Foto: hereisfree

Jeritan Wanita Kesepian

Suatu malam, seperti biasa, Khalifah Umar ibn al-Khathab berkeliling kota Madinah untuk mengetahui keadaan rakyatnya. Ia melewati rumah seorang wanita yang pintunya terkunci.

Terdengar wanita mengucapkan kata-kata, “Malam ini terasa begitu panjang sementara tidak ada teman berkencan. Demi Allah, seandainya bukan karena Allah niscaya tubuh ini telah beranjak dari ranjang. Tetapi, karena takut kepada Allah juga karena malu, itu tak kulakukan Bilakah suamiku kembali?”

BACA JUGA: Syair Duka Cita

Kemudian, wanita itu menarik napas panjang dan berkata lagi, “Tentulah Umar menganggap ringan kesepianku dan kepergian suami dari sisiku!”

Umar lalu mengetuk pintu rumah itu. Tentu saja, si wanita kaget.

“Apakah dia juga mendengar kata-kataku tadi?” Wanita itu berbisik.

Wanita itu bertanya, “Siapa gerangan yang datang ke tempat seorang perempuan kesepian seperti ini?”

Umar meminta agar pintunya dibuka. Tetapi, wanita itu tidak segera membuka pintu, malah berkata, “Demi Allah, seandainya Amirul Mukminin mengetahui, tentu engkau akan dihukum!”

Karena mengetahui sikap mulia dan kehormatannya, Umar akhirnya mengaku, “Bukakan pintunya! Aku Amirul Mukminin.”

“Tidak mungkin, engkau bukanlah Amirul Mukminin,” jawab wanita itu.

Lalu, dengan mengeraskan suara agar wanita itu mengenali suaranya, Umar sekali lagi meminta agar pintunya dibuka. Ia pun akhirnya mengenali suara Umar dan yakin bahwa dialah Umar, kemudian membuka pintu rumahnya.

“Wahai wanita, apa yang kamu katakan tadi?,” tanya Umar kemudian.

Si wanita itu pun mengulangi kata-kata yang ia ucapkan tadi.

“Di manakah suamimu?” tanya Umar lagi, setelah melihat wanita itu sendirian di rumah.

“Suamiku sedang dalam tugas militer.” ujar wanita tersebut seraya menyebutkan tempat bertugas suaminya. Tak lupa, si wanita pun menyebutkan siapa nama suaminya.

BACA JUGA: Ikan Raksasa dalam Tugas Pengintaian

Esoknya, Umar segera mengirim utusan kepada panglima perang yang sedang berperang melawan musuh, agar suami wanita itu diperintahkan menghadap khalifah Umar bin  Khattab. Setelah datang, lelaki itu diperintahkan agar segera pulang menemui keluarganya.

Tentu saja, wanita yang beberapa hari lalu merasa kesepian itu, kini merasa bahagia karena
sang suami sudah pulang ke pangkuannya. Untuk mengetahui perihal batas masa tugas seorang militer meninggalkan keluarganya, Khalifah Umar bertanya kepada putrinya, Hafshah.

“Wahai putriku, berapa lama seorang perempuan bisa bertahan ditinggal suaminya?”

Hafshah menundukkan kepala dan malu. Ia lantas berkata, “Mengapa Ayah tanyakan hal ini kepadaku? Tidakkah Ayah malu sebagai Amirul Mukminin?”

“Kalau bukan karena kepentingan kaum muslim, demi Allah, aku tak akan bertanya. Sesungguhnya, Allah saja tidak malu dalam hal kebenaran,” tandas Umar kepada putrinya.

“Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, dan bulan keempatnya habislah kesabarannya,” jawab Hafshah.

Selanjutnya, Khalifah Umar segera mengambil kebijakan, yakni seorang serdadu paling lama berpisah dengan istri dan keluarganya tidak boleh lebih dari empat bulan.

Umar juga pernah mendengar lelaki jompo yang menangis sambil melantunkan syair sedih karena ditinggal anak semata wayangnya setelah sekian lama. Lalu, Umar pun bertanya kepadanya. Umar kemudian tahu jika anak orang tua itu salah satu tentara kaum muslim.

BACA JUGA: Umar bin Khattab Menjadi Saksi Persahabatan yang Tulus di Bukit Uhud

Apa yang dilakukan Umar selanjutnya?

Ia memanggil anak si orang tua itu untuk pulang menemui ayahnya. Umar pun membuat suatu undang-undang bahwa orang yang mempunyai orang tua yang sudah renta tidak boleh keluar untuk ikut berjihad kecuali atas izin keduanya. []

Sumber: The Great of Two Umars/Karya: Fuad Abdurrahman/Penerbit: Zaman/2013

About Dini Koswarini

Check Also

Sekelumit Baju Besi Ali

Merekahlah senyum Ali, namun ia tak memiliki bukti atas pengakuan tergugatnya itu.

you're currently offline