Foto:Pngtree

Islamnya Dhimad, Penyiar Islam yang Tangguh

Musim haji tahun itu memberi kesempatan kepada Dhimad, seorang tokoh suku Azd, Yaman, yang juga dikenal sebagai “orang pintar” mengobati orang sakit dengan mantra, untuk berkunjung ke Makkah. Kota kelahiran Rasulullah Saw. yang juga kota suci umat Islam ini, seperti diketahui, dalam Al-Quran, juga disebut sebagai “Umm Al-Qura’ (ibu kota negara) dan “Al-Balad Al-Amin” (negeri yang aman dan damai).

Jauh sebelum Islam lahir, Kota Suci ini sudah banyak dikunjungi jamaah haji, di samping merupakan pusat perdagangan. Pada masa Romawi dan Bizantium, di kota ini diperdagangkan barang-barang dari India, Afrika Timur, dan dari Timur Jauh sampai ke negara-negara Mediterania. Hasil-hasil dari Timur dikapalkan ke Aden, Yaman, dari sana diang-kut kafilah unta menyusuri pantai barat menuju Mesir, Damaskus, dan Eropa.

BACA JUGA: Perjuangan Pahlawan Islam Sejati, Majza’ah bin ats-Tsaur (Bagian 1)

Karena Makkah merupakan pos utama lalu lintas kafilah, tak aneh bila kala itu sebagian besar penduduk Kota Suci itu terlibat dalam perdagangan. Kota Suci yang didirikan oleh Ibrahim a.s. dan putranya, a.s., ini secara geografis terletak di lembah yang dikitari gunung-gunung.

Lembah ini sekitar delapan kilometer memanjang dari barat ke timur dengan lebar sekitar 3,2 kilometer. Gunung-gunung yang mengitari kota ini adalah: Jabal Al-Falaj, Jabal Al-Qu’aiqaghan, Jabal La’ala, Jabal Kudad, Jabal Abu Qais, dan Jabal Khandimah.

Ketika telah sampai di Kota Suci itu, Dhimad mendengar celotehan beberapa orang bahwa Muhammad bin ‘Abdullah, cucu seorang tokoh terkemuka kota itu, ‘Abdul Muththalib bin Hasyim, terserang penyakit gila. Kala itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih bermukim di Kota Suci itu dan belum lama menyeru kaumnya untuk beriman kepada Allah Swt.

Mendengar celotehan demikian, Dhimad pun bergumam, “Duh, andaikan saja aku bisa bertemu dengan Muhammad, kiranya Tuhan menyembuhkannya dengan mantraku!”

Ternyata, Dhimad akhirnya bisa bertemu dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Selepas berbagi sapa dengan beliau, Dhimad kemudian berkata, “Hai Muhammad! Aku akan memantrai penyakitmu ini. Maukah engkau kuobati?”

Mendengar kata-kata Dhimad tersebut, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak menanggapinya dan hanya mengucapkan,”Sungguh, segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya dan kami memohon pertolongan kepada-Nya. Barang siapa yang diberi pe tunjuk oleh Allah, maka tiada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tiada yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Dialah satu-satunya Tuhan, tiada sekutu bagi-Nya, dan sungguh Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.”

Mendengar ucapan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, Dhimad sejenak tercenung dan diam merenung. Dia benar-benar terpesona dengan keindahan kata-kata itu dan kedalaman maknanya.

Dan, beberapa saat kemudian, dia berkata lirih kepada beliau, “Hai Muhammad. Ulangilah kata-katamu itu.”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pun mengulanginya tiga kali.

Begitu beliau usai mengucapkan demikian, Dhimad pun berkata, “Wahai Muhammad. Aku pernah mendengar kata-kata para peramal, kata-kata para penyihir, dan kata-kata para penyair. Namun, aku belum pernah mendengar seperti kata-katamu tadi yang laksana lautan tanpa tepi.”

Dhimad kembali merenung. Dan, tak beberapa lama kemudian, dia berkata, “Wahai Muhammad! Ulurkanlah tanganmu kepadaku.Aku mau bersumpah setia kepadamu untuk memeluk Islam.”

Seusai Dhimad mengucapkan sumpah setia kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau lalu berkata, “Kaummu juga?”

BACA JUGA: Bocah Itu Ingin Selalu Sama dengan Rasulullah

“Kaumku juga!” jawab Dhimad.

Setibanya di kampung halamannya, Dhimad pun menjadi seorang penyiar Islam yang tangguh.[]

Sumber: Mutiara Akhlak Rasulullah S.A.W.: 100 Kisah Teladan tentang Iman, Takwa, Sabar, Syukur, Ridha, Tawakal, Ikhlas, Jujur, Doa dan Tobat/Karya: Ahmad Rofi Usmani/Penerbit: Mizania/2006

About Dini Koswarini

Check Also

Kemudian Celakalah Dia! Bagaimanakah Dia Menetapkan?

Maka celakalah dia! bagaimana dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! bagaimanakah dia menetapkan?

you're currently offline