Foto: Fixabay

Husain: Apakah Kematian Itu?

Pada akhir hayatnya, Husain harus bertempur melawan raja bengis Yazid dan pasukannya. Yazid ketika memerintah mengubah agama Islam yang telah diajarkan dengan susah-payah oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Kini tiba saatnya bagi seseorang untuk bangkit melawannya dan berkata kepadanya bahwa apa yang dilakukannya adalah keliru.

Ia meninggalkan Madinah pada akhir bulan Rajab tahun 60 H dan bertolak ke Makkah untuk mencari tahu bagaimana sikap kaum Muslimin terhadap Yazid.

BACA JUGA: Kehadiran Pribadi yang Agung Membuat Lidah Husain Kelu

Kemudian, masyarakat Iraq terus menulis surat untuk beliau agar datang menolong mereka. Mereka bahkan berkata bahwa mereka akan adukan ke hadapan datuknya jika Husain mengabaikan mereka.

Menanggapi surat mereka, Husain mengutus saudara sepupunya, Muslim ke Kufah untuk melaporkan keadaan di sana. Sementara itu, Husain melanjutkan mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah haji.

Lalu, Yazid mengirim beberapa orang ke Mekkah untuk membunuh. Lantaran tidak ingin berperang di tanah suci, beliau meninggalkan Mekkah saat menuju Kufah. Dalam perjalanan menuju Kufah, Husain dihentikan oleh Hurr, seorang komandan tempur pasukan Yazid.

Pada awal bulan Muharram tahun 61 H. Imam dipaksa untuk mendirikan tenda di tanah Karbala.

Selama dalam perjalanan, Husain disertai oleh keluarganya. Anggota keluarganya itu terdiri dari wanita-wanita dan anak-anak beliau. Ketika tiba saatnya untuk bertempur dengan pasukan Yazid, salah seorang kemenakan yang bernama Qasim, sangat berhasrat untuk ikut bertempur.

Qasim adalah putra Hasan. Dia berusia 12 tahun. Dia senantaisa meminta Husain untuk membiarkan dia pergi dan bertempur melawan musuh-musuh.Islam.

BACA JUGA: Percakapan Terakhir Hasan dan Husain Sebelum Hasan Wafat

Ia berbalik kepadanya, “Putraku, menurutmu apakah kematian itu?”

Ia menjawab, “Mati di jalan Allah adalah lebih manis dari madu!”

Sumber: Bihar al-Anwar/Karya: Allamah Majlisi/Penerbit: Dar al-Kutub al-Islamiyyah

About Dini Koswarini

Check Also

Teruslah Maju, Wahai Rasulullah

Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

you're currently offline