Foto:All-free-download.com

Jika Seluruh Keadaan Berbalik Mendukungnya Apakah Ia Tetap Tawakkal?

Nabi Ibrahim sukses dalam ujian ini, maka datangiah ujian berikutnya. Bagi seorang da’i ujian tidak akan berhenti, kadang kala ujian itu berupa kesusahan atau berupa kenikmatan dunia. Seperti dalam firman Allah,

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” (Qs. al Anbiya [21] : 35)

Ujian selanjutnya adalah menghadapi Namrudz dan bala tentaranya yang akan membakar hidup-hidup Ibrahim, sehingga dakwah yang haq akan ikut hangus terbakar. Namrudz dengan segala kekuatannya ingin memadamkan dakwah kenabian. Tetapi insya Allah! Usaha dakwah ini akan berlangsung terus sampai hari kiamat.

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.” (Qs. at Taubah [9] : 32)

Dengan usaha dakwah, Ibrahim telah ditentang oleh hampir seluruh kalangan manusia, sebab Namrudz adalah raja penguasa dunia pada saat itu. Tetapi seorang da’i tidak terkesan dengan para penentangnya. Tidak terkesan sedikitpun dengan kekuatan pasar, ekonomi, krisis moneter, teknologi, senjata, atau dengan mayoritas. Hanya terkesan kepada perintah Allah.

Walaupun seluruh keadaan tidak mendukung Ibrahim, hal itu tidak membuatnya terkesan, bahkan dengan seluruh kekuatan yang dimiliki Namrudz. Kaumnya, pemerintahnya, bahkan ayah beliau sendiri ikut membenci, tetapi Nabi Ibrahim tetap istiqamah dalam dakwah walau hanya seorang diri.

Berhala-berhala orang musyrik pun dihancurkan dan disisakan satu berhala yang paling besar. Bukan berarti ia mendukung kepentingan bisnis bapaknya yang membuat patung, tetapi sebagai tanda perang dengan kemusyrikan. Bahwa makhluk tidak dapat memberi manfaat. Walaupun patung itu dibuat tersenyum, tetap tidak akan mendatangkan keberkahan, atau patung itu dibuat berwajah galak sampai matanya melotot pun tidak akan mendatangkan kemudharatan.

Beliau lalu dihukum dengan cara dibakar. Api seluas kurang lebih satu hektar dinyalakan. Saking panasnya kobaran api itu, tidak ada yang berani mendekat, bahkan jika ada burung yang terbang di atas kobaran api itu akan hangus terbakar. Ibrahim dilemparkan masuk ke dalam kobaran api dengan Manjaniq (katapel). Tidak ada orang yang mampu menarik katapel itu selain ayahnya sendiri yang sanggup, dan ayahnya sendiri melontarkan Ibrahim ke dalam kobaran api.

Malaikat penjaga hujan menawarkan jasa kepada Ibrahim untuk menyiramkan air, namun beliau menolak. Malaikat penjaga angin juga menawarkan jasa untuk meniup api agar menjadi padam, itupun beliau tolak. Ini adalah ujian bagi Ibrahim ketika seluruh keadaan menentangnya ia tetap tawakkal kepada Allah Swt, sebaliknya ketika seluruh keadaan berbalik mendukungnya apakah ia tetap tawakkal?

Ternyata ketawakkalan beliau tidak bergeser sedikitpun beliau berkata, “Cukuplah Allah sebagai penolongku.”

Setelah Nabi Ibrahim menolak bantuan dari makhluk, Maka Allah Swt.. memerintahkan kepada api, “Hai api jadilah dingin dan jadilah keselamatan atas Ibrahim.” (Qs. al Anbiya [21] : -69)

Allah Swt menyelamatkan Ibrahim dalam kobaran api selama 40 hari, tak sehelai pun rambut di tubuhnya tersentuh oleh api. Bahkan beliau diberi buah-buahan dari surga. Pertolongan Allah Swt akan datang bila seorang da’i telah mampu melalui tahapan-tahapan tawakkal, yaitu:

(1) menafikan seluruh makhluk,

(2) menafikan keadaan ketika ada dua pilihan, dan

(3) Nush-ratullah. []

Sumber: Mudzakarah Iman dan Amal Shaleh/ Penulis:Ust. Musthafa Sayani /Penerbit: Pustaka Ramadhan

About Dini Koswarini

Check Also

Saya Saudara Jauh Muawiyyah

Ada seorang lelaki tak dikenal ingin datang menjumpai Muawiyyah. Di depan rumah, ia berjumpa pertama kali dengan penjaga gerbang.

you're currently offline