Foto: All-free-download

Imam Malik: Kejujuran Itu Sebenarnya Keberanian (Bagian 1)

“Kebesaran seseorang terletak dalam kejujurannya. Bukan pada keberaniannya. Sebab, keberanian belum tentu sama dengan kejujuran, sedangkan kejujuran itulah sebetulnya keberanian.” Ucapan ini pernah dikemukakan oleh Imam Malik dan dibuktikannya lewat perangai serta perbuatannya.

Sesudah belajar dan memperoleh ilmu dari 900 orang guru yang sangat alim, Imam Malik masih menyatakan, “Sering kali aku tidak tidur semalam suntuk untuk memikirkan jawaban atas suatu persoalan yang diajukan kepadaku.”

BACA JUGA: Rasulullah: Hari Ini Adalah Hari Kebaikan dan Kejujuran

Pernah pada suatu ketika salah seorang muridnya datang dari suatu daerah yang sangat jauh hendak bertanya tentang masalah yang amat penting bagi masyarakat setempat.

Ketika masalah itu diajukan kepada Imam Malik, dengan sejujurnya Imam Malik menjawab, “Aku tidak tahu.”

Bernada kecewa, muridnya itu berkata, “Apakah kepada mereka saya harus mengatakan bahwa Imam Malik tidak tahu?”

“Ya,” jawab Imam Malik, “Katakanlah kepada kaummu bahwa aku tidak tahu.”

Iskandar Zulkarnain yang agung dari Macedonia adalah raja yang gagah perkasa dan keras wataknya. Dia paling benci pada sifat-sifat pengecut. Namun, dia juga suka bertimbang rasa jika melihat kejujuran yang bersih. Rakyat tidak ada yang tahu bahwa Raja mempunyai rahasia yang tidak boleh diketahui oleh siapa pun, kecuali permaisurinya.

Sebab, rahasia itu akan membuat cacat jika diketahui orang lain. Kepala Raja ditumbuhi sepasang tanduk seperti sapi. itulah sebabnya, julukannya adalah Zulkarnain, artinya yang punya dua tanduk. Pada suatu hari, ketika sedang berburu di hutan terpencil, Raja Iskandar terpisah dari para punggawanya.

Dia memang sengaja mencari tempat sepi karena rambutnya gatal dan dia ingin membuka mahkotanya. Agar tidak diketahui bahwa kepalanya bertanduk, maka dia menghindar sendirian tanpa pengawal. Pada waktu membuka mahkotanya dan sedang asyik menggaruk kepalanya yang gatal, seorang pencari kayu lewat di situ dan memergoki rajanya tanpa mahkota.

Tukang kayu itu terbelalak kaget, melihat raja yang gagah itu seperti sapi dengan sepasang tanduk di kepalanya. Tukang kayu itu sam-pai terpekik heran. Raja tersadar dari keasyikannya. Alangkah terperanjat dan marahnya raja melihat ada tukang kayu sedang memandangi tanduk di kepalanya. Segera tukang kayu itu diperintahkan menghadap.

Dengan wajah garang raja menghardik, “Apa yang kaulihat?”

“Saya, saya melihat Tuanku bertanduk,” jawab tukang kayu itu ketakutan.

Dia sudah tahu hukuman apa yang bakal ditimpakan atas dirinya. Namun, dia tidak mau berbohong untuk mengatakan tidak melihat tanduk di kepala raja sebab dia selalu jujur sepanjang hidupnya, betapa pun pahit akibat kejujuran itu.

“Hem, berarti engkau telah mengetahui cacat rajamu. Hanya engkau yang tahu. Para menteriku juga tidak. Jika engkau kubiarkan hidup, pasti cacatku ini akan tersebar ke mana-mana. Jadi terpaksa engkau harus kupancung sekarang juga, agar yang kaulihat tadi terbawa lenyap ke liang kubur.”

BACA JUGA: Malik Bin Dinar Menceraikan Dunia Dengan Talak Tiga

“Ampun, Tuanku, hamba tidak sengaja,” ratap si tukang kayu teringat akan nasib anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Mereka bakal terlunta-lunta jika dia mati.

“Itu bukan urusanku. Rupanya memang ajalmu harus datang hari ini,di sini, oleh tanganku,” jawab raja tegas. []

Sumber: Kisah-Kisah Islam Anti Korupsi /Karya: Nasiruddin Al-Barabbasi/Penerbit: Mizania/2009

About Dini Koswarini

Check Also

Kemudian Celakalah Dia! Bagaimanakah Dia Menetapkan?

Maka celakalah dia! bagaimana dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! bagaimanakah dia menetapkan?

you're currently offline