langsung masuk ke majelis Umar bin Khattab. Dengan marah dia masuk sambil melempar potongan rambut ke hadapan Umar. Tampak kemarahan yang sangat dari wajah dan gerakan si Badui. Hadirin majelis tampak kaget.

”Betapa beraninya orang ini. Seorang rakyat biasa berbuat tidak sopan di hadapan Umar dengan melemparkan potongan rambut”‘ kata hati mereka.

Mereka cemas dengan apa yang akan terjadi karena mereka mengetahui ketegasan Umar ibnul Khattab. Tapi nampaknya Umar tetap tersenyum ramah kepada si Badui.

Sementara itu, dengan lantang dan marah si Badui berteriak, “Kalau aku tidak takut.”

BACA JUGA: Keadilan di Mata Umar bin Khattab

Sementara Umar langsung menyambutnya dengan bijaksana, “Ya benar, kalau kau tidak takut akan api neraka, lalu kenapa?”

Sumber: Kisah-kisah teladan untuk keluarga: pengasah kecerdasan spiritual/Karya: Mulyanto/Penerbit: Gema Insani/2004

About Dini Koswarini

Check Also

Teruslah Maju, Wahai Rasulullah

Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

you're currently offline