Foto: giphy

Inilah yang Membuat Umar bin Khattab Memekik Pedih dan Perih

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam hari itu sedang menjadi imam shalat isya di Masjid Nabawi, Madinah. Masjid yang satu ini, seperti diketahui, besar jasanya sebagai tempat pertemuan beliau dengan para sahabat untuk membahas pelbagai hal dan memberi pengarahan kepada mereka di Masjid Nabawi, Madinah.

Masjid ini mulai dibangun Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam beberapa lama selepas kehijrahan beliau ke kota tersebut. Pembangunan masjid tersebut tidak berlangsung lama, sekitar dua bulan, dan usai pada tahun pertama hijrah/622 M.

BACA JUGA: Ketika Umar bin Khattab Dipersilahkan Shalat di Tempat Ibadah Agama Lain

Masjid itu sendiri bukanlah masjid yang pertama kali beliau dirikan. Sebelumnya, telah berdiri sebuah masjid di Quba’ yang didirikan Sa’d bin Khaitsumah atas pendapat dan rancangan Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Pembangunan Masjid Quba’ usai dan menjadi tempat shalat tidak lama selepas beliau pindah dari Quba’ ke perumahan Bani Adiy bin Al-Najjar di tengah-tengah Kota Madinah. Luas Masjid Nabawi kala itu cukup luas. Pada awalnya luasnya adalah 70 x 63 kaki.

Setiap bagian beratap pada masjid tersebut, yang menjadi tempat melaksanakan shalat kala itu, disangga dua baris batang-batang pohon kurma. Setiap baris terdiri dari enam batang pohon kurma. Tiga di
sebelah kanan dan tiga di sebelah kiri. Masjid ini, kala masih pada masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, kemudian diperluas, sepuluh hasta pada lebarnya dan 20 kaki pada luasnya.

Sedangkan, jumlah batang-batang kurma ditambah dua di sisi lebarnya, sementara pada atap di sebelah utara dan selatan ditambah satu baris batang pohon kurma. Dengan kata lain, pada tahun-tahun kehidupan beliau, Masjid Nabawi memiliki luas 5.670 kaki persegi. Atau sekitar 3.280,86 meter persegi dengan hitungan satu hasta pada masa beliau sama dengan 58 sentimeter.

Di bagian sebelah tenggara shahn Masjid Nabawi kala itu, beliau mendirikan kamar-kamar yang beliau jadikan tempat tinggal beliau bersama para istri. Semula hanya dua kamar yang dibangun, satu untuk Saudah binti Zam’ah dan yang lain untuk Wisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq.

Selepas beliau menikah lagi, barulah kamar-kamarnya ditambah. Kamar-kamar tersebut tidak memiliki daun-daun pintu. Yang ada hanyalah tirai yang menutup bagian dalam, sehingga tidak tampak dari luar.

Para sahabat yang menjadi makmum kala itu, antara lain `Umar bin Khattab, merasa gelisah melihat keadaan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang menurut mereka sedang sakit.

Buktinya, setiap kali menggerakkan tubuh untuk ruku`, sujud, dan sebagainya, senantiasa kedengaran suara keletak-keletik, seakan tulang belulang beliau longgar semuanya.

Karena itu, selepas mengucapkan salam, `Umar pun memberanikan diri bertanya kepada beliau dengan perasaan khawatir, “Wahai Rasul, apakah engkau sakit?”

“Tidak, `Umar. Aku sehat,” jawab Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam  ramah dan santun.

“Tapi, mengapa setiap kali engkau menggerakkan badan dalam shalat, kami mendengar bunyi tulang belulangmu berkeretakan?” cecar `Umar bin Khattab penuh rasa ingin tahu dan penasaran.

Mula-mula Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak ingin mengungkapkan rahasianya. Namun, lantaran para sahabat tampak sangat khawatir atas keadaan beliau, beliau akhirnya membuka pakaian yang beliau kenakan.

Tampak oleh para sahabat, beliau mengikat perutnya yang kempis dengan selembar kain yang di dalamnya diisi batu-batu kerikil untuk meng-ganjal perut untuk menahan lapar. Dan, batu-batu itulah yang berbunyi keletak-keletik selama beliau menjadi imam shalat.

Melihat hal yang demikian itu, dengan serta-merta `Umar bin Khattab pun memekik pedih dan perih, “Wahai Rasul! Apakah sudah sehina itukah anggapanmu kepada kami? Apakah engkau mengira seandainya engkau mengatakan lapar, kami tidak bersedia memberimu makanan yang paling lezat? Bukankah kami semua hidup dalam kecukupan?”

BACA JUGA: Pria yang Berlaku Laksana Singa Lapar

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pun tersenyum ramah seraya menyahut, “Tidak, `Umar. Tidak. Aku tahu, kalian, para sahabatku, adalah orang-orang yang setia kepadaku. Apalagi sekadar makanan, harta, ataupun nyawa akan kalian serahkan untukku sebagai rasa cinta kalian kepadaku. Tetapi, di mana akan kuletakkan mukaku di hadapan pengadilan Allah kelak di Hari Pembalasan, apabila aku selaku pemimpin justru membi-kin berat dan menjadi beban orang-orang yang kupimpin?” []

Sumber: Pesan Indah dari Makkah & Madinah/Karya: Ahmad Rofi’ Usmani/Penerbit: Mizania/2008

About Dini Koswarini

Check Also

Karena ini Rasulullah Menangis

Akhirnya mereka menunjuk Khalid bin Al-Walid. Yang mana setelah mengambil bendera, dia bertempur dengan hebat dan gagah berani.

you're currently offline